Investasi Bodong Tidak Pernah Benar-Benar Mati: Mengapa Korban Terus Bermunculan

Dosen Akuntansi di Universitas Pat Petulai dengan fokus keilmuan pada perpajakan, akuntansi keuangan, dan pasar modal. Aktif dalam pendidikan, penelitian, dan pengembangan literasi keuangan.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari M Reza Oktananda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini, masyarakat Bengkulu kembali dihebohkan dengan dugaan kasus investasi bodong yang menyeret banyak korban. Ironisnya, kasus seperti ini bukan sesuatu yang baru. Hampir setiap tahun, publik mendengar cerita serupa: janji keuntungan besar, testimoni meyakinkan, kepercayaan yang dibangun perlahan, lalu berujung kerugian yang tidak sedikit.
Pertanyaannya sederhana, tetapi penting: mengapa investasi bodong masih terus terjadi, padahal korbannya sudah begitu banyak dan edukasi keuangan semakin luas?
Jawabannya ternyata tidak sesederhana “karena orang serakah” atau “kurang hati-hati”. Faktanya, banyak korban investasi bodong bukan orang yang tidak cerdas. Bahkan tidak sedikit yang berasal dari kalangan terdidik, pegawai, pengusaha, hingga tokoh masyarakat.
Masalahnya bukan sekadar minim pengetahuan, melainkan bagaimana investasi bodong bekerja dengan memanfaatkan cara manusia berpikir dan mengambil keputusan.
Investasi Bodong Bekerja dengan Cara Memainkan Psikologi Manusia
Pelaku investasi bodong jarang datang dengan wajah mencurigakan. Mereka justru sering tampil meyakinkan, tampak sukses, religius, ramah, bahkan dekat secara sosial.
Di sinilah jebakannya.
Ada beberapa alasan mengapa banyak orang tetap tergiur:
1. Keinginan untuk mempercepat kesejahteraan
Di tengah tekanan ekonomi, biaya hidup yang naik, kebutuhan keluarga, cicilan, hingga impian hidup yang lebih baik, tawaran keuntungan cepat terdengar seperti jalan keluar. Ketika seseorang mendengar kalimat seperti “uang berkembang cepat”, otak cenderung lebih fokus pada harapan dibanding risiko.
Banyak orang sebenarnya sadar ada yang terasa tidak masuk akal. Namun, mereka memilih percaya karena berharap kali ini bisa menjadi kesempatan mengubah keadaan ekonomi.
2. Efek “kalau orang lain ikut, berarti aman”
Investasi bodong sering berkembang melalui jaringan pertemanan, keluarga, kantor, atau komunitas. Ketika tetangga ikut, saudara ikut, bahkan orang yang dihormati ikut, muncul rasa aman palsu. Padahal, banyak korban masuk bukan karena memahami produknya, tetapi karena percaya pada orang yang mengajak.
Inilah yang disebut manusia cenderung menganggap sesuatu benar jika banyak orang melakukannya.
3. Testimoni keuntungan yang membuat orang kehilangan kewaspadaan
Modus investasi bodong hampir selalu dimulai dengan pembayaran lancar kepada investor awal. Korban pertama benar-benar mendapatkan keuntungan. Mereka lalu bercerita ke orang lain.
Dari sinilah kepercayaan terbentuk.
Masalahnya, keuntungan itu sering kali bukan berasal dari bisnis nyata, melainkan dari uang anggota baru. Ketika aliran dana berhenti, skema runtuh. Dalam banyak kasus, ini menyerupai pola skema Ponzi, yaitu pembayaran investor lama menggunakan uang investor baru.
4. FOMO: takut ketinggalan peluang
Banyak orang takut menyesal di kemudian hari. Ketika melihat orang lain terlihat untung, muncul pikiran. "Jangan-jangan saya terlalu takut, nanti malah kehilangan kesempatan." Perasaan takut tertinggal ini sering membuat orang menurunkan logika dan mempercepat keputusan tanpa melakukan pengecekan.
Ciri-Ciri Investasi Bodong yang Sering Diabaikan
Meski modus terus berubah, pola investasinya sebenarnya hampir sama.
