Belajar dari Zimbabwe: Negara Kaya Bisa Runtuh karena Hilang Kepercayaan

Dosen Akuntansi di Universitas Pat Petulai dengan fokus keilmuan pada perpajakan, akuntansi keuangan, dan pasar modal. Aktif dalam pendidikan, penelitian, dan pengembangan literasi keuangan.
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari M Reza Oktananda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sejarah telah berkali-kali mengajarkan bahwa kehancuran sebuah negara tidak selalu dimulai dari habisnya sumber daya alam, kekalahan perang, atau bencana besar. Ada negara yang runtuh justru ketika fondasi yang paling mendasar perlahan mengikis: kepercayaan rakyat terhadap institusi ekonomi dan politik. Zimbabwe adalah salah satu contoh paling nyata tentang bagaimana sebuah negara yang kaya dapat tersungkur bukan karena miskin sumber daya, tetapi karena kehilangan kepercayaan.
Zimbabwe pernah dikenal sebagai salah satu negara dengan potensi ekonomi terbesar di Afrika. Negeri ini memiliki tanah subur, hasil tambang melimpah, serta sumber daya alam yang mampu menopang pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Pada masa awal kemerdekaannya, Zimbabwe bahkan sempat dipandang sebagai harapan baru kawasan Afrika Selatan. Namun, semua potensi itu tidak cukup menyelamatkan negara tersebut ketika institusi ekonomi dan politik kehilangan legitimasi di mata masyarakat.
Krisis Zimbabwe bukan sekadar persoalan angka ekonomi yang memburuk. Ia dimulai dari kebijakan yang tidak konsisten, tata kelola yang kehilangan arah, lemahnya kepercayaan investor, hingga keraguan masyarakat terhadap kemampuan negara menjaga stabilitas. Ketika kepercayaan mulai runtuh, masyarakat tidak lagi percaya pada mata uang negaranya sendiri. Inflasi berubah menjadi hiperinflasi. Uang kehilangan makna. Harga kebutuhan pokok berubah dalam hitungan jam. Investor pergi. Modal keluar. Aktivitas ekonomi lumpuh. Pada titik tertentu, negara bukan hanya mengalami krisis ekonomi, tetapi kehilangan kepercayaan kolektif yang menjadi nyawa sebuah sistem.
Pelajaran penting dari Zimbabwe adalah: negara bisa kaya raya, tetapi tetap runtuh ketika rakyat, pasar, dan dunia usaha tidak lagi percaya pada arah institusi negara.
Pertanyaannya, apakah Indonesia sedang menuju ke sana?
Tentu, Indonesia bukan Zimbabwe. Struktur ekonomi Indonesia jauh lebih besar, lebih kompleks, dan memiliki cadangan kekuatan yang tidak kecil. Indonesia memiliki bonus demografi, pasar domestik yang besar, kekayaan sumber daya alam, serta posisi geopolitik yang strategis. Namun, justru karena bangsa ini besar, kita tidak boleh meremehkan tanda-tanda peringatan yang mulai terlihat.
Hari ini, publik menyaksikan tekanan ekonomi yang tidak bisa dianggap ringan. Nilai tukar rupiah mengalami pelemahan yang mengkhawatirkan, sementara pasar modal melalui IHSG mengalami tekanan yang memicu kekhawatiran investor. Gejolak ini mungkin dapat dijelaskan secara teknis melalui faktor global: suku bunga Amerika Serikat, ketegangan geopolitik, perlambatan ekonomi dunia, hingga arus modal asing. Tetapi akan menjadi kesalahan besar jika seluruh persoalan hanya dijelaskan dengan narasi eksternal.
Pasar tidak hanya membaca angka. Pasar membaca kepercayaan. Investor tidak semata-mata bertanya tentang cadangan nikel, sawit, atau batu bara Indonesia. Mereka bertanya: seberapa kuat institusi negara? Seberapa konsisten kebijakan ekonomi? Seberapa independen lembaga pengawas? Seberapa serius pemerintah menjaga stabilitas? Dan yang paling penting, apakah ada arah kebijakan yang mampu memberikan kepastian?
Kepercayaan adalah mata uang paling mahal dalam ekonomi modern. Ketika kepercayaan melemah, modal menjadi takut. Ketika modal takut, investasi tertahan. Ketika investasi tertahan, lapangan kerja terganggu. Pada akhirnya, rakyatlah yang menjadi pihak pertama merasakan dampaknya.
Di sinilah persoalan menjadi serius. Bahaya terbesar sebuah bangsa sering kali bukan krisis ekonomi itu sendiri, melainkan normalisasi terhadap tanda-tanda krisis. Ketika pelemahan rupiah dianggap biasa. Ketika anjloknya pasar dianggap sekadar fluktuasi. Ketika kritik publik dibalas dengan sikap defensif, bukan evaluasi. Maka bangsa sedang bergerak menuju situasi berbahaya: kehilangan kemampuan membaca peringatan.
Sejarah Zimbabwe menunjukkan bahwa kehancuran tidak datang dalam satu malam. Ia datang perlahan. Dimulai dari rasa percaya yang terkikis sedikit demi sedikit. Dari kebijakan yang tidak lagi diyakini. Dari masyarakat yang mulai ragu. Dari investor yang mulai menunggu. Dari institusi yang perlahan kehilangan kewibawaan.
Indonesia tidak kekurangan sumber daya. Negeri ini terlalu kaya untuk gagal. Lautan luas, tanah subur, cadangan mineral strategis, bonus demografi, dan posisi geografis yang menguntungkan adalah modal besar yang tidak dimiliki banyak negara. Tetapi sejarah dunia telah membuktikan bahwa kekayaan alam bukan jaminan keselamatan. Banyak negara kaya justru runtuh karena salah kelola, lemahnya institusi, dan hilangnya kepercayaan. Karena itu, gejolak ekonomi hari ini harus menjadi alarm, bukan sekadar statistik. Pemerintah, otoritas ekonomi, pelaku pasar, akademisi, hingga masyarakat sipil perlu menyadari bahwa stabilitas ekonomi tidak hanya dibangun dengan angka pertumbuhan, tetapi dengan legitimasi dan kepercayaan.
Bangsa besar tidak runtuh karena miskin sumber daya. Bangsa besar runtuh ketika rakyat tidak lagi percaya bahwa institusi negara mampu menjaga arah. Zimbabwe sudah memberi pelajaran mahal kepada dunia. Pertanyaannya sekarang: apakah Indonesia mau belajar sebelum semuanya terlambat?
