Kumparan Logo

Vaksin Influenza untuk Anak dan Lansia, Ini Manfaat dan Efek Sampingnya

kumparanMOMverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Media Brief – Perlindungan Flu yang Tepat untuk Keluarga Hebat yang diselenggarakan oleh Kalbe melalui anak usahanya, Kalventis, di Jakarta Pusat, Kamis (23/4). Foto: Eka Nurjanah/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Media Brief – Perlindungan Flu yang Tepat untuk Keluarga Hebat yang diselenggarakan oleh Kalbe melalui anak usahanya, Kalventis, di Jakarta Pusat, Kamis (23/4). Foto: Eka Nurjanah/kumparan

Vaksinasi seringkali masih menimbulkan kekhawatiran di kalangan orang tua, terutama terkait efek samping yang mungkin dialami anak setelah imunisasi. Padahal, sebagian besar reaksi yang muncul justru tergolong ringan dan menjadi tanda bahwa tubuh sedang membentuk perlindungan terhadap penyakit.

Dokter Spesialis Anak, dr. Kanya Ayu, Sp.A, menjelaskan bahwa efek samping vaksin influenza pada dasarnya tidak berat dan mirip dengan vaksin lainnya.

“Tidak berat, sama lah seperti nyeri di tempat-tempat penyuntikan,” kata dr. Kanya dalam acara Media Brief – Perlindungan Flu yang Tepat untuk Keluarga Hebat yang diselenggarakan oleh Kalbe melalui anak usahanya, Kalventis, di Jakarta Pusat, Kamis (23/4).

Media Brief - Perlindungan Flu yang Tepat untuk Keluarga Hebat bersama Kalventis dan Kalbe di Jakarta Pusat, Kamis (23/4/2026). Foto: Eka Nurjanah/kumparan

Reaksi yang umum terjadi antara lain bengkak di area suntikan serta demam ringan, yang bisa muncul pada berbagai jenis vaksin.Ia menegaskan bahwa tidak ada perbedaan bermakna antara vaksin influenza quadrivalent, trivalent, maupun vaksin inaktif lainnya. Dengan demikian, masyarakat tidak perlu khawatir dalam memilih jenis vaksin.

Demam Setelah Vaksin, Normal atau Berbahaya?

Banyak orang tua merasa cemas saat anak mengalami demam setelah vaksinasi. Namun, menurut dr. Kanya, kondisi ini justru normal dan tidak berbahaya.

“Yang perlu diingat bahwa demam vaksin itu bukan sesuatu hal yang membahayakan, itu malah menunjukkan kekebalan tubuhnya sedang berbentuk kekebalan, jadi tidak apa-apa,” ujar dokter yang akrab disapa Momdoc ini.

Ilustrasi anak vaksinasi influenza. Foto: Shutter Stock

Untuk mengurangi ketidaknyamanan, orang tua bisa melakukan beberapa langkah sederhana seperti:

-Mengompres dingin area suntikan

-Memberikan parasetamol jika diperlukan

-Serta menenangkan anak dengan digendong atau lebih sering disusui.

Benarkah Anak Jadi Lebih Sering Flu Setelah Vaksin?

Pertanyaan lain yang sering muncul adalah, apakah anak justru jadi lebih sering flu setelah mendapatkan vaksin influenza?

Menurut dr. Kanya, hal ini perlu diluruskan. Influenza berbeda dengan selesma biasa atau common cold.

Media Brief - Perlindungan Flu yang Tepat untuk Keluarga Hebat bersama Kalventis dan Kalbe di Jakarta Pusat, Kamis (23/4/2026). Foto: Eka Nurjanah/kumparan

“Jadi benar sekali, kan vaksinnya influenza ya. Influenza berbeda dengan Selesma (common cold) ,influenza yang ada tipe serotep A, B, C, D yang berbeda tipe A dan tipe B, dengan gejalanya yang seperti tadi. Tapi kalau common cold, itu lebih ratusan lagi jenisnya dan memang tidak ada vaksin yang melindungi terhadap common cold,” ujarnya.

Artinya, meski anak sudah divaksin influenza, mereka tetap bisa terkena pilek atau batuk ringan yang termasuk dalam kategori common cold. Hal ini terjadi karena virus penyebabnya sangat beragam dan tidak tercakup dalam vaksin influenza.

“Ini adalah dua hal, dua penyakit yang berbeda, dan pasti sangat dipengaruhi oleh daya tahan tubuh si orang yang sedang sakit tersebut,” tambahnya.

Efek pada Lansia Juga Relatif Sama

Ilustrasi vaksinasi lansia. Foto: aslysun/Shuttterstock

Efek samping vaksin influenza pada lansia juga cenderung serupa. Hal ini karena vaksin yang digunakan merupakan vaksin inaktif, sehingga respons imun yang muncul tidak terlalu kuat dibandingkan vaksin aktif.

“serta efek untuk lansia kurang lebih sama, karena prinsipnya ini adalah vaksin inaktif, jadi ‘Tidak seheboh’ kekebalan tubuh yang berbentuk yang terstimulasi, tidak seheboh kalau pemberian vaksinnya aktif,” tutur dr. Kanya.

Meski aman untuk kebanyakan orang, ada beberapa kelompok yang disarankan untuk berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum menerima vaksin, di antaranya:

-Pasien kanker yang sedang menjalani kemoterapi

-Penderita penyakit kronis yang mengonsumsi obat penekan sistem imun

-Individu dengan kondisi daya tahan tubuh rendah

Konsultasi ini penting dilakukan agar proses vaksinasi benar-benar aman, tepat, dan sesuai dengan kondisi kesehatan masing-masing. Dengan berkonsultasi terlebih dahulu, dokter bisa menilai apakah vaksin sudah boleh diberikan saat itu, menyesuaikan dengan riwayat penyakit, obat yang sedang dikonsumsi, serta kondisi daya tahan tubuh.

kumparan post embed