Beragama karena Kebenaran, Bukan Sekadar Warisan

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Philosophy Islamic Student Pimpinan Umum at LPM Muara Staff Hmps AFI Div. Kajian dan Literasi
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Muarifi Hamidi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kita tidak pernah memilih agama ketika dilahirkan. Kita mengenalnya terlebih dahulu melalui keluarga, lingkungan, dan tradisi. Karena itu, agama sering kali menjadi sesuatu yang diwariskan sebelum sempat dipertanyakan.
Tidak ada yang salah dengan warisan tersebut. Persoalannya muncul ketika sesuatu dianggap benar hanya karena telah diwariskan.
Tradisi dapat menjadi jalan untuk mengenal agama, tetapi tidak seharusnya menjadi pengganti pencarian terhadap kebenaran. Sebab, "sudah dilakukan sejak dahulu" tidak dengan sendirinya berarti "benar untuk dilakukan."
Manusia perlu memiliki ruang untuk bertanya: mengapa saya percaya? Apa yang membuat keyakinan ini benar? Apakah saya mempertahankannya karena telah memahaminya, atau karena sejak kecil tidak pernah diberi kesempatan untuk mempertanyakannya?
Pertanyaan bukan selalu bentuk penolakan terhadap agama. Justru, pertanyaan dapat membuat seseorang bergerak dari sekadar menerima warisan menuju keyakinan yang ia pahami dan pertanggungjawabkan.
Karena itu, tradisi seharusnya menjadi titik awal, bukan titik akhir. Ia boleh mengantarkan seseorang kepada agama, tetapi tidak seharusnya menghalangi seseorang untuk berkembang, berpikir, dan mencari kebenaran.
Dalam pemikiran Nurcholish Madjid, kepercayaan tidak cukup hanya diterima sebagai warisan. Kepercayaan perlu memiliki dasar yang dapat dipahami dan dipertanggungjawabkan. Artinya, seseorang tidak hanya mengetahui apa yang dipercayainya, tetapi juga berusaha memahami mengapa ia mempercayainya.
Di sinilah persoalannya. Agama terkadang berhenti pada bentuk-bentuk yang diwariskan: bagaimana menjalankan ritual, mengikuti kebiasaan, atau mempertahankan tradisi. Sementara alasan dan nilai yang mendasarinya justru kurang dipahami.
Padahal, memahami agama tidak berarti harus meninggalkan tradisi. Sebaliknya, pemahaman dapat membuat seseorang mengetahui mana tradisi yang membantu menghidupkan nilai agama dan mana kebiasaan yang justru dapat membatasi perkembangan manusia.
Seseorang boleh menerima apa yang diwariskan keluarganya. Namun, pada akhirnya ia tetap perlu melakukan perjalanan intelektualnya sendiri. Sebab keyakinan yang hanya berdiri karena “sejak kecil saya diajarkan begitu” tentu berbeda dengan keyakinan yang dipertahankan setelah seseorang bertanya, mencari, dan memahami.
Pada akhirnya, kita mungkin tidak dapat memilih apa yang diwariskan kepada kita. Namun, kita dapat memilih apakah akan sekadar mewarisinya atau berusaha memahami mengapa kita mempercayainya.
Beragama bukan hanya tentang apa yang kita warisi, tetapi juga tentang apa yang kita yakini benar. Karena agama mungkin diwariskan, tetapi keyakinan perlu dipahami.
