Sekarang Saya Tahu, Kenapa Kebanyakan Mahasiswa Angkatan Covid-19 Jomblo

Mahasiswa Ilmu Komunikasi UMY
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Muchlis Fatahillah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menjadi mahasiswa yang masuk pada saat Covid-19, barangkali adalah mimpi buruk yang menghantarkan sebagian mahasiswa ke jurang nestapa. Jika banyak pedagang mengeluhkan soal kerugian materil, maka mahasiswa angkatan Covid akan mengeluhkan kerugian secara mental dan moril.
Di satu sisi, apabila mahasiswa angkatan Covid ini mudah bergaul, mudah beradaptasi dan punya jiwa ekstrovert, tentu hal ini bukanlah masalah serius.
Namun, jika mahasiswa itu adalah orang yang tidak mudah akrab, merasa lelah kalau bergaul sama orang dan introvert. Wah, ini jadi bencana batin yang menyiksa tanpa ampun.
Mahasiswa angkatan Covid memang dituntut untuk sat-set beradaptasi dengan lingkungan baru. Harus mudah mengingat dan melakukan sinkronisasi manual antara wajah yang biasa dilihat di Zoom Meeting dengan wajah asli.
Terkadang, seorang yang kita liat di layar monitor pada saat kuliah online, ternyata jauh berbeda dengan yang sesungguhnya. Ya, mungkin itulah salah satu bentuk tipu daya dunia.
Bayangkan, hampir dua tahun atau setara dengan empat semester, mahasiswa angkatan Covid ini berinteraksi secara virtual. Bayangkan lagi, betapa canggungnya ketika semester lima harus bertemu secara langsung mengakrabkan diri dan menjawab pertanyaan diri sendiri.
Ini yang namanya Cahyo apa Caknan ya?"
Lho, bukannya di Zoom giginya agak mrongos? Kok ini lebih mrongos, ya?"
Dan, masih banyak lagi berbagai pertanyaan lain yang bergejolak seperti ingin memecahkan kepala yang IQ-nya under 80 ini.
Dalam beberapa kesempatan, saya mencoba mengamati beberapa teman seangkatan yang membagikan aktivitas uwu-uwu-an di media sosial. Kalian pasti paham maksud saya.
Kemudian, saya coba mapping—anjay, bahasanya— berapa banyak yang pacaran dan berapa banyak yang tidak. Hasilnya memang banyak yang tidak pacaran, ya cuma selisih satu agka sih, termasuk ada nama saya di sana, hehe...
Dari aktivitas ngobrol, analisis teks, analisis media, dan dengan metode-metode analisis lainnya, saya jadi punya kesimpulan bahwa ada beberapa alasan kenapa banyak mahasiswa angkatan Covid itu jomblo.
1. Milih pacar modal 'pin' ternyata enggak cukup
Kalau seseorang mau pacaran, langkah pertama yang harus dilakukan adalah milih orangnya. Enggak mungkin, dong, kamu pacaran sama tongkat pramuka. Nah, dalam tahap ini aja, mahasiswa angkatan Covid sudah gugur.
Gejolak pengin punya pacar menggebu, tapi pilihannya minim banget. Sekalinya ada yang cantik atau setidaknya keliatan cantik—di layar monitor— paling pol, cuma bisa nge-pin gambar video di zoom meeting. Milih pacar modal nge-pin ini sama sekali nggak efektif. Kamu mungkin tau orangnya, tapi tidak dengan hati dan nomor HP-nya. Bhaa...
2. Berteman dengan yang sering se-kelompok, enggak selalu beruntung
Jangan dikira mahasiswa angkatan Corona enggak punya tugas kuliah yang dikerjakan secara berkelompok. Ada banyak banget. Susahnya, komunikasi tidak langsung sering menjadikan tugas kuliah agak berantakan.
Karena mungkin diterpa oleh permasalahan yang sama dan nyari jalan keluar sama-sama, kelompok tugas kuliah ini akan mengakrabkan anggotanya. Tapi, sebatas 4-5 orang saja.
Jadi, kalau dalam kelompok itu ada yang sesuai dengan idamanmu, dan dia mau sama kamu, kamu bisa dikatakan beruntung. Tapi, sayangnya banyak yang tidak seberuntung itu. Lha gimana, satu kelompok cowok semua, apa mungkin mau jadian?
3. Susah membedakan yang cantik dan tidak
Kalau di Zoom Meeting kita sulit membedakan yang cantik dan tidak karena efek kamera dan layar monitor. Saat ketemu langsung di semester lima, mahasiswa angkatan Covid juga menemui masalah baru. Wah, memang gudangnya masalah, sih.
Masalahnya adalah cewek-cewek sekarang lebih nyaman menggunakan masker daripada tidak. Mungkin mereka lebih pede karena kutil di pangkal hidung, gigi yang agak ijo dan komedo yang beranak-pinak itu tidak bisa terlihat.
Namun jujur, ini sangat menyulitkan bagi kaum adam untuk memilih, mana yang benar-benar cantik atau cuma cantik matanya. Selebihnya, bhaaa...
Maka, ini yang menjadikan proses PDKT lebih lama. Yah, daripada mengambil risiko, mending pelan-pelan. Meskipun tiba-tiba dia udah pacaran aja, entah lewat jalur mana.
4. Pacaran hanya mimpi, jika tidak berorganisasi
Bagi mahasiswa kuliah-pulang (kupu-kupu), kesempatan buat kenal lebih dekat sama teman sekelas itu sangat terbatas. Sehari, kuliah hanya 2-3 jam. Itupun tidak digunakan untuk basa-basi dan tebar pesona.
Bisa sih, sesekali nunjukkin kalau kita pinter dengan teknik presentasi yang bagus. Tapi, kalau orangnya pendiam dan kalau presentasi tugasnya geser slide, ya susah. Cewek juga mungkin akan ilfil sama cowok yang kayak gini. Katanya "no effort".
Maka, pilihan yang paling strategis untuk mendapatkan pacar adalah dengan berorganisasi. Karena dengan begitu, intensitas komunikasi dan interaksi sama orang lain akan lebih banyak. Bayangin, pulang rapat malem-malem, terus kamu barengin temenmu yang cewek dan mampir di warung bakmi. Woh, uwu sekali.
Sayangnya, mahasiswa angkatan Covid, kebanyakan tidak aktif di organisasi. Karena, organisasi sudah tidak buka open recruitment untuk mahasiswa semester lima atau yang menjelang tua. Nah, sudahlah, memang kita dituntut pasrah.
Itulah beberapa alasan yang bisa saya simpulkan, soal kenapa mahasiswa angkatan Covid kebanyakan masih menyandang status jomblo. Tapi, apapun itu, semoga saya dan mahasiswa agkatan covid lainnya diberikan kekuatan dan keistikamahan dalam menyandang gelar mulia ini.
Saya harap, teman-teman saya tidak membaca ini, agar ketika mereka tanya "kenapa masih jomblo?", saya masih bisa menjawab "wa laa taqrabuuzinaa innahuu kaana faa hisyah, wa saaa sabiilaa" seperti yang selama ini sudah saya lakukan. Salam!
