People Pleasing dan Sulitnya Bilang "Tidak" dalam Psikologi Kepribadian
Tulisan dari Nayla Shavitri Moriska Nasution tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kenapa Kamu Selalu Nggak Enakan?
Pernah nggak sih kamu merasa sulit banget buat nolak permintaan orang lain? Walaupun sebenarnya capek, sibuk, atau bahkan nggak mau, kamu tetap bilang “iya” cuma demi menjaga perasaan mereka. Perilaku seperti ini sering disebut people pleasing, yaitu kebiasaan untuk terus berusaha menyenangkan orang lain dan lebih mengutamakan kebutuhan mereka dibanding diri sendiri.
Orang yang punya kebiasaan ini biasanya takut dianggap jahat, egois, atau nggak peduli. Pikiran seperti itu bikin seseorang memilih mengalah terus supaya hubungan tetap aman dan nggak menimbulkan konflik. Ujung-ujungnya, diri sendiri malah jadi sering terabaikan. Hidup terasa habis buat memenuhi harapan orang lain sampai lupa sama apa yang sebenarnya kamu butuhkan.
Ternyata, Pola Asuh Masa Kecil Bisa Jadi Penyebabnya Loh!
Kebiasaan sulit menolak ternyata bisa terbentuk sejak kecil, terutama saat anak tumbuh di lingkungan yang menuntut kepatuhan terus-menerus. Orang tua dengan pola asuh otoriter biasanya lebih menekankan anak untuk nurut tanpa banyak bertanya atau menyampaikan pendapat (Yulya et al., 2023).
Anak yang sering dimarahin saat membantah biasanya tumbuh dengan rasa takut untuk berkata “tidak”. Saat anak mencoba menolak lalu dibentak, dihukum, atau dianggap tidak sopan, anak belajar bahwa mengikuti kemauan orang lain terasa lebih aman. Kebiasaan itu akhirnya terbawa sampai dewasa dan membuat seseorang merasa bersalah setiap kali ingin menolak permintaan orang lain.
Kenapa Kebiasaan Ini Bisa Terus Terbawa Sampai Dewasa?
Perilaku sulit menolak juga berkaitan dengan self-esteem atau rasa percaya diri yang rendah. Banyak orang merasa dirinya baru dianggap berharga kalau bisa membantu dan membuat orang lain senang. Rasa takut tidak disukai atau ditinggalkan bikin seseorang memilih terus mengiyakan permintaan orang lain. Penelitian menunjukkan bahwa pola asuh punya hubungan dengan pembentukan self-esteem pada remaja (Fitrayani et al., 2025).
Teori conditioning juga menjelaskan bahwa perilaku manusia bisa terbentuk dari kebiasaan yang diulang terus-menerus. Anak yang selalu dipuji saat nurut dan dimarahi saat menolak akan terbiasa menganggap bahwa mengikuti kemauan orang lain adalah pilihan paling aman. Tanpa sadar, pola itu terus terbentuk sampai menjadi bagian dari kepribadian seseorang (Baccus et al., 2004).
Lihat, Dampaknya Nggak Main-Main!
Saat sudah dewasa, kebiasaan ini bisa membawa banyak dampak negatif. Orang yang sulit menolak sering dianggap akan selalu membantu dalam kondisi apa pun. Hal itu bikin mereka lebih mudah dimanfaatkan oleh lingkungan sekitar.
Memendam perasaan terlalu sering juga bisa bikin seseorang stres dan kelelahan secara mental. Dari luar mungkin terlihat baik-baik saja, padahal di dalam dirinya penuh rasa capek karena terus memaksakan diri demi orang lain. Kondisi seperti ini dapat membuat seseorang kehilangan batas dirinya sendiri dan merasa hidupnya hanya berputar untuk memenuhi ekspektasi sekitar.
Belajar Bilang “Tidak” Itu Penting
Kebiasaan sulit menolak sebenarnya bisa dilatih untuk berubah. Salah satu caranya lewat assertiveness atau sikap tegas. Sikap tegas bukan berarti kasar atau egois, melainkan kemampuan untuk menyampaikan apa yang kamu rasakan dengan jujur tanpa menyakiti orang lain.
Kamu bisa mulai dari hal kecil, seperti mencoba menolak permintaan yang memang membuatmu tidak nyaman. Menjaga diri sendiri bukan sesuatu yang salah. Semakin sering latihan, kamu akan semakin paham bahwa mengatakan “tidak” adalah hal yang normal dan sehat dalam hubungan sosial.
Menjadi orang baik memang hal yang positif, tapi bukan berarti kamu harus terus mengorbankan diri sendiri demi menyenangkan semua orang. Belajar mengatakan “tidak” justru menunjukkan bahwa kamu mulai menghargai perasaan dan batas diri sendiri. Coba pelan-pelan biasakan untuk mendengarkan apa yang sebenarnya kamu butuhkan tanpa terus merasa takut mengecewakan orang lain.
Yuk, mulai berani menempatkan diri kamu sebagai prioritas juga. Hubungan yang sehat bukan cuma soal selalu mengiyakan, tapi juga tentang saling memahami dan menghargai satu sama lain.
________________________________________________
Oleh Nayla Shavitri Moriska Nasution dan Dr. Rachmat Mulyono, M.M., M.Si., Psikolog

