Budaya Anti Malas Masyarakat Korea Selatan: Ppali – Ppali/빨리빨리 (Cepat–Cepat!)

Mahasiswa Aktif Universitas Negeri Jakarta, Program Studi Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan 2017
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Monica Puspitasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sering kali ketika mempunyai suatu pekerjaan atau tugas kita merasa malas untuk mengerjakannya, dan akhirnya kita menunda sampai kita kembali memiliki mood untuk mengerjakan pekerjaan tersebut. Menunda merupakan suatu kebiasaan yang sering kita lakukan, berpikir bahwa masih ada banyak waktu untuk mengerjakan di hari esok.
Namun sebenarnya menunda suatu pekerjaan atau aktivitas merupakan hal yang tidak baik dan pada akhirnya jika sudah mendekati deadline kita akan mengerjakannya secara terburu – buru dan dapat mempengaruhi hasil dari pekerjaan yang kita lakukan.
Konsekuensi lainnya jika kita selalu menunda yaitu akan lebih terasa lelah mengerjakan sesuatu karena tidak di cicil saat kita punya banyak waktu untuk mengerjakannya, belum lagi saat kita mengerjakan hal terus mepet dengan deadline ada hal – hal yang tidak diinginkan bisa terjadi.
Maka melalui persoalan tersebut bagaimana kita harus merevolusi mental kita agar tidak suka menunda suatu pekerjaan. Bergerak cepat terhadap pekerjaan yang diberikan, tidak bersikap santai dan menganggap masih banyak waktu yang tersedia.
Waktu terus berjalan ketika kita bersikap acuh terhadap pekerjaan yang kita miliki. Seperti kutipan yang sering kita dengar “Time Is Money” bahwa waktu adalah uang, kutipan tersebut bermakna bahwa kita harus menghargai waktu bagaikan uang, sehingga kita tidak akan membuang – buang waktu yang kita punya begitu saja. Kita perlu menghargai setiap waktu yang kita miliki karena waktu tidak bisa di putar kembali ke masa lalu, waktu terus bergerak ke depan.
Pendidikan generasi muda (PGM) mungkin merupakan hal yang baru kita dengar atau masih terasa asing, namun pendidikan generasi muda (PGM) merupakan pendidikan karakter yang sama diberikan saat kita di sekolah. Namun sasaran pada pendidikan ini menyasar umur dari 15 – 35 tahun, di mana umur – umur tersebut adalah usia produktif seseorang dalam bekerja maupun kuliah.
Pada saat memasuki usia dewasa kita tentu juga membutuhkan pendidikan karakter, tidak hanya anak – anak usia sekolah yang perlu di bina karakternya namun kita sebagai usia dewasa juga membutuhkannya. Pendidikan generasi muda (PGM) tidak hanya berfokus pada pendidikan dengan nilai – nilai lokal Indonesia.
Namun kita juga bisa menilik nilai – nilai positif dari budaya luar negara – negara maju yang sudah berhasil menanamkan nilai – nilai yang mereka miliki kepada generasi mudanya. Salah satu negara maju yang akan di bahas pada tulisan ini adalah Korea Selatan.
Saat ini negara tersebut mendominasi dunia hiburan, musik serta teknologi yang mereka miliki cukup mumpuni salah satunya internet dengan kecepatan 5G yang sudah mereka gunakan. Korea Selatan dan Indonesia memiliki tahun kemerdekaan yang tidak begitu jauh, namun mereka bisa keluar dari kemiskinan dan menjadi negara maju bersanding dengan Jepang dan China. Apa nilai – nilai lokal yang mereka miliki sehingga bisa menjadi negara maju dalam waktu yang cukup cepat.
Korea selatan atau yang terkenal dengan sebutan “negeri ginseng” merupakan negara yang terletak di semenanjung Korea. Sebagai bagian dari negara – negara di kawasan asia, korea menjadi salah satu negara maju bersanding dengan Jepang dan China. Korea selatan adalah negara yang sukses memperkenalkan budaya di dunia internasional atas kesuksesannya dalam dunia hiburan dan musik.
Hal ini terbukti lewat K – POP yaitu yang digandrungi oleh para remaja maupun kalangan dewasa, musik K – POP saat ini telah berhasil merajai chart billboard hal tersebut sungguh prestasi yang luar biasa di mana musik dari kawasan asia bisa mendominasi chart lagu western.
