Konten dari Pengguna

Banjir Sudah Surut, Tapi Pekerjaan Belum Selesai

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mone Iye Cornelia Marschiavelli tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ketika banjir surut, perhatian kita biasanya beralih pada rumah yang rusak, jalan yang harus diperbaiki, atau fasilitas umum yang perlu segera dibangun kembali. Namun, ada satu pertanyaan penting yang mungkin jarang terpikirkan: apakah wilayah yang akan kita bangun kembali masih memiliki kondisi dan tingkat risiko yang sama seperti sebelum banjir?

Dokumentasi Bangunan Terdampak Pasca Bencana Banjir Sumatera (Sumber: Tim Survei Direktorat Pemetaan Tematik BIG)
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi Bangunan Terdampak Pasca Bencana Banjir Sumatera (Sumber: Tim Survei Direktorat Pemetaan Tematik BIG)

Bencana bisa mengubah banyak hal. Aliran air dapat berubah, tanah dapat terkikis atau tertimbun material, lingkungan sekitar sungai dapat berubah, bahkan daerah yang sebelumnya dianggap relatif aman mungkin memiliki risiko yang berbeda setelah kejadian banjir.

Karena itu, membangun kembali wilayah terdampak tidak cukup hanya dengan melihat kondisi sebelum bencana. Kita juga perlu memahami apa yang berubah dan apa artinya bagi masyarakat yang akan kembali tinggal dan beraktivitas di sana.

Inilah salah satu alasan Badan Informasi Geospasial (BIG) melakukan pemutakhiran peta bahaya banjir di Sumatera Barat setelah bencana.

Memastikan Data Sesuai Kondisi Lapangan

Sebelum turun ke lapangan, sebenarnya sudah banyak informasi yang dapat digunakan untuk melihat wilayah terdampak. Citra satelit, peta, serta berbagai data dari pemerintah dapat memberikan gambaran awal mengenai daerah yang terkena banjir.

Namun, melihat suatu wilayah dari data tentu berbeda dengan melihat langsung apa yang terjadi di sana.

Di lapangan, tim dapat menemukan bekas ketinggian air pada rumah, melihat perubahan kondisi lingkungan, mengamati infrastruktur yang terdampak, sekaligus mendengar cerita masyarakat tentang bagaimana banjir datang dan seberapa tinggi air menggenangi rumah mereka.

High-Water Mark (HWM) Profiling pada Bangunan Bekas Banjir (Sumber: Tim Survei Direktorat Pemetaan Tematik BIG)

Informasi semacam ini mungkin terlihat sederhana, tetapi justru penting untuk memastikan bahwa gambaran yang terlihat dari data benar-benar sesuai dengan kenyataan.

Karena itu, kegiatan lapangan bukan sekadar datang untuk melihat lokasi setelah banjir. Tujuannya adalah memastikan informasi yang nantinya digunakan pemerintah benar-benar menggambarkan kondisi terbaru.

Mengapa Ini Penting bagi Kita?

Peta mungkin terdengar seperti sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Padahal, informasi tentang suatu wilayah dapat berpengaruh pada banyak keputusan yang sangat dekat dengan masyarakat.

Di mana sebaiknya rumah dibangun kembali? Apakah suatu kawasan masih aman untuk permukiman? Infrastruktur apa yang perlu diperkuat? Wilayah mana yang perlu mendapat perhatian lebih besar jika hujan ekstrem kembali terjadi?

Keputusan-keputusan seperti itu membutuhkan informasi yang tepat.

Itulah sebabnya pemetaan setelah bencana seharusnya tidak hanya dipandang sebagai upaya mencatat daerah mana yang pernah terkena banjir. Informasi yang diperoleh dapat menjadi bekal untuk memahami risiko ke depan.

Pemerintah Provinsi Sumatera Barat sendiri melihat informasi geospasial sebagai kebutuhan penting dalam penanggulangan bencana, bukan hanya setelah bencana terjadi, tetapi juga untuk perencanaan sebelum dan saat bencana.

Jangan Hanya Membangun Kembali, tetapi Membangun Lebih Aman

Ada pelajaran penting dari setiap bencana: pemulihan seharusnya tidak sekadar mengembalikan semuanya seperti semula.

Kalau sebuah wilayah pernah terkena banjir, kita tentu tidak ingin rumah, jalan, sekolah, atau fasilitas lainnya dibangun kembali tanpa mempertimbangkan kemungkinan kejadian serupa pada masa mendatang.

Di sinilah informasi mengenai kondisi wilayah menjadi penting.

Observasi Lapangan (Identifikasi Kesesuaian Model Banjir) (Sumber: Tim Survei Direktorat Pemetaan Tematik BIG)

Dengan mengetahui daerah yang memiliki risiko lebih tinggi, perubahan yang terjadi setelah banjir, dan kondisi nyata di lapangan, pemerintah memiliki dasar yang lebih baik untuk menentukan langkah pemulihan dan pembangunan.

Pada akhirnya, pekerjaan BIG di Sumatera Barat bukan semata-mata soal membuat peta baru.

Yang lebih penting adalah memastikan bahwa ketika pemerintah harus mengambil keputusan tentang sebuah wilayah—mulai dari pemulihan pascabencana hingga perencanaan pembangunan—keputusan tersebut dibuat berdasarkan gambaran kondisi yang benar.

Karena mitigasi bencana bukan hanya tentang bagaimana kita bersiap menghadapi banjir berikutnya. Mitigasi juga tentang bagaimana kita belajar dari banjir yang sudah terjadi.

Bencana mungkin tidak selalu dapat kita hindari. Tetapi dengan memahami wilayah dan risikonya dengan lebih baik, kita dapat berusaha agar dampaknya tidak selalu sebesar sebelumnya.