Hiburan Rakyat vs Martabat Satwa: Saatnya Mengakhiri Eksploitasi Topeng Monyet

Undergraduate Mass Communication Student at BINUS University
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Moyna Tsabitah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Apakah menonton atraksi topeng monyet benar-benar hiburan, atau justru bentuk normalisasi penderitaan? Realitanya, menurut laporan World Animal Protection (2024), 31 monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) berhasil diselamatkan oleh Jakarta Animal Aid Network (JAAN) dari pelatihan topeng monyet di Indonesia. Kasus ini hanya sebagian kecil dari gambaran besar eksploitasi yang masih berlangsung hingga hari ini.
Fenomena topeng monyet sudah lama menjadi kontroversi. Sebagian masyarakat melihatnya sebagai hiburan rakyat, sementara yang lain menilai sebagai bentuk penyiksaan hewan. Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap martabat satwa, menonton topeng monyet bukanlah sebuah hiburan, melainkan bentuk kekerasan yang dinormalisasi.

Apa Itu Topeng Monyet?
Topeng monyet merupakan atraksi yang melibatkan monyet ekor panjang (MEP) atau beruk yang dipaksa melakukan berbagai gerakan sesuai arahan pawang. Mereka seringkali dipakaikan kostum, diberi topeng, bahkan dipaksa menirukan perilaku manusia seperti bersepeda dan berjalan tegak.
Atraksi ini sudah ada sejak akhir abad ke-19. Pada tahun 1890-an, praktik ini mulai masuk ke Pulau Jawa, dibawa dari India yang lebih dulu mengenal atraksi serupa. Sejak itu, atraksi topeng monyet menyebar luas terutama di Jawa Tengah, Jawa Timur, hingga kota besar seperti Jakarta.
Bagi masyarakat, topeng monyet pernah menjadi salah satu bentuk hiburan jalanan dengan tarif yang relatif kecil. Dengan hanya menyumbang recehan, penonton dapat menyaksikan berbagai aksi dari hewan yang sudah dilatih. Banyak ditemukan para penonton tertawa melihat monyet kecil yang didandani seolah serupa dengan manusia.
Namun, di balik tawa penonton, terdapat kenyataan pahit yang terjadi dalam proses pelatihan topeng monyet. Para pawang membeli MEP dan beruk dari pasar hewan, lalu melatih mereka dengan cara keras dan penuh paksaan. Bagi sebagian pawang, atraksi ini menjadi sumber pencaharian utama meski penghasilan yang diperoleh tidak seberapa.
Apa Dampak Topeng Monyet Terhadap Kesejahteraan Satwa?
Dampak yang timbul dari atraksi topeng monyet bukan hanya pada hewan, tetapi juga pada lingkungan serta relasi manusia-satwa.
Dampak Fisik dan Psikologis
Untuk menghasilkan atraksi yang sesuai dengan apa yang diinginkan oleh sang pawang, MEP atau beruk akan dilatih dengan keras. Umumnya, MEP atau beruk dibeli oleh pawang ketika mereka masih usia muda, sehingga akan lebih mudah untuk membentuk kebiasaan-kebiasaan yang dibutuhkan untuk atraksi. Salah satunya yaitu dengan merantaikan besi pada bagian leher agar pawang dapat menarik satwa apabila terdapat gerakan salah.
Kondisi ini menyebabkan cedera, luka, hingga deformitas pada tulang akibat rantai yang menjerat leher dalam jangka waktu lama. Selain itu, tekanan dan perintah yang terus-menerus serta dipaksakan menimbulkan stress kronis, ketakutan, dan kecemasan jangka panjang. Dampak ini mempengaruhi pada perilaku agresif, murung, dan penarikan diri dengan sesama satwa.
Dampak Terhadap Lingkungan
Selain melukai hewan, praktik topeng monyet juga berdampak pada ekosistem. Sebagian besar MEP dan beruk yang dijadikan atraksi berasal dari alam liar. Penangkapan ini berkontribusi pada berkurangnya populasi MEP dan beruk, yang saat ini sudah masuk daftar rentan punah menurut IUCN Red List. Berkurangnya populasi ini mengganggu keseimbangan ekosistem, karena MEP dan beruk memiliki peran penting dalam penyebaran biji-bijian di hutan.
Dampak pada Relasi Manusia-Satwa
Atraksi ini juga memengaruhi cara masyarakat melihat satwa. MEP dan beruk diposisikan bukan sebagai makhluk hidup yang juga memiliki hak untuk hidup bebas, melainkan sebagai alat hibur yang dieksploitasi untuk mencari nafkah para pawang. Pandangan ini berbahaya karena menormalisasi eksploitasi hewan, seperti penderitaan mereka tidak memiliki arti dibandingkan hiburan semata.
