Sehat dari Tetesan ASI
Tulisan dari Dr Ray Wagiu Basrowi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Jauh sebelum suapan pertama, tubuh kita ternyata sudah menerima makanan pertamanya. Datangnya melalui organ mulia ibu, yaitu payudara, yang menghasilkan cairan alamiah penuh keajaiban, yaitu Air Susu Ibu (ASI).

Dengan begitu kompleks dan lengkapnya komposisi zat dalam ASI, ada satu zat yang memiliki peran dan manfaat yang sangat luar biasa. Namanya human milk oligosaccharides atau HMO.
Penelitian beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa HMO dapat membantu membentuk mikrobiota usus dan berinteraksi dengan sistem kekebalan tubuh bayi. Lebih dari 200 struktur HMO telah dikenali dalam ASI manusia.
Jadi, makanan pertama kita ternyata bukan sekadar membawa kalori. Sebagian komponennya ikut membantu menyiapkan lingkungan tempat tubuh baru belajar hidup.
Tetapi perjalanan itu dimulai dari sesuatu yang jauh lebih sederhana, lewat beberapa tetes cairan kekuningan ketika awal ASI diproduksi, namanya kolostrum, atau ASI pertama.
Jumlahnya mungkin terlihat sedikit. Warnanya mungkin berbeda dari gambaran kita tentang susu. Karena itu, sebagian orang tua bisa khawatir apakah kolostrum cukup atau apakah ASI sudah keluar.
Kolostrum memang merupakan ASI yang diproduksi pada awal kehidupan bayi dan kaya akan berbagai faktor protektif. Badan Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan ibu mendapat dukungan untuk mulai menyusui dalam satu jam pertama setelah kelahiran agar bayi memperoleh manfaat dari awal proses menyusui.
Bayangkan perubahan yang dialami bayi pada hari kelahirannya. Beberapa menit sebelumnya, ia masih berada di dalam rahim. Oksigen dan berbagai zat gizi diperoleh melalui hubungan antara tubuh ibu dan plasenta. Lalu bayi lahir dan dunianya berubah dalam sekejap.
Ususnya mulai menghadapi lingkungan baru dan untuk pertama kalinya, ia mulai memperoleh makanan melalui mulut. Di tengah perubahan sebesar itu, asupan pertamanya ternyata bukan semangkuk makanan, bukan sebotol air, bahkan bukan satu sendok penuh.
Hanya Beberapa Tetes.
Kolostrum membawa zat gizi sekaligus berbagai komponen biologis yang membantu memberikan perlindungan pada bayi pada masa awal kehidupan. Ikatan Dokter Anak Indonesia menyebut kolostrum sebagai first milk yang kaya faktor protektif. Di sinilah ASI pertama berbeda dari sekadar makanan biasa.
Sepanjang hidup, sebagian besar makanan yang kita konsumsi terutama kita pikirkan berdasarkan kandungan energi dan zat gizinya. Ada protein, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral. ASI tentu mengandung zat-zat gizi tersebut.
Tetapi ASI juga membawa berbagai komponen bioaktif yang berinteraksi dengan tubuh bayi. Salah satunya HMO tadi.
HMO merupakan gula kompleks yang terdapat secara alami dalam ASI. Menariknya, sebagian besar HMO tidak dicerna oleh bayi seperti gula biasa untuk menghasilkan energi. HMO justru dapat menjadi makanan bagi mikroba tertentu yang menguntungkan di usus serta berinteraksi dengan sistem imun dan membantu pertahanan terhadap patogen.
Itulah mengapa menyebut ASI sekadar “susu” sebenarnya tidak sepenuhnya menggambarkan kompleksitasnya. ASI adalah makanan, tetapi juga sebuah sistem biologis yang dinamis.
Komposisinya pun tidak selalu sama. Kolostrum pada hari-hari pertama berbeda dari ASI yang diproduksi kemudian. ASI berubah sepanjang masa laktasi mengikuti tahapan kehidupan bayi. Tubuh ibu seolah mempunyai cara sendiri untuk menyesuaikan apa yang diproduksinya seiring perjalanan menyusui.
Dan ini membuat beberapa tetes pertama tadi terasa semakin menakjubkan. Ketika bayi belum mengenal dunia, tubuh ibu tidak hanya memberikan sesuatu untuk mengenyangkan. Tubuh ibu sedang membantu bayi beradaptasi dengan dunia.
