Busana Tradisional dan Sneakers: Menawar Dominasi Tradisi di Ruang Publik

Mahasiswa Psikologi di Universitas Brawijaya
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Moza Ameera Rismawanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kalian melihat seorang perempuan mengenakan kain batik dan kebaya yang anggun, atau seorang laki-laki berbalut kain jarik dengan atasan beskap, tetapi melangkah pasti dengan sneakers berwarna cerah di kakinya? Pemandangan seperti ini kini sering kita temui di berbagai tempat umum maupun linimasa media sosial. Bagi sebagian orang, kombinasi pakaian ini dianggap sebagai manifestasi dari ekspresi yang praktis dan sejalan dengan perkembangan zaman. Namun, bagi mereka yang kuat memegang prinsip tradisi, perpaduan ini tidak jarang dipandang secara miring dan dianggap merusak nilai-nilai warisan nenek moyang.
Fenomena ini menimbulkan pertanyaan penting tentang esensi pelestarian budaya. Apakah eksperimen mode oleh generasi muda hanya dianggap sebagai tindakan merusak tradisi, ataukah sebenarnya merupakan suatu pendekatan kultural untuk merebut kembali kendali diri di tengah tekanan sosial? Di balik sneakers yang dipadukan dengan jarik, terdapat dinamika hubungan kuasa yang rumit antara individu, norma masyarakat, dan struktur otoritas tradisi.
Aturan Pakem sebagai Instrumen Kontrol Sosial
Sebenarnya, aturan pakaian tradisional masyarakat tidak pernah berada di ruang hampa yang netral. Seorang sosiolog bernama Pierre Bourdieu mengatakan bahwa aturan baku atau pakem dalam penelitian sosiologi seringkali berfungsi sebagai alat kekuasaan simbolik yang dipegang oleh kelompok dominan. Mereka yang memegang otoritas ini, yang terdiri dari senioritas adat, elit kebudayaan, dan lembaga tradisi, memiliki wewenang untuk menetapkan standar kepantasan dan membuat garis tegas antara hal-hal yang dianggap benar dan yang dianggap menyimpang.
Kebudayaan berisiko mengalami penyucian berlebihan ketika aturan berpakaian dibakukan dengan kaku dan ditutup rapat dari kemungkinan perubahan. Tradisi tidak lagi relevan sebagai bagian dari identitas kehidupan sehari-hari yang dinamis, tetapi sebaliknya, ia disimpan seperti barang antik di dalam kaca pameran museum. Meskipun masyarakat diminta untuk menghargai keasliannya dari jarak jauh, mereka juga merasa asing dan sulit untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari yang serba cepat. Pada akhirnya, pematangan pakem yang tanpa kompromi ini menciptakan jarak sosial antara prinsip-prinsip penting tradisi dan kenyataan hidup generasi penerusnya.
Dilema Psikologis Generasi Muda di Antara Identitas dan Kepraktisan
Menurut dinamik psikologi sosial, fenomena eksperimentasi busana ini berasal dari konflik internal generasi muda. Di satu sisi, ada motivasi moral dan rasa bangga yang mendorong untuk memasukkan identitas budaya Nusantara ke dalam pembicaraan publik. Sebaliknya, kenyamanan fisik, pergerakan lincah, dan kebebasan ekspresi diri adalah syarat mobilitas modern. Disonasi kognitif, yang didefinisikan oleh psikolog Leon Festinger sebagai ketidaknyamanan psikologis yang disebabkan oleh adanya dua nilai yang saling berbenturan, muncul sebagai akibat dari situasi yang saling bertentangan ini.
Keputusan untuk memadukan pakaian tradisional dengan sneakers adalah solusi inovatif untuk mengatasi perbedaan ini. Mereka yang lebih muda tidak mau menjadi objek pasif yang hanya mengikuti aturan kebudayaan tanpa berpikir kritis. Melalui pilihan gaya yang unik, generasi muda menunjukkan bahwa berbudaya tidak berarti harus menyerahkan seluruh kendali atas tubuh kepada standar yang ketat, melainkan dapat mengikuti kenyamanan pribadi.
Sneakers mengubah arti busana tradisional dari sekadar pakaian sakral seremonial menjadi pakaian fungsional yang relevan dipakai di kampus, tempat kerja, atau acara kasual lainnya. Perpaduan gaya ini, dikombinasikan dengan banyaknya unggahan di media sosial, tidak hanya berfungsi sebagai cara untuk mengekspresikan diri, tetapi juga mencari legitimasi sosial dari sesama generasi muda. Eksperimen ini bukanlah pembangkangan terhadap warisan leluhur. Sebaliknya, itu adalah cara yang cerdas untuk mempertahankan identitas lokal agar tetap hidup dan tidak terpengaruh oleh tren busana global.
Menghidupkan Tradisi Melalui Ruang Dialog
Kebudayaan yang mampu bertahan sepanjang masa tidak mengisolasi diri dari perubahan, tetapi mau membuka ruang dialog dengan generasinya. Menurut Umar Kayam, seorang budayawan asal Indonesia, kebudayaan Nusantara sebenarnya dinamis dan terus berubah. Suatu tradisi tidak pernah berakhir pada satu titik di masa lalu, melainkan selalu menyerap elemen baru yang sesuai dengan gaya zamannya.
Jika tradisi dipaksakan untuk tetap sama seperti abad lalu, maka tradisi itu akan secara bertahap ditinggalkan karena dianggap tidak sesuai dengan kebutuhan zaman. Kebudayaan yang sehat adalah kebudayaan yang bernapas dan bergerak bersama manusianya. Oleh karena itu, mencapai kesepakatan mengenai pakem lama bukanlah ancaman, tetapi tanda bahwa budaya tersebut masih saling menguntungkan dalam kehidupan sehari-hari.
Langkah generasi muda dalam mengintegrasikan aspek praktis modern adalah sebuah kontribusi budaya yang signifikan. Mereka berhasil mengeluarkan kebaya, jarik, dan pakaian tradisional dari lingkungan formal kemudian membawanya ke ruang publik. Keberanian untuk mempertanyakan dominasi norma yang kaku ini justru melindungi pakaian tradisional dari risiko kepunahan, menjadikannya relevan, dan disukai oleh generasi yang akan datang.
Pakaian tradisional berpadu dengan sneakers bukanlah pertentangan antara masa lalu yang suci dan masa kini yang merusak. Perpaduan ini menunjukkan bahwa identitas budaya dapat dihidupi dengan cara yang dinamis, fleksibel, dan bebas. Jika pelestarian tradisi harus mengorbankan kebebasan berekspresi, untuk siapa sebenarnya budaya itu dilestarikan, apakah untuk memberi kehidupan kepada orang-orang saat ini atau hanya untuk memenuhi kepentingan penguasa masa lalu?