Risiko Kesehatan Bagi Manusia
Selain menyiksa satwa, atraksi topeng monyet juga memiliki risiko kesehatan bagi masyarakat. Monyet ekor panjang diketahui sebagai salah satu hewan yang membawa dan menyimpan virus atau bakteri penyakit zoonosis seperti tuberculosis, herpes B, hingga rabies. Kontak langsung antara hewan dengan penonton, terutama anak-anak, dapat meningkatkan potensi penularan penyakit berbahaya. Hal ini menegaskan bahwa praktik ini tidak hanya merugikan satwa, tetapi juga membahayakan kesehatan publik.
Peraturan dan Etika: Upaya Hukum Melindungi Satwa
Atraksi topeng monyet yang melibatkan penyiksaan satwa bertentangan dengan peraturan dan prinsip kesejahteraan satwa yang berlaku. Sejumlah peraturan nasional dan daerah telah dirancang untuk melindungi satwa dari penyiksaan dan eksploitasi. Di tingkat nasional, UU No. 41 Tahun 2014 menegaskan bahwa setiap orang wajib memperlakukan satwa dengan memperhatikan kesehatan dan kesejahteraannya, tanpa menyebabkan penderitaan atau cedera. Hal ini menunjukkan bahwa atraksi topeng monyet jelas melanggar peraturan tersebut.
Beberapa pemerintah daerah, seperti DKI Jakarta, juga telah mengeluarkan larangan spesifik terhadap atraksi topeng monyet. Larangan ini menjadi fondasi penting, namum implementasinya masih menghadapi kendala. Atraksi illegal ini tetap terjadi karena adanya pengawasan lemah dan sebagian publik belum menyadarinya.
Selain peraturan hukum, terdapat etika yang patut untuk dipatuhi. Peter Singer, seorang filsuf utilitarian, menekankan bahwa penderitaan satwa harus dipertimbangkan secara moral sama dengan manusia. Sementara itu, Tom Regan menegaskan bahwa hewan memiliki hak dasar atau tidak dieksploitasi. Kedua pandangan ini meneguhkan bahwa menjadikan MEP dan beruk sebagai alat hiburan merupakan masalah hukum dan masalah keadilan moral.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Untuk menghapus atraksi topeng monyet, diperlukan upaya bersama untuk mewujudkannya. Terdapat beberapa langkah yang dapat dilakukan baik oleh masyarakat maupun pemerintah, antara lain:
Peran masyarakat:
• Tidak menonton atau memberikan uang pada atraksi topeng monyet.
• Mengedukasi orang-orang di sekitar mengenai penderitaan satwa di balik atraksi ini.
• Mendukung kampanye dan gerakan yang mendukung penghentian eksploitasi satwa.
Upaya dari masyarakat tentu tidak akan cukup tanpa dukungan dari pihak berwenang. Pemerintah memegang peran penting dalam menciptakan kebijakan yang efektif sekaligus menyediakan solusi bagi para pawang agar tidak kembali bergantung pada praktik eksploitasi.
Peran pemerintah:
• Memperkuat pengawasan dan memberikan sanksi tegas terhadap praktik yang masih terjadi.
• Menyediakan program alih profesi bagi pawang agar tidak bergantung pada atraksi satwa.
• Mendukung pusat rehabilitasi serta program pelepasliaran satwa kembali ke habitatnya.
Saatnya Akhiri Eksploitasi Topeng Monyet
Topeng monyet adalah salah satu praktik yang menggambarkan pertentangan antara hiburan dan martabat satwa. Atraksi ini mungkin tampak sederhana, tetapi di baliknya terdapat penderitaan panjang yang dialami satwa sejak usia muda. Dalam era ketika kesadaran akan kesejahteraan hewan semakin tinggi, sudah saatnya praktik ini ditinggalkan.
Dengan menolak atraksi topeng monyet, masyarakat dapat menghentikan penderitaan satwa serta membuktikan bahwa hiburan sejati tidak harus lahir dari kekerasan. Penolakan ini menjadi bentuk nyata bahwa masyarakat berpihak pada nilai kemanusiaan serta keadilan terhadap seluruh makhluk hidup.
Mari bersama-sama kita berhenti menutup mata, ikut berperan menyelamatkan satwa dari penderitaan, serta memberikan kesempatan untuk hidup bebas di habitat alaminya.