1. Menjanjikan keuntungan tinggi dan pasti
Dalam dunia investasi, keuntungan tinggi selalu datang bersama risiko tinggi. Jika ada yang menjanjikan keuntungan besar, cepat, stabil, dan tanpa risiko, maka justru di situlah alarm kewaspadaan harus menyala. Kalimat seperti untung pasti, tidak mungkin rugi, cuma di sini cuannya stabil, perlu dicurigai. Karena bahkan instrumen investasi legal sekalipun tidak bisa menjamin keuntungan pasti.
2. Tidak jelas bisnisnya
Ketika ditanya:
“Sebenarnya uang ini diputar ke mana?”
jawabannya sering kabur.
Ada yang menggunakan istilah keren, teknologi, trading otomatis, proyek besar, hingga bisnis yang sulit dipahami. Jika model bisnisnya tidak bisa dijelaskan dengan sederhana, masyarakat patut berhati-hati.
Prinsip sederhana:
Kalau terlalu rumit untuk dipahami, jangan masukkan uang.
3. Mengandalkan perekrutan anggota baru
Banyak investasi bodong lebih sibuk mencari anggota baru daripada membahas produk atau bisnis. Komisi diberikan karena berhasil mengajak orang lain. Semakin besar fokus pada perekrutan dibanding aktivitas usaha nyata, semakin besar risiko ada masalah.
4. Menggunakan tekanan emosional
Biasanya muncul kalimat:
"Kesempatan terbatas."
"Kalau tidak sekarang, nanti menyesal."
"Yang cepat daftar yang untung duluan."
Investasi yang sehat tidak memaksa orang mengambil keputusan tergesa-gesa.
5. Mengandalkan kedekatan personal
Tidak sedikit investasi bodong justru masuk melalui orang dekat seperti teman, keluarga, rekan kerja, komunitas, bahkan figur yang dipercaya. Padahal, percaya pada orang bukan berarti percaya pada sistem investasinya.
Cara Agar Tidak Menjadi Korban
Mencegah jauh lebih murah daripada mengejar uang yang sudah hilang.
Berikut prinsip sederhana yang bisa digunakan masyarakat:
1. Gunakan aturan “tunda 3 hari”
Jangan pernah langsung transfer uang. Jika ada penawaran investasi, beri jeda minimal tiga hari. Biasanya setelah emosi mereda, logika akan lebih bekerja.
2. Jangan investasi pada sesuatu yang tidak dipahami
Kalau tidak mengerti cara kerjanya, jangan masuk. Tidak ada rasa malu mengakui "Saya belum paham." Justru rasa terlalu percaya diri sering menjadi pintu masuk penipuan.
3. Periksa legalitas, tapi jangan berhenti di sana
Legalitas penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran.
Banyak orang hanya berhenti pada kalimat:
"Katanya ada izin."
Yang lebih penting adalah memahami bisnisnya apa, sumber keuntungan dari mana, dan apakah modelnya masuk akal.
4. Gunakan logika paling sederhana
Tanyakan: “Kalau menghasilkan uang semudah ini, kenapa mereka harus mengajak saya?." Pertanyaan sederhana ini sering cukup untuk membongkar banyak modus.
Pelajaran yang Sering Terlambat Disadari
Korban investasi bodong sering kali bukan orang bodoh. Mereka hanya sedang berada pada situasi tertentu: ingin memperbaiki ekonomi, percaya pada orang dekat, takut kehilangan peluang, atau terlalu berharap keadaan cepat berubah. Karena itu, pendekatan terhadap korban seharusnya bukan mengejek, melainkan meningkatkan literasi dan membangun budaya saling mengingatkan.
Sebab investasi bodong tidak hidup karena kurangnya informasi semata. Ia hidup karena manusia memiliki harapan. Dan ketika harapan bertemu janji keuntungan instan tanpa logika yang sehat, di situlah jebakan sering dimulai.
Mungkin pertanyaan terbesar bukan lagi “Kenapa masih banyak korban?”, tetapi “Apakah kita sudah cukup kritis ketika sesuatu terdengar terlalu indah untuk menjadi kenyataan?”
