Agroforestri Sebagai Pertanian Ramah Lingkungan Dan Berkelanjutan!

Mahasiswa Jurusan Kehutanan Fakultas Pertanian Universitas Lampung Hobi : Menonton film seram
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Monika Theresia Simarmata tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ditulis oleh Monika Theresia Simarmata dan Bainah Sari Dewi
Jurusan Kehutanan,Universitas Lampung
Kelimpahan hutan yang dimiliki negara Indonesia menjadikan sebagian besar masyarakat Indonesia menjadi seorang petani maupun orang-orang yang bekerja untuk memanfaatkan hasil hutan tersebut. Maraknya masyarakat dalam memanfaatkan hasil hutan ini merujuk pada pengeksploitasian sumber daya alam. Hal ini berdampak terhadap kondisi lahan yang kian lama kian menurun dan berdampak pada siklus hidrologi maupun tanah sebagai pijakan untuk tumbuhan. Melihat kian hari kondisi lahan makin kritis maka dilakukan suatu kegiatan inovasi dan menambah dari nilai lahan itu sendiri dengan melakukan pertanian sistem agroforestri yang disebut sebagai pertanian ramah lingkungan. Sistem agroforestri adalah system pertanian yang menggabungkan penanaman antara tanaman kayu berumur panjang dengan tanaman palawija, pertanian, peternakan dan tanaman pendukung perikanan. Penerapan sistem agroforestri memberikan berbagai keuntungan yang mencakup aspek lingkungan, ekonomi dan sosial.
Manfaat Utama Agroforestri:
Manfaat Lingkungan
Konservasi tanah dan air:
Mencegah Erosi: Akar pohon yang kuat dan dalam mengikat tanah, mencegah erosi akibat air hujan atau angin, terutama di lahan miring. Tajuk pohon juga mengurangi dampak langsung curah hujan.
Meningkatkan Infiltrasi Air: Struktur tanah yang lebih baik akibat aktivitas akar dan bahan organik membantu air meresap lebih baik ke dalam tanah, mengisi cadangan air tanah, dan mengurangi aliran permukaan yang bisa menyebabkan banjir.
Menjaga Kualitas Air: Vegetasi dalam sistem agroforestri dapat bertindak sebagai filter alami, menyerap polutan dari aliran permukaan sebelum mencapai sumber air.
Peningkatan Kesuburan Tanah:
Penambahan Bahan Organik: Daun yang gugur dan sisa-sisa tanaman dari pohon dan semak menjadi mulsa alami yang terurai, memperkaya tanah dengan bahan organik dan nutrisi.
Fiksasi Nitrogen: Beberapa jenis pohon legum (seperti lamtoro) mampu mengikat nitrogen dari udara dan mengubahnya menjadi bentuk yang dapat diserap tanaman, sehingga mengurangi kebutuhan akan pupuk kimia.
Perbaikan Struktur Tanah: Akar pohon membantu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan porositas, dan memfasilitasi aerasi tanah.
Konservasi Keanekaragaman Hayati:
Penyediaan Habitat: Sistem agroforestri menciptakan lingkungan yang lebih beragam, menyediakan habitat bagi berbagai spesies flora dan fauna, termasuk serangga penyerbuk dan predator alami hama.
Meningkatkan Ketersediaan Spesies: Dengan menanam berbagai jenis pohon dan tanaman, agroforestri secara langsung meningkatkan keanekaragaman genetik di suatu area.
Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim:
Penyerapan Karbon: Pohon-pohon dalam sistem agroforestri menyerap karbon dioksida (CO2) dari atmosfer melalui fotosintesis dan menyimpannya dalam biomassa (kayu, daun, akar) serta tanah, sehingga berkontribusi pada pengurangan gas rumah kaca.
Pengatur Iklim Mikro: Tajuk pohon memberikan naungan, mengurangi suhu tanah, dan menjaga kelembaban udara, menciptakan iklim mikro yang lebih stabil dan nyaman bagi tanaman dan hewan.
Manfaat Ekonomi-Sosial
Diversifikasi Pendapatan dan Ketahanan Pangan:
Beragam Sumber Penghasilan: Petani tidak hanya bergantung pada satu jenis komoditas, melainkan bisa mendapatkan pendapatan dari hasil pertanian (padi, jagung), hasil hutan bukan kayu (buah-buahan, madu, getah), dan produk kayu.
Mengurangi Risiko Kegagalan Panen: Jika satu jenis tanaman gagal panen karena hama, penyakit, atau cuaca ekstrem, petani masih memiliki sumber pendapatan lain dari tanaman atau ternak yang berbeda.
Keamanan Pangan Lokal: Agroforestri dapat meningkatkan akses masyarakat terhadap sumber daya pangan lokal yang beragam dan berkelanjutan.
Peningkatan Produktivitas Lahan:
Pemanfaatan Ruang Efisien: Agroforestri memanfaatkan ruang vertikal dan horizontal secara efisien, memaksimalkan penggunaan cahaya, air, dan nutrisi oleh berbagai lapisan tanaman.
Sinergi Antar Tanaman: Pohon dapat memberikan naungan, perlindungan dari angin, dan nutrisi bagi tanaman di bawahnya, meningkatkan hasil panen secara keseluruhan.
Penyediaan Bahan Baku:
Kayu Bakar dan Bahan Bangunan: Pohon dalam sistem agroforestri dapat menyediakan kayu bakar sebagai sumber energi terbarukan dan bahan bangunan untuk keperluan lokal.
Pakan Ternak: Daun, cabang, atau hasil samping tanaman tertentu dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak.
Pemberdayaan Masyarakat dan Peningkatan Kesejahteraan:
Penciptaan Lapangan Kerja: Kegiatan agroforestri, mulai dari penanaman, pemeliharaan, hingga pemanenan dan pengolahan hasil, dapat menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat setempat.
Peningkatan Kualitas Hidup: Dengan adanya diversifikasi produk dan peningkatan pendapatan, kualitas hidup masyarakat pedesaan dapat meningkat.
Memperkuat Komunitas: Praktik agroforestri seringkali melibatkan kerja sama masyarakat dalam pengelolaan sumber daya alam.
Jenis-Jenis Agroforestri
1. Agrosilvikultur yaitu dimana penanamannya menggabungkan antara tanaman pertanian dengan tanaman kehutanan.
2. Agrosilvopastura yaitu penggabungan tanaman kehutanan dengan tanaman peternakan.
3. Silvofisheri atau wanamina yaitu penggabungan tanaman kehutanan dengan perikanan.
4. Apikultur yaitu penggabungan tanaman kehutanan dengan lebah madu
5. Serikultur yaitu penggabungan tanaman kehutanan dengan kepompong ulat sutra
