Konten dari Pengguna

Cerpen : Cinta di Pelabuhan Hollandia Jayapura

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari MS Komber tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Angin laut Pelabuhan Jayapura meniupkan aroma garam yang pekat ketika kapal dari Fakfak akhirnya merapat. Dari atas geladak, seorang pemuda bertubuh tegap dengan tatapan mata yang hangat melangkah turun. Ia adalah Pace, pemuda asal Fakfak yang merantau ke Jayapura dengan cita-cita besar: menuntut ilmu dan membangun tanah kelahirannya.

Hari itu kapal yang membawa penumpang dari Fakfak hingga Jayapura tiba dan disaat yang bersamaan kapal dari Batavia juga sandar dan menurunkan penumpang dari Batavia (sekarang Jakarta).

Di antara keriuhan pelabuhan—para kuli yang memanggul barang dan keluarga yang berpelukan—langkah Pace terhenti. Matanya tertuju pada sesosok gadis berkulit putih dengan rambut pirang keemasan yang terurai diterpa angin. Gadis itu adalah Noni, putri seorang profesor antropologi dari Universitas Leiden, Belanda, yang sedang melakukan penelitian budaya di Papua.

Pelabuhan memang sedang ramai sehingga tas terjatuh tepat didepan Pace, ditengah keriuhan pelabuhan, Pace dengan sigap mengambil tas dan menyerahkan nya pada Noni.

"Terima kasih," ucap Noni dalam bahasa Indonesia yang agak kaku, disertai senyuman manis yang seketika mengunci pandangan Pace.

"Sama-sama" balas Pace.

Sambil mengulurkan tangan Pace memberanikan bertanya "siapakah namamu?"

Gadis itu lalu menjawab : Noni.

Pertemuan sederhana di dermaga itu menjadi awal dari benih-benih cinta yang mulai tumbuh di antara dua dunia yang berbeda. Noni lalu bersama keluarganya berpisah dengan Pace yang menunggu jemputan dari asrama tempat dia akan bersekolah.

Mawar di Celah Batu.

Waktu berlalu semenjak pertemuan mereka di Pelabuhan Jayapura tanpa ada komunikasi apapun. Namun diam-diam Noni menyimpan suatu rasa penasaran siapakah lelaki yang dia jumpai di Pelabuhan tersebut. Rasa penasaran akhirnya terpecahkan saat mereka secara tak sengaja bertemu di dalam gereja Katedral Jayapura saat misa minggu pagi. Alhasil usai misa, Noni berkesempatan bertemu dan berbincang dengan Pace.

Cinta mereka mekar di tengah keindahan Jayapura. Namun, menyadari tingginya perbedaan status sosial dan atmosfer politik yang mulai memanas, mereka memilih menjaga kerahasiaan hubungan tersebut. Setiap hari Minggu, usai Misa di Gereja Katedral Jayapura, menjadi momen berharga yang selalu mereka tunggu untuk saling bertukar tatap dan sapaan hangat.

Untuk berkomunikasi tanpa menimbulkan kecurigaan, mereka merancang sebuah cara rahasia yang indah yakni, sebuah tanda rahasia dimana jika ada bunga mawar merah diletakkan di atas pagar kayu gereja, maka ada surat cinta di celah batu di samping Gereja Katedral Jayapura.

Setiap kali pulang sekolah, Noni akan melintas di depan gereja, melirik pagar kayu tersebut, lalu menyelinap mengambil surat dari Pace. Begitu pula sebaliknya dengan Pace, berdalih ijin menjenguk keluarganya di Dok V, Pace mampir ke Gereja Katedral untuk mengambil surat dari Noni dan sekaligus membalas surat Noni. Setiap surat berisi kerinduan, impian masa depan, dan cerita harian mereka.

Janji Senja 1962.

Dua tahun berlalu penuh dinamika, diiringi gelak tawa dan tangis kebersamaan. Suatu senja di awal tahun 1962, sambil menatap deburan ombak ditepian Pantai Pasir Dua Jayapura, Pace memberanikan diri menatap dalam-dalam mata biru Noni.

"Noni... kalau pendidikan saya selesai nanti, apakah Noni bersedia menikah dengan saya? Saya ingin datang meminangmu secara adat dan resmi," ucap Pace tulus.

Air mata bahagia menetes di pipi Noni. "Ya, Pace. Saya mau. Saya akan menunggumu datang ke rumah membicarakan ini dengan Ayah."

Namun, di balik kebahagiaan itu, awan mendung politik berhembus kencang. Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Belanda berada di titik nadir. Tekanan internasional dan situasi politik memaksa pemerintah Belanda menyusun rencana evakuasi mendadak bagi seluruh warganya dari tanah Papua.

Dua Minggu Tanpa Kabar

Di tengah situasi yang kian pelik, ketakutan terbesarnya justru terjadi. Pace mendadak jatuh sakit parah akibat demam tinggi. Tubuhnya terkulai lemah di kamar asrama, tak mampu berjalan bahkan sekadar bangkit dari tempat tidur.

Dua minggu Pace terbaring tanpa daya. Dua minggu pula ia tidak bisa pergi ke Katedral, dan dua minggu pula surat-surat Noni tak pernah dibalas.

Di sisi lain kota Hollandia, Noni dilanda kecemasan yang membakar jiwa. Setiap hari ia menaruh mawar dan menyisipkan surat di celah batu, namun tak pernah ada balasan. Ayahnya telah mendapat perintah tegas untuk segera berkemas dan meninggalkan Irian Barat (Papua sekarang). Waktu Noni makin menipis, dan pria yang dicintainya tak kunjung muncul.

Mawar yang Mengering

Awal September 1962. Tubuh Pace masih sangat lemas, namun kerinduan yang membuncah memaksanya memikul semua rasa sakit. Ia berjalan perlahan menuju Gereja Katedral Jayapura.

Dari kejauhan, langkah Pace terhenti. Dadanya berdesir hebat.

Di atas pagar kayu gereja, tidak hanya ada satu mawar, melainkan berbagai jenis bunga mawar yang telah mengering dan kehitaman.

Pace panik. Ia berlari kecil menghampiri celah batu tempat biasa mereka bertukar pesan. Namun saat jemarinya meraba celah batu yang kosong, sebuah suara berat mengejutkannya dari belakang.

"Hallo, anak muda..."

Pace tersentak kaget hingga terjatuh di pelataran Katedral. Saat ia menoleh, berdiri seorang Pastor dengan tatapan penuh hangat.

"Saya mengamati kalian berdua selama ini," lanjut Pastor itu lembut sambil membantunya berdiri. "Sudah beberapa kali gadis itu membawa bunga mawar dan menangis di sini. Saya meminta petugas gereja untuk tidak memindahkan mawar-mawar kering itu sampai kamu datang. Celah batu itu bahkan sudah tak mampu menampung surat-suratnya, jadi saya amankan ke Pastoran."

"Pastor... di mana suratnya sekarang?" bisik Pace, suaranya gemetar.

"Surathya ada anak muda. Ini bacalah surat-surat darinya" Pastor menyerahkan sekotak penuh surat kepada Pace.

Dipelataran Katedral Jayapura

Pace duduk gemetar di pelataran gereja. Matanya menatap semua surat dari Noni, dibukanya sampul-sampul surat itu satu per satu, membaca bait demi bait kerinduan, ketakutan, dan cinta Noni yang tak terbalaskan selama dua minggu terakhir.

Hingga tiba di lembaran surat terakhir yang ditulis dengan tinta yang samar akibat tetesan air mata. Pace membaca baris demi baris petunjuk yang ditinggalkan Noni :

"Pace, jika engkau tiba dan bunganya sudah layu, tandanya saya sedang dalam perjalanan ke Batavia. Jika engkau sampai dan bunganya sudah kering, tandanya saya sudah berada di atas pesawat menuju Negeri Belanda. Dan jika bunganya sudah lenyap, tandanya saya telah tiba di negeri leluhur saya, Belanda. Lanjutkanlah cita-cita kita masing-masing. Dirimu dan Tanah Leluhur mu selalu ada dalam hatiku. Cintaku tak pernah pergi dari jiwamu".

Airmata Pace menetes deras, membasahi kertas lusuh di genggamannya. Rasa penyesalan menekan dadanya begitu sesak. Bunga-bunga di atas pagar itu tidak lagi sekadar layu, melainkan telah mengering sempurna. Noni telah pergi jauh membendung lautan, meninggalkan tanah Papua dan janji pernikahan yang kini tinggal kenangan.

Matahari mulai tenggelam di ufuk barat, memancarkan sinar jingga keemasan di atas Teluk Youtefa Jayapura. Sambil merangkul erat tumpukan surat-surat dari Noni di dadanya, Pace menatap senja dengan penuh kebahagiaan.

Di pelataran Gereja Katedral Jayapura, di bawah saksi bisu bebatuan dan mawar-mawar yang mengering, kisah cinta Pace dan Noni harus berakhir—ditelan oleh takdir dan pusaran sejarah.

Foto, Teluk Youtefa Jayapura

Pemandangan alam di Teluk Youtefa Jayapura

Kapal induk Karel Doorman diperairan Jayapura media 1962

Mohon ijin ini cerpen jadi tdk ada sumber secara akademik. terimakasih

Katedral Jayapura