kumparan
KONTEN PENGGUNA
28 Januari 2019 18:19

Kekayaannya Rp 120 Triliun, Ini Dia Kerajaan Bisnis yang Diwariskan Eka Tjipta

Meninggal di usia 98 tahun, lelaki yang satu ini mungkin gak terlalu Anda kenal. Ya, Eka Tjipta Widjaja lebih dikenal di kalangan pebisnis sebagai founder Sinar Mas, salah satu perusahaan terbesar di Indonesia.
ADVERTISEMENT
Eka tutup usia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta, pada Sabtu 26 Januari 2019 jam 19.43 WIB. Lelaki bernama kecil Oei Ek Tjhong itu adalah pengusaha dan pendiri Sinar Mas sekaligus Eka Tjipta Foundation.
Eka adalah orang terkaya pertama di Indonesia menurut majalah Globe Asia edisi bulan Desember 2012 silam. Kekayaannya ditaksir saat itu mencapai US$ 8,7 miliar.
Sementara itu, dikutip dari Forbes, pengusaha yang lahir di Quanzhou, Fujian, Tiongkok, 27 Februari 1921 itu duduk di peringkat ke-3 orang terkaya di Indonesia. Total kekayaan Eka adalah US$ 8 miliar pada tahun 2011.
Beberapa tahun berselang, atau tepatnya pada tahun 2018, kekayaan Eka mencapai US$ 8,6 miliar atau setara Rp 120,4 triliun (kurs Rp 14 ribu).
ADVERTISEMENT
Siapakah Eka Tjipta? Lalu, bagaimana kisah perjalanannya mendirikan dan mengelola usahanya sampai jadi salah satu lelaki terkaya di Indonesia? Simak pemaparannya, seperti dilansir Sindonews jaringan MoneySmart berikut:
Terlahir dari keluarga miskin
Eka Tjipta Widjaja (Forbes)
Kini, Eka adalah salah satu orang terkaya di Indonesia. Tapi, siapa sangka Eka bukanlah dari keluarga berada. Eka Tjipta terlahir di tengah sebuah keluarga miskin di kawasan Fujian, Republik Rakyat Tiongkok.
Dikutip dari www.biografiku.com, dengan tekad yang sangat kuat ingin mengubah hidup keluarganya, Eka lantas memutuskan merantau keluar dari kampung halamannya di Quanzhou, China.
ADVERTISEMENT
Eka pindah ke Indonesia ketika berusia 9 tahun. Di usianya yang masih sangat muda, Eka bersama sang bunda migrasi ke Makassar, Sulawesi Selatan, pada tahun 1931. Saat itu, dia menyusul ayahnya yang terlebih dahulu tiba dan mempunyai toko kecil.
Tiba di Makassar sekitar tahun 1932, Eka justru harus berjuang menutupi utang US$ 150 ke rentenir untuk membiayai perjalanannya ke Indonesia.
Lulusan SD yang berjuang membangun kerajaan bisnis
Eka diketahui hanya lulusan sekolah dasar (SD) di Makassar. Padalnya, kehidupan dia di masa lalunya itu serbakekurangan. Sehingga, demi membantu orangtuanya menyelesaikan utang ke rentenir, dia harus mengorbankan pendidikannya.
Tak bisa melanjutkan pendidikan setelah tamat SD karena kesulitan ekonomi, Eka kecil pun mulai jualan.
ADVERTISEMENT
Eka setiap harinya keliling Kota Makassar menggunakan sepeda menjajakan permen, biskuit, serta aneka barang dagangan toko ayahnya dari pintu ke pintu. Ketekunannya akhirnya berbuah manis, usaha yang dirintis mulai menunjukkan hasil.
Di usia 15 tahun, Eka semakin matang berbisnis. Dia sudah mampu mendapatkan untung Rp20. Jumlah yang besar pada masa itu, pasalnya harga beras masih 3-4 sen per kilogram. Ketika usahanya berkembang, dia pun mulai membeli becak.
Eka di masa penjajahan Jepang menjajaki usaha menjual makanan dan minuman kepada tentara Jepang.
Dia mulai menjual terigu. Semula hanya Rp50 per karung lalu ia menaikkan menjadi Rp60 dan akhirnya Rp150. Dia juga menjual semen seharga Rp20 per karung kemudian menaikkannya menjadi Rp40.
ADVERTISEMENT
Eka juga sempat menjadi kontraktor kuburan. Berhenti sebagai kontraktor kuburan, dia lantas berdagang kopra. Dia berlayar berhari-hari ke Selayar (Selatan Sulsel) dan ke sentra-sentra kopra lainnya untuk memperoleh kopra murah.
Namun, setelah mendapat laba besar, Eka malah nyaris mengalami kebangkrutan. Karena Jepang mengeluarkan peraturan bahwa jual-beli minyak kelapa dikuasai Mitsubishi yang memberi Rp1,80 per kaleng. Padahal di pasaran harga per kaleng Rp6.
Setelah mengalami rugi besar, Eka lalu berdagang teng-teng (makanan khas Makassar dari gula merah dan kacang tanah), wijen, kembang gula.
Namun, Eka kembali harus mengalami rugi besar dan berutang. Dia bahkan harus menjual mobil dan perhiasan keluarga untuk menutupi utang.
ADVERTISEMENT
Kerajaan bisnis dimulai dari kelapa sawit
(Image: Maxmanroe)
Bisnis Eka mulai bersinar ketika memutuskan membeli sebidang perkebunan kelapa sawit dengan luas lahan 10 ribu hektar yang berlokasi di Riau, pada tahun 1980.
Untuk menopang usaha perkebunan kelapa sawitnya Eka juga membeli mesin dan pabrik yang bisa memuat hingga 60 ribu ton kelapa sawit.
Eka lalu membeli perkebunan sekaligus pabrik teh dengan luas mencapai 1.000 hektar, pada tahun 1981. Dia juga menyiapkan pabrik dengan kapasitas 20 ribu ton teh.
Merambah bisnis bank dan kertas
Tak mau berpuas diri akan kesuksesannya, Eka lantas merambah bisnis bank. Dia kemudian membeli Bank Internasional Indonesia (BII) dengan aset mencapai Rp13 miliar. Melalui tangan dinginnya, BII kini memiliki asetnya mencapai Rp9,2 triliun.
ADVERTISEMENT
Setelah Eka lantas merambah ke bisnis kertas. Dia membeli PT Indah Kiat yang bisa memproduksi hingga 700 ribu pulp per tahun dan bisa memproduksi kertas hingga 650 ribu per tahun.
Bisnis properti
Sukses merambah bidang perbankan dan kertas, Eka kemudian berbisnis properti dengan membangun ITC Mangga Dua, Green View apartemen yang berada di Roxy, Ambassador di Kuningan, dan sejumlah properti lainnya.
Jasa Finansial
Eka Tjipta Widjaja
Sinar Mas melalui PT Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA) menyediakan berbagai layanan keuangan seperti asuransi jiwa dan non-jiwa, sekuritas, perbankan dan layanan pasar modal. Pelanggannya bervariasi mulai dari pribadi hingga korporasi.
ADVERTISEMENT
Komunikasi dan Teknologi
Melalui Smartfren Telecom Tbk, Sinar Mas juga merambah layanan telekomunikasi di dalam negeri dan tercatat sebagai operator telekomunikasi pertama di Indonesia yang menyediakan 4G LTE.
Teknologi 4G LTE generasi terbaru ini, EV-DO (Enhanced Voice – Date Optimized), memberikan pelanggan through-put terbaik dalam hal kualitas dan kuantitas suara dan transfer data.
Energi dan Infrastruktur
Pengusaha, Eka Tjipta Widjaja, di kantornya, Jakarta, 1991. [TEMPO/ Robin Ong; 07D/233/1991; 20040724]
Lewat PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSS), Sinar Mas melakukan kegiatan bisnis pembangkit listrik dan uap, penambangan dan perdagangan batu bara, perdagangan grosir, multimedia dan infrastruktur.
DSS memulai operasi komersialnya pada 1 Januari 1998 dengan mengoperasikan empat pembangkit listrik di pulau Jawa.
ADVERTISEMENT
Jadi orang terkaya di Indonesia
Berkat bisnisnya yang moncer, harta kekayaan Eka, oleh Forbes disebut menyentuh angka US$ 8,6 miliar. Jika dirupiahkan, angka tersebut setara dengan Rp 120,4 triliun (mengacu pada kurs Rp 14 ribu) pada tahun 2018.
Kini, kekayaan miliarder tertua di Indonesia ini dikabarkan menyusut US$ 500 juta. Walaupun begitu, Eka masih menempati rangking tiga orang terkaya di tanah air.
Demikianlah cerita perjalanan karier dan kesuksesan Eka Tjipta Widjaja. Berkat ketekunan, bisnisnya berkembang menjadi besar, menghasilkan kekayaan yang hingga kini bisa dinikmati oleh anak cucunya
Tulisan ini adalah kiriman dari user, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan