Kumparan Logo

Rekomendasi IDAI untuk Lindungi Anak dari Paparan Kabut Asap Karhutla

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Sejumlah anak melihat kebakaran lahan yang mendekati permukiman warga di Kelurahan Sabaru, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Sabtu (15/8/2026).  Foto: Auliya Rahman/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Sejumlah anak melihat kebakaran lahan yang mendekati permukiman warga di Kelurahan Sabaru, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Sabtu (15/8/2026). Foto: Auliya Rahman/ANTARA FOTO

Kabut asap imbas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Kondisi udara yang memburuk ini bukan sekadar mengganggu pandangan, tetapi menjadi ancaman serius bagi kesehatan saluran pernapasan masyarakat, terutama anak-anak.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan bahwa anak-anak merupakan kelompok yang paling rentan terkena dampak buruk kabut asap. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor biologis:

Frekuensi Napas Lebih Cepat: Anak menghirup udara lebih banyak per kilogram berat badannya dibandingkan orang dewasa.

Organ Paru Masih Berkembang: Saluran pernapasan dan sistem kekebalan tubuh anak belum matang sempurna.

Perilaku Aktif: Anak-anak cenderung lebih banyak bergerak dan beraktivitas fisik, sehingga menghirup lebih banyak polutan saat berada di udara terbuka.

Paparan kabut asap karhutla yang mengandung partikel halus (PM2.5), karbon monoksida, dan senyawa beracun lainnya dapat memicu iritasi mata, batuk, penurunan fungsi paru, hingga serangan Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan perburukan gejala asma pada anak.

Panduan IDAI untuk Orang Tua dalam Menjaga Si Kecil

Petugas berupaya memadamkan kebakaran lahan yang mendekati permukiman warga di Kelurahan Sabaru, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, Sabtu (15/8/2026). Foto: Auliya Rahman/ANTARA FOTO

Untuk mengantisipasi dan meminimalkan dampak buruk kabut asap karhutla terhadap kesehatan si kecil, IDAI membagikan beberapa panduan dan kiat praktis.

1. Batasi Aktivitas di Luar Rumah

Usahakan agar anak tetap berada di dalam ruangan (indoor) selama kualitas udara berada dalam kategori tidak sehat hingga berbahaya. Tunda atau batasi kegiatan bermain outdoor, berolahraga di luar ruangan, dan kegiatan ekstrakurikuler sekolah yang terpapar udara bebas.

2. Ciptakan "Ruang Bersih" di Dalam Rumah

Jaga udara interior tetap aman dengan menutup rapat jendela dan pintu. Jika memungkinkan, gunakan pembersih udara (air purifier) dengan filter HEPA yang sesuai dengan kapasitas ruangan. Pastikan juga untuk tidak menambah pencemaran di dalam rumah, seperti merokok, membakar lilin, atau membakar sampah di sekitar pekarangan.

3. Gunakan Masker Sesuai Usia saat Harus Keluar Rumah

Jika anak terpaksa keluar rumah, pastikan ia mengenakan pakaian yang menutup kulit (lengan panjang, celana panjang) serta masker perlindungan pernapasan yang sesuai dengan ukuran wajah anak (seperti respirator khusus anak/KN95/KF94). Masker kain atau masker yang terpasang longgar kurang efektif dalam menyaring partikel mikroskopis dari asap karhutla.

4. Cukupi Nutrisi dan Cairan

Pastikan asupan cairan si kecil terpenuhi dengan baik untuk membantu menjaga kelembapan tenggorokan dan sistem pernapasan. Berikan makanan bergizi seimbang yang kaya antioksidan (buah dan sayur) untuk memperkuat daya tahan tubuh anak dari dalam.

5. Amati Gejala Dini dan Peringatan Bahaya

Orang tua perlu bertindak peka. Pada bayi dan balita, gangguan pernapasan sering kali tidak ditunjukkan dengan keluhan verbal, melainkan melalui perubahan perilaku seperti anak menjadi rewel, lemas, nafsu makan/minum menurun, atau frekuensi napas yang menjadi lebih cepat dari biasanya.

Kapan Harus Segera ke Dokter?

Seorang anak melihat api yang membakar semak belukar ketika terjadi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pekanbaru, Riau, Sabtu (15/8/2026). Foto: Rony Muharrman/ANTARA FOTO

IDAI mengimbau para orang tua untuk tidak memberikan obat batuk/pilek sembarangan tanpa resep dokter. Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan atau konsultasikan ke dokter spesialis anak apabila menemukan tanda-tanda berikut:

  • Anak tampak sesak napas atau napas berbunyi (mengi/stridor).

  • Dada anak tampak membusung atau terdapat tarikan dinding dada ke dalam saat bernapas.

  • Bibir atau ujung jari tampak kebiruan/pucat.

  • Batuk hebat yang tidak kunjung mereda atau disertai demam tinggi.

  • Anak tampak sangat lemas dan tidak mau minum.

Kesehatan paru-paru anak adalah investasi masa depan mereka. Di tengah situasi kabut asap yang tidak menentu, langkah pencegahan proaktif dari orang tua sangat krusial untuk melindungi si kecil dari paparan racun yang tidak terlihat.