Konten dari Pengguna

Kampanye, Media, dan Punahnya Hierarki

Muchlis R Luddin

Muchlis R Luddin

Penulis adalah Guru Besar Sosiologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan saat ini menjabat sebagai Irjen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muchlis R Luddin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kampanye, Media, dan Punahnya Hierarki
zoom-in-whitePerbesar

Jika diperhatikan perkembangan kampanye pemilu presiden dan wakil presiden kali ini, kita disuguhi oleh sebuah fenomena baru, kalau boleh kita sebut demikian. Apa fenomena itu?

Fenomena yang sering kita sebut sebagai “the paticipation revolution”, revolusi dalam keterlibatan orang untuk ikut serta dan terlibat di dalam kegiatan media sosial, baik sebagai pihak-pihak yang turut serta dalam konstestasi politik, maupun mereka yang turut serta memberikan komentar, pendapat, pikiran, bahkan “gangguan informasi”.

Apa yang menjadi ciri utama terjadinya “the participation revolution”? Pertanyaan ini sengaja saya ajukan untuk mengenali dengan lebih baik mengapa periode ini berlangsung, dan sampai batas mana periode ini akan mencapai puncaknya.

Sebenarnya ada beberapa ciri yang dapat kita identifikasi: Pertama, terjadi ledakan partisipasi di tengah kehidupan masyarakat. Masyarakat secara tiba-tiba ingin terlibat atau melibatkan diri dalam diskursus media sosial.

Dunia media sosial dipenuhi dengan infomasi, berita, liputan bahkan guyonan. Setiap orang menyampaikan pendapat dan pikirannya. Setiap orang bisa mengekspresikan suara hatinya, baik dalam bentuk bahasa yang santun dan berpendidikan, maupun dalam bentuk bahasa yang kasar dan kurang berpendidikan.

Semua informasi disajikan, sehingga di media sosial, kita menemukan luberan-luberan informasi yang tak lagi bisa kita bedakan mana informasi yang sahih dan akurat, mana pula informasi yang kurang sahih dan menyesatkan. Luberan informasi ini disebabkan oleh terjadinya pasokan informasi yang cukup masif ke tengah kehidupan sosial-politik kita sekarang.

Kedua, setiap orang, sekarang ini, berkesempatan untuk menjadi terkenal hanya dalam waktu yang singkat. Orang bisa menjadi bintang pembahasan dalam waktu lima belas menit ketika masuk ke dalam dunia media sosial. Tak peduli, apakah orang itu terkenal karena keburukannya. Tak peduli pula kalau orang itu bisa terkenal karena keculasannya. Tak peduli pula kalau orang itu terkenal karena kebohongannya.

Setiap orang ingin menjadi terkenal dalam waktu singkat, dan kemudian ia menjadi bintang yang menguras energi pembahasan semua orang. Pendek kata, orang bisa menjadi terkenal dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.

Ragam media sosial (Foto: Pixabay)
zoom-in-whitePerbesar
Ragam media sosial (Foto: Pixabay)

Ketiga, dunia sosial-politik kita, sekarang ini, dipenuhi dengan atmosfir “what we were creating”. Acapkali kita menciptakan apa yang kita imajinasikan menurut pandangan kita, walaupun kita sadar bahwa apa yang menurut pandangan kita itu belum sepenuhnya kita uji kesahihannya. Justru yang dimunculkan adalah sesuatu yang bersifat trial and error.

Ia dilansir dan diunggah ke permukaan media sosial sebagai uji coba untuk mengetahui respons konkrit di tengah kehidupan masyarakat. Itu sebabnya, dunia informasinya kita telah dipenuhi oleh abstraksi-abstraksi dari interes, perasaan, atau bahkan emosi dari orang-orang yang ingin tampil ke permukaan di jagad dunia media sosial.

Akibatnya, dunia sosial kita dipenuhi oleh abstraksi-abstraksi yang baru. Abstraksi yang memerlukan interpretasi mendalam lagi bagi orang-orang yang membacanya.

Keempat, sekarang sedang terjadi dengan apa yang saya sebut sebagai “brain reanimation” di tengah masyarakat kita. Orang-orang mulai giat memasok informasi berdasarkan pikirannya sendiri.

Orang-orang kembali bergairah untuk memfungsikan otak dan pikirannya, memberikan komentar, menyampaikan pendapat, mendebatkan suatu masalah, bahkan ingin menjadi trend setter dengan membawa gagasan-gagasan baru ke tengah ide-ide lama yang menguasai jalur (arus) utama perbincangan.

Mereka ingin memberi warna dan menorehkan warna baru dalam cara pandang, sehingga praktik kehidupan dapat menyajikan ruangan-ruangan baru sebagai kanal terhadap cara “menjadi orang terkenal”.

Kelima, setiap orang cenderung tak lagi mau untuk diperlakukan sebagai konsumen informasi dan berita. Sekarang ini telah muncul tanda-tanda terjadinya perubahan paradigma, dari paradigma yang memperlakukan orang sebagai konsumen ke arah paradigma yang memperlakukan orang sebagai manusia, “as a human”.

Kegiatan dan praktik kehidupan yang memposisikan manusia sebagai konsumen sudah dianggap sebagai sesuatu yang kadaluarsa, karena praktik kehidupan semacam itu dianggap tak berprikemanusiaan lagi. Memperlakukan manusia hanya sebagai konsumen berita dan informasi saja dianggap sebagai rancangan untuk mendehumanisasi manusia.

Orang-orang hanya dijadikan sebagai target. Orang-orang dibiarkan pasif tanpa partisipasi. Orang-orang digiring untuk menyetujui dan mendukung sesuatu, tanpa pernah ada ruang yang cukup untuk menilai, memberi pertimbangan.

Itu sebabnