Sindir Walau Tak Beraksi, Sifat Hipokrisi Dalam Media Sosial

Saya merupakan siswa dari SMA Citra Berkat
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Monica Agustriany tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam era digitalisasi sekarang, berbagai konten dibagi dan diterima di internet. Konten yang diupload ini datang dalam banyak bentuk, seperti video, foto, audio, dll. Dengan aneka macam konten yang bisa ditonton, opini masyarakat mengenai konten-konten tersebut juga bervariasi. Suka dan benci sudah biasa dilihat sebagai tanggapan sebuah konten.
Kenapa Konten Positif Tidak Selalu Diterima dengan Baik?
Dalam media sosial, banyak bentuk konten positif yang diupload, sehingga netizen sering berkomentar bahwa konten-konten tersebut membangun rasa kemanusiaan. Konten tersebut bisa meliputi konten berdana, membantu, sukarela, dll. Dulu, konten-konten ini dilihat sebagai hal positif yang perlu dicontohkan orang-orang dalam kehidupan sehari-hari. Tetapi sekarang, konten tersebut sering menerima kebencian netizen. Kenapa itu?
Pasti kalian semua sudah kenal mengenai istilah hoax dan misinformasi karena kedua hal itu sudah sering keluar dan terjadi di media online. Oleh sebab itu, rasa ketidakpercayaan netizen terhadap konten sudah biasa. Ini merupakan salah satu alasan utama kenapa banyak netizen membenci konten positif yang meliputi hal seperti membagi.
Apakah Konten Perlu Diupload?
Sebelum topik tersebut dibahas, mari simak beberapa contoh tanggapan negatif netizen terhadap berbagai bentuk konten.
Hal yang sudah sering dikomentari netizen dalam konten membantu atau membagi meliputi :
Kenapa konten harus diupload? Padahal, kebaikan bisa dilakukan off-screen kan?
Ini dibuat untuk cari perhatian doang!
Bisa gak matiin hpnya dan bantu aja?
Hal yang sudah sering dikomentari netizen dalam konten lain (Contoh: Mukbang, melukis, dll) meliputi :
Makanan itu bisa dibagi ke orang yang lebih membutuhkan!
Kalau punya duit kenapa gak didonasi untuk orang yang kebih membutuhkan?
Ini merupakan beberapa contoh sindiran yang sering menjadi tanggapan netizen terhadap sebuah konten. Tentu tidak semua netizen seperti ini, tetapi tanggapan seperti ini sudah cukup sering muncul di media sosial.
Serba Semua Konten Menjadi Bahan Kritik
Dari contoh diatas, bisa disimpulkan bahwa konten yang berhubungan dengan berdonasi atau membagi akan dikritik karena menunjukkan aktivitas kebaikannya di media online sebagai bentuk pencarian perhatian. Selain itu, konten yang tidak berhubungan dengan berdonasi atau membagi juga dapat dikritik karena para viewers tidak dapat melihat konten kreator melakukan aktivitas tersebut. Jika semua bentuk konten dipandang salah, apakah ada jalan tengah?
Hipokrisi Dalam Media Sosial
Kebebasan berpendapat dalam media sosial akan selalu memiliki dampak positif dan negatifnya. Dari dampak positif, kita dapat melihat budaya orang lain atau melihat berbagai konten menghiburkan. Namun, dampak negatifnya juga cukup signifikan dimana netizen sekarang bisa mengupload "hate comment" secara bebas.
Netizen sering sekali sindir sebuah konten kreator karena berbagai alasan, bisa dari sikap, aksi, lingkungan, atau harta milik konten kreator itu sendiri. Sindiran tersebut sering berupa ketidaksukaan penanggap terhadap sebuah konten atau 'saran' yang berupa sindiran terhadap konten kreator itu sendiri. Tapi, sebenarnya "saran" tersebut diikuti dan dilakukan penyarannya tidak? Berkata lebih mudah dari beraksi. Berasumsi lebih mudah dari mengerti. Itulah hal yang sudah sering terjadi di masyarakat kini.
Menyindir seorang konten kreator di internet karena mengupload konten positif dan dituduh 'mencari perhatian'. Benar, konten kreator tersebut bisa saja melakukan hal tersebut untuk perhatian, tetapi kebaikan masih dilakukan dan pesannya masih dapat diterima. Konten tersebut dapat digunakan untuk menginspirasi orang lain untuk melakukan kebaikan yang sama. Konten tersebut juga bisa saja diupload untuk mengumpulkan dana demi kebaikan lain. Alasannya tidak diketahui orang lain selain orang yang terlibat. Jadi apa hak kami sebagai netizen untuk berasumsi buruk atau mengkritik orang lain tanpa mengetahui alasannya.
