Investasi atau Ikut Tren? Anak Muda Terjebak Investasi Tanpa Fundamental

Dosen Akuntansi di Universitas Pat Petulai dengan fokus keilmuan pada perpajakan, akuntansi keuangan, dan pasar modal. Aktif dalam pendidikan, penelitian, dan pengembangan literasi keuangan.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari M Reza Oktananda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di era media sosial, investasi mengalami perubahan wajah yang cukup drastis. Jika dahulu investasi identik dengan proses panjang: belajar, memahami risiko, membaca laporan keuangan, dan menyusun strategi, kini investasi sering kali tampil layaknya tren gaya hidup digital. Cukup membuka media sosial, seseorang akan menemukan berbagai konten bertajuk “cara cepat cuan,” “saham auto naik,” “kripto yang akan meledak,” hingga gaya hidup mewah yang dikaitkan dengan keberhasilan investasi.
Masalahnya, banyak anak muda mulai masuk ke dunia investasi bukan karena memahami instrumen yang dipilih, melainkan karena takut tertinggal tren. Mereka berinvestasi bukan karena yakin pada nilai suatu aset, tetapi karena melihat orang lain terlihat untung. Inilah fenomena yang semakin mengkhawatirkan: investasi tanpa fundamental, hanya bermodalkan ikut-ikutan influencer.
Ketika Investasi Menjadi Tren Sosial
Fenomena ini tidak bisa dipandang sederhana. Ada perubahan besar dalam cara generasi muda memandang investasi. Dahulu, investasi adalah keputusan finansial yang lahir dari pertimbangan rasional. Sekarang, investasi sering berubah menjadi bagian dari identitas sosial.
Anak muda tidak lagi hanya membeli aset, tetapi membeli citra: terlihat melek finansial, modern, produktif, dan “lebih pintar” dibanding yang lain. Dalam banyak kasus, seseorang membuka akun investasi karena lingkungan pertemanannya sudah lebih dulu masuk, atau karena merasa tertinggal jika tidak ikut.
Muncullah fenomena social investing, keputusan investasi yang lebih dipengaruhi lingkungan sosial dibanding analisis objektif. Di titik ini, investasi perlahan bergeser menjadi bentuk konsumsi sosial. Ironisnya, seseorang bisa merasa bangga memiliki portofolio investasi tanpa benar-benar memahami apa yang dibelinya.
Influencer Finansial
Media sosial melahirkan figur baru: influencer investasi. Sebagian memang memiliki kapasitas edukasi yang baik, tetapi tidak sedikit yang membangun narasi investasi secara berlebihan demi engagement.
Konten yang viral hampir selalu menjual mimpi: keuntungan besar, kebebasan finansial cepat, dan cerita sukses yang terlihat instan. Algoritma media sosial bekerja dengan logika emosi, bukan logika kehati-hatian. Semakin sensasional isi konten, semakin besar peluangnya untuk ditonton.
Akibatnya, banyak anak muda mulai percaya bahwa investasi adalah jalan pintas menuju kekayaan. Mereka membeli saham tertentu hanya karena direkomendasikan figur populer, membeli aset digital hanya karena sedang ramai dibicarakan, atau masuk ke instrumen yang sama sekali tidak dipahami.
Yang lebih berbahaya, sebagian influencer tampil dengan kesan otoritatif: menggunakan istilah teknis, menunjukkan portofolio, memamerkan gaya hidup, atau membangun citra sukses finansial. Padahal, popularitas tidak selalu sejalan dengan kompetensi.
Di dunia investasi, follower bukan indikator keahlian.
Masalah Utamanya Bukan Kerugian, Tapi Cara Berpikir
Sebagian orang mungkin berpikir, “kalau rugi kan jadi pelajaran.” Sayangnya, persoalan ini lebih dalam dari sekadar kehilangan uang.