Karena itu, WHO dan UNICEF merekomendasikan inisiasi menyusu dalam satu jam pertama setelah kelahiran, ASI eksklusif selama enam bulan pertama, kemudian pemberian MPASI yang aman dan bergizi mulai usia enam bulan sambil melanjutkan menyusui hingga usia dua tahun atau lebih.
Sayangnya, meskipun hampir 90 persen persalinan di Indonesia sudah berlangsung di fasilitas kesehatan, menurut data SKI 2023 yang dikutip WHO Indonesia pada Agustus 2026, hanya sekitar satu dari empat bayi baru lahir yang mulai disusui dalam satu jam pertama kehidupan.
Persoalannya memang tidak selalu tentang apakah kita sudah mempunyai rumah sakit, bidan, dokter, atau tempat persalinan. Kita juga perlu bertanya apa yang terjadi pada satu jam pertama setelah bayi lahir.
Apakah ibu dan bayi mendapat kesempatan melakukan kontak kulit ke kulit ketika kondisi memungkinkan dan sudah mendapat bantuan untuk mulai menyusui? Atau pertanyaan lain yang perlu dijawab adalah: apakah ada tenaga kesehatan yang membantu ketika pelekatan terasa sulit?
WHO menekankan bahwa kontak kulit ke kulit segera setelah lahir membantu proses inisiasi menyusui dan ibu perlu mendapat dukungan praktis untuk memulai serta mengatasi kesulitan menyusui.
Di sinilah cerita tentang kolostrum dan ASI tak hanya cerita tentang ibu, tetapi juga cerita tentang kita semua.
Kita sering bertanya kepada seorang ibu baru apakah ASI-nya sudah keluar atau belum, tetapi jarang sekali kita bertanya apakah sudah ada yang membantu ibunya menyusui? ASI memang diproduksi oleh tubuh ibu, tetapi keberhasilan menyusui tidak hanya ditentukan oleh ibu.
Seorang ibu tentu sangat ingin memberikan ASI, tetapi setiap ibu juga akan mengalami nyeri, kesulitan pelekatan, kelelahan setelah persalinan, masalah kesehatan, atau harus terpisah sementara dari bayinya.
Ada ibu yang harus kembali bekerja dan tidak mempunyai tempat layak untuk memerah ASI, atau ada pula kondisi medis tertentu ketika pemberian ASI membutuhkan pertimbangan dan bantuan tenaga kesehatan profesional.
Itu sebabnya ayah harus membantu, keluarga wajib mendukung, tenaga kesehatan penting hadir dan mendampingi, apalagi rumah sakit dan tempat kerja, semuanya wajib melindungi!
Dan kebijakan negara mewajibkan untuk memfasilitasi ibu menyusui. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia pada 2026 juga menekankan bahwa dukungan menyusui perlu hadir sepanjang perjalanan pelayanan kesehatan, mulai dari masa kehamilan, persalinan, pascapersalinan, imunisasi, pemantauan pertumbuhan, Posyandu, hingga kelompok pendukung ibu.
Artinya, ASI adalah produk biologis seorang ibu, tetapi menyusui adalah sebuah ekosistem. Kalimat ini penting karena pengetahuan tentang manfaat ASI jangan sampai berubah menjadi alat untuk menghakimi perempuan yang mengalami kesulitan menyusui.
Sepanjang hidupnya nanti, seorang anak akan mengenal begitu banyak makanan. Ia akan memegang sendok pertamanya, belajar mengenal nasi, sayuran, buah, telur, ikan, dan makanan kesukaannya. Suatu hari ia bahkan akan memilih sendiri apa yang ingin dimakan.
Tetapi jauh sebelum semua pilihan itu datang, ada masa ketika ia sepenuhnya bergantung pada orang lain. Makanan pertamanya tidak datang di atas piring, tetapi dalam beberapa tetes kolostrum dan ASI pertama.
Karena itu, bagi keluarga yang sedang menunggu kelahiran, langkahnya sederhana: pelajari tentang kolostrum dan ASI sejak masa kehamilan, diskusikan rencana menyusui dengan tenaga kesehatan, dukung kontak kulit ke kulit dan inisiasi menyusu dini ketika kondisi ibu dan bayi memungkinkan, serta jangan ragu meminta bantuan saat menyusui terasa sulit.
Sebab jauh sebelum seorang anak mampu memegang sendok pertamanya, kehidupan sudah memberinya pelajaran sederhana untuk bertumbuh. Dan semuanya dimulai dari beberapa tetes ASI sebelum suapan pertama.