Sedangkan melalui dunia hiburan didominasi oleh drama korea, rating yang mereka miliki sangat bagus dan streaming internasional melalui aplikasi juga tidak kalah. Dari drama korea tersebut banyak orang yang ingin mempelajari budaya korea dari bahasa, cara berpakaian sama keinginan mengunjungi Korea Selatan.
Selain dunia hiburan dan musik korea selatan juga merupakan negara dengan perusahaan besar seperti Samsung, LG, Hyundai, Lotte, dan lainnya.
Hal tersebut membuktikan bahwa korea merupakan negara yang maju dengan waktu yang cukup singkat padahal dulunya merupakan negara miskin, namun hal tersebut juga di dukung oleh pemerintah. Pemerintahan korea selatan membuat kebijakan ekonomi yang cukup baik sehingga dapat memajukan perekonomian secara cepat dan mendukung industri hiburan dan musik sehingga menguasai pasar mancanegara.
Tentu di balik kesuksesan yang mereka miliki ada karakteristik masyarakat sebagai penggerak dalam perekonomian. Salah satu budaya yang terkenal di korea selatan dan sampai saat ini telah mendarah daging dalam kehidupan sehari – hari adalah Ppali – ppali.
Ppali – ppali atau dalam bahasa inggris Hurry - hurry atau dalam bahasa Indonesia berati cepat – cepat / buru – buru merupakan istilah yang mereka gunakan untuk melakukan suatu pekerjaan dengan cepat. Dikutip pada kamus IGI Global Publisher of Timely Knowledge Ppali – Ppali tulisan hangul 빨리빨리 (dibaca 'pah-li pah-li') secara harfiah adalah kecenderungan untuk melakukan suatu aktivitas secara terburu – buru hal tersebut merupakan karakteristik masyarakat Korea Selatan.
Korea selatan sangat terkenal dengan bergerak cepat serta efisien dalam hal apapun termasuk bekerja. Hal itu tentu menjadi culture shock bagi pekerja pendatang di korea selatan.
Ppali – ppali hadir di semua aspek di dalam budaya korea dan gaya hidup. Hal itu diaplikasikan dimanapun dari hal kecil di dalam kegiatan sehari – hari, perkembangan negara dan pembangunan infrastruktur. Ppali – ppali adalah cara hidup masyarakat Korea Selatan, kita bisa melihat orang – orang di sana berlari ataupun berjalan dengan tergesa – gesa jadi, mereka tidak ingin ketinggalan bis maupun kereta. Bahkan seorang wanita menggunakan heels tidak ketinggalan ikut berjalan seperti lari maraton.
Dalam dunia pekerjaan karyawan terkadang datang lebih cepat dari jam kerja, di sana tidak ada kata “delay” jika kamu pergi ke bank atau kantor layanan pemerintahan mereka memiliki pelayanan yang sistematis dan terencana sehingga kamu tidak perlu menunggu lama dalam mendapatkan sebuah pelayanan.
Menurut seorang ahli antropologi bernama Kim Choong Soon budaya ppali – ppali bukan hanya menjadi bagian dari keseharian warga korea selatan namun sudah menjadi nilai dasar yang tertanam dalam benak orang korea selatan.
Dikutip dari BBC bahwa terdapat museum untuk memamerkan hasil dari budaya Ppali – Ppali yaitu di Museum Nasional Sejarah Kontemporer Korea yang terdapat di ibukota Korea Selatan, Seoul.
Di dalam museum tersebut ditampilkan pencapaian yang telah berhasil dilalui yaitu pada tahun 1961 – 1987 di mana ada pasangan muda sedang melihat sebuah produk elektronik yang dibuat pada tahun 1959, di mana pada periode tersebut terjadi pertumbuhan ekonomi yang pesat di Korea Selatan. Terdapat juga foto seorang ayah yang menunjuk Hyundai Pony pada tahun 1975 pada waktu itu ekspor korea meningkat pada angka 30 – 40% per tahun.
Semua hal itu tidak terlepas dari keberanian Korea Selatan untuk mengubah negaranya, pemerintah melakukan perencanaan ekonomi dan giatnya masyarakat Korea Selatan dalam bekerja. Berkaca dari negara Korea Selatan dalam etos kerja yang dimilikinya kerja keras dan tidak suka menunda-nunda pekerjaan serta bergerak dengan cepat berkontribusi dalam kemajuan negara.