Bahaya terbesar dari investasi tanpa fundamental adalah terbentuknya mentalitas spekulatif. Anak muda menjadi terbiasa mengejar keuntungan cepat, menghindari proses belajar, dan percaya bahwa keputusan finansial bisa diambil berdasarkan tren.
Ketika untung, mereka merasa jenius. Ketika rugi, mereka menyalahkan pasar. Padahal, yang sebenarnya terjadi adalah keputusan diambil tanpa pemahaman yang cukup. Ini menciptakan pola pikir berbahaya: investasi dipandang seperti perjudian yang kebetulan diberi nama lebih modern.
Akibatnya, banyak yang akhirnya trauma berinvestasi setelah mengalami kerugian besar. Mereka keluar dari pasar dengan kesimpulan bahwa “investasi itu penipuan,” padahal yang keliru bukan instrumennya, melainkan pendekatan terhadap investasi itu sendiri.
Psikologi di Balik Fenomena Ikut-Ikutan
Secara psikologis, ada beberapa faktor yang membuat anak muda rentan terjebak investasi berbasis tren.
Pertama, Fear of Missing Out (FOMO), rasa takut tertinggal peluang. Ketika melihat orang lain mengaku untung besar, muncul dorongan untuk ikut sebelum “terlambat.”
Kedua, Herd Behavior atau perilaku ikut kerumunan. Manusia secara alami merasa lebih aman ketika melakukan hal yang sama dengan mayoritas, bahkan jika keputusan tersebut tidak rasional.
Ketiga, Confirmation Bias. Seseorang cenderung mencari informasi yang mendukung keyakinannya, sambil mengabaikan risiko atau opini yang berbeda. Tidak heran jika banyak orang membeli aset setelah harganya naik tajam, lalu panik menjual ketika harga jatuh. Mereka masuk karena euforia, keluar karena ketakutan.
Paradoks Generasi Melek Finansial
Ironisnya, generasi saat ini sering disebut sebagai generasi paling sadar investasi. Akses terhadap edukasi finansial terbuka luas, aplikasi investasi makin mudah, dan informasi tersedia di mana saja. Namun paradoksnya, kemudahan akses belum tentu melahirkan kualitas pemahaman.
Banyak yang rajin menonton konten investasi, tetapi jarang membaca laporan keuangan. Hafal istilah bullish dan bearish, tetapi tidak memahami valuasi atau profil risiko. Singkatnya, informasi meningkat, tetapi literasi belum tentu ikut bertumbuh.
Investasi Seharusnya Membosankan
Ada satu perspektif yang jarang dibahas: investasi yang sehat justru sering terasa membosankan. Tidak selalu ramai, tidak penuh sensasi, dan tidak menghasilkan keuntungan fantastis dalam waktu singkat. Investasi yang sehat biasanya dipenuhi disiplin, kesabaran, manajemen risiko, dan konsistensi.
Sayangnya, budaya digital membuat sesuatu yang tenang terasa tidak menarik. Orang lebih suka cerita “modal kecil jadi miliarder” dibanding narasi tentang proses panjang membangun aset secara perlahan. Padahal, dunia investasi tidak dibangun oleh sensasi sesaat, tetapi oleh keputusan kecil yang konsisten dalam jangka panjang.
Jangan Membeli Narasi
Pada akhirnya, anak muda tidak boleh anti terhadap investasi. Justru generasi muda perlu mulai berinvestasi lebih awal. Namun yang harus dikritisi adalah cara masuknya. Jangan membeli aset hanya karena viral. Jangan menganggap influencer sebagai kompas utama keputusan finansial. Dan yang paling penting, jangan membeli narasi tanpa memahami realitas di baliknya.
Sebab di dunia investasi, kerugian terbesar bukan hanya kehilangan uang, tetapi kehilangan kemampuan berpikir kritis. Investasi bukan lomba ikut tren. Investasi adalah seni mengelola ketidakpastian dengan pengetahuan, logika, dan kesabaran.
