Konten dari Pengguna

Informasi Geospasial dan Peran BIG di Dunia: Bukan Sekadar Peta

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mone Iye Cornelia Marschiavelli tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Suasana United Nations Committee of Experts on Global Geospatial Information Management (UN-GGIM) 5–7 Agustus 2026 (sumber: dokumentasi pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Suasana United Nations Committee of Experts on Global Geospatial Information Management (UN-GGIM) 5–7 Agustus 2026 (sumber: dokumentasi pribadi)

Menjawab “Di Mana?” dengan Informasi Geospasial

Informasi geospasial tidak hanya sekadar peta. Ia hadir dalam banyak keputusan yang dekat dengan kehidupan kita. Ketika sebuah sekolah dibangun di lokasi tertentu, jalan diperlebar, kawasan rawan bencana dipetakan, atau wilayah pesisir ditata, ada satu pertanyaan sederhana yang harus dijawab terlebih dahulu: di mana?

Pertanyaan “di mana” terdengar sederhana, tetapi jawabannya membutuhkan informasi yang tepat dan akurat. Di situlah peta dan informasi geospasial bekerja. Bukan sekadar menunjukkan lokasi, tetapi membantu kita memahami apa yang ada di suatu tempat, apa yang terjadi di sana, dan keputusan apa yang paling tepat untuk diambil.

Pertanyaan sederhana tentang “di mana” ternyata tidak hanya penting di tingkat nasional. Di tingkat global, bagaimana negara mengelola, mengintegrasikan, dan memanfaatkan informasi geospasial juga menjadi perhatian penting. Hal inilah yang membawa Indonesia, melalui Badan Informasi Geospasial (BIG), ke Markas Besar Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada 3–7 Agustus 2026.

Indonesia hadir dalam rangkaian pertemuan United Nations Committee of Experts on Global Geospatial Information Management (UN-GGIM) dan High-level Group on the Integrated Geospatial Information Framework (HLG-IGIF). Bagi Indonesia, forum ini bukan sekadar ruang untuk mendengarkan perkembangan negara lain. Di forum inilah Indonesia juga membawa pengalaman, kebutuhan, dan perspektifnya tentang bagaimana informasi geospasial dapat mendukung pembangunan.

Di ruang pertemuan PBB itu, pembahasan tidak lagi sekadar tentang bagaimana membuat peta yang lebih baik. Percakapan berkembang pada bagaimana negara membangun ekosistem informasi geospasial yang dapat digunakan bersama, bagaimana data dari berbagai sumber dapat saling terhubung, serta bagaimana teknologi baru seperti kecerdasan artifisial dapat dimanfaatkan tanpa mengabaikan kualitas dan tata kelola data.

Informasi Geospasial: Tidak Lagi Berdiri Sendiri

Dalam pertemuan tersebut, pembahasan tentang geospasial berkembang jauh melampaui soal membuat peta.

Bayangkan pemerintah ingin menentukan lokasi sekolah baru. Peta saja tentu belum cukup. Perlu diketahui pula di mana penduduk tinggal, bagaimana akses jalannya, seperti apa kondisi wilayahnya, dan apakah lokasi tersebut memiliki risiko tertentu. Informasi dari berbagai sumber perlu saling terhubung agar keputusan yang diambil benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan.

Di sinilah informasi geospasial menjadi penting. Ia membantu menempatkan berbagai informasi pada konteks ruang yang sama, sehingga pemerintah tidak melihat sebuah persoalan secara terpisah-pisah. Data statistik, data administrasi, informasi pertanahan, kelautan, lingkungan, hingga data kebencanaan dapat saling melengkapi untuk memberikan gambaran yang lebih utuh tentang suatu wilayah.

Bagi Indonesia, pembahasan tersebut bukan sesuatu yang jauh dari kebutuhan nasional. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki wilayah darat, pesisir, dan laut yang luas dengan karakteristik yang beragam. Data mengenai berbagai wilayah tersebut perlu dapat digunakan secara bersama dan saling terhubung untuk mendukung tata ruang, pengelolaan lingkungan, penanggulangan bencana, keselamatan pelayaran hingga pengembangan ekonomi biru.

Karena itu, pekerjaan BIG tidak berhenti pada menyediakan peta. Tantangannya adalah memastikan informasi geospasial yang tersedia akurat, mutakhir, terpercaya, dan dapat digunakan bersama.

Lebih jauh, Indonesia juga memiliki pengalaman dalam membangun ekosistem informasi geospasial nasional yang dapat menjadi bagian dari pembelajaran bersama di tingkat global. Kehadiran Indonesia di UN-GGIM menjadi kesempatan untuk berbagi perspektif sekaligus memahami bagaimana negara lain menghadapi tantangan yang serupa dalam mengelola informasi geospasial di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat.

Dari New York, Kembali ke Indonesia

Perkembangan teknologi membuat tantangan ini semakin besar sekaligus membuka peluang baru. Kecerdasan artifisial (AI), komputasi awan, sensor, dan berbagai teknologi digital kini semakin berkembang. Namun, teknologi secanggih apa pun tetap membutuhkan data yang berkualitas.

AI, misalnya, membutuhkan data yang dapat dipercaya agar menghasilkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Karena itu, isu mengenai kualitas data, keamanan data, asal-usul data, interoperabilitas, hingga kepastian hukum menjadi semakin penting.

Hal tersebut sejalan dengan arah transformasi informasi geospasial Indonesia melalui Rencana Induk Penyelenggaraan Informasi Geospasial (RIPIG) 2025–2050. Ke depan, orientasinya bukan hanya bagaimana menyediakan data, tetapi bagaimana data tersebut benar-benar dipakai dan memberikan dampak bagi pembangunan.

Delegasi Indonesia menyampaikan intervensi dalam United Nations Committee of Experts on Global Geospatial Information Management (UN-GGIM), 5–7 Agustus 2026 (sumber: dokumentasi pribadi)

Dalam forum tersebut, Indonesia tidak hanya mengikuti pembahasan, tetapi juga menyampaikan perspektif dan pengalaman nasional mengenai pentingnya informasi geospasial yang berkualitas, dapat dipertukarkan, dan dimanfaatkan lintas sektor. Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, kemampuan menghubungkan informasi mengenai daratan, pesisir, laut, lingkungan, kependudukan, dan berbagai aspek lainnya menjadi bagian penting dalam mendukung pembangunan.

Apa yang dibahas di New York pada akhirnya tidak berhenti sebagai wacana internasional. Bagi Indonesia, berbagai perkembangan tersebut menjadi masukan untuk terus memperkuat penyelenggaraan informasi geospasial nasional, mulai dari kualitas dan interoperabilitas data, pemanfaatan teknologi, hingga penguatan tata kelola.

Karena itu, kehadiran BIG di forum UN-GGIM memiliki makna lebih besar dari sekadar agenda internasional. Indonesia datang membawa pengalaman dan kepentingannya ke forum global, berdialog dengan negara dan pemangku kepentingan lainnya, sekaligus membawa pulang perspektif dan perkembangan terbaru yang dapat memperkuat penyelenggaraan informasi geospasial di dalam negeri.

Pada akhirnya, masyarakat mungkin tidak selalu melihat proses di balik sebuah peta. Namun, ketika peta dan informasi geospasial dikelola dengan baik, manfaatnya dapat hadir dalam banyak keputusan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Sebab, pembangunan yang tepat sering kali berawal dari kemampuan menjawab satu pertanyaan sederhana: kita sedang membangun apa, dan di mana?