Kumparan Logo

Seberapa Bahaya Abu Vulkanik bagi Kesehatan Anak? Ini Kata Dokter

kumparanMOMverified-green

ยทwaktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Foto udara kondisi Gunung Anak Krakatau, Minggu (6/9/2026). Foto: PVMBG/via REUTERS
zoom-in-whitePerbesar
Foto udara kondisi Gunung Anak Krakatau, Minggu (6/9/2026). Foto: PVMBG/via REUTERS

Abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau perlu diwaspadai, terutama jika anak tinggal atau beraktivitas di wilayah yang terdampak. Meski begitu, orang tua tidak perlu panik.

Dokter Spesialis Anak, dr. Aisya Fikritama, Sp.A, menjelaskan risiko kesehatan akibat paparan abu vulkanik pada setiap anak bisa berbeda. Hal ini tergantung pada jumlah abu di udara, lama paparan, hingga kondisi kesehatan anak sebelumnya.

"Abu vulkanik itu perlu diwaspadai tentunya, tapi orang tua tidak perlu panik. Risiko kesehatan tergantung dari seberapa banyak abu di udara, berapa lama anak terpapar, serta kondisi kesehatan anak sebelumnya," ujar dr. Aisya.

Ilustrasi Anak Pakai Masker. Foto: Shutterstock

Menurutnya, abu vulkanik berbeda dengan debu biasa. Partikelnya sangat halus dan dapat mengandung material mineral maupun kaca vulkanik yang bersifat abrasif atau dapat menyebabkan iritasi.

Abu Vulkanik Bisa Mengiritasi Pernapasan hingga Mata Anak

Saat terhirup, partikel abu vulkanik dapat mengiritasi hidung, tenggorokan, hingga saluran pernapasan anak. Akibatnya, anak bisa mengalami batuk, tenggorokan gatal, pilek, hingga sesak napas.

Abu yang masuk ke mata juga dapat menyebabkan mata merah, berair, perih, atau terasa seperti kemasukan pasir. Sementara itu, paparan pada kulit juga berpotensi menyebabkan iritasi.

Ilustrasi mata anak. Foto: Shutter Stock

Anak dengan riwayat asma atau penyakit paru sebelumnya perlu mendapat perhatian lebih karena paparan partikel di udara dapat memperberat gejalanya. Namun, dr. Aisya menekankan tidak setiap paparan abu vulkanik akan menyebabkan penyakit serius. Prinsipnya, semakin sedikit paparan yang diterima anak, semakin baik.

Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?

1. Kurangi paparan abu: Jika udara terlihat berabu atau ada imbauan pemerintah, sebaiknya anak tetap di dalam rumah.

2. Tutup pintu dan jendela saat abu sedang banyak dan hindari ventilasi yang langsung memasukkan udara dari luar.

3. Hindari membawa anak keluar jika tidak ada kebutuhan mendesak.

4. Gunakan masker dan pelindung mata jika anak harus keluar rumah.

5. Pastikan anak cukup minum dan tetap makan seperti biasa.

6. Simpan makanan dan minuman dalam wadah tertutup agar tidak terpapar abu. Jika sudah kemasukan abu, jangan dikonsumsi.

Warga menunjukkan abu vulkanik akibat erupsi dari Anak Gunung Krakatau di Bandar Lampung, Lampung, Minggu (6/9/2026). Foto: Ardiansyah/ANTARA FOTO

7. Bersihkan abu dengan cara dibasahi terlebih dahulu. Jangan menyapu abu dalam kondisi kering karena dapat membuatnya kembali beterbangan.

8. Tunda olahraga outdoor sampai kondisi udara membaik karena aktivitas fisik membuat anak bernapas lebih cepat dan dapat meningkatkan jumlah partikel yang terhirup.

9. Ikuti informasi dan arahan resmi pemerintah serta BMKG terkait kondisi abu vulkanik di wilayah masing-masing.

kumparan post embed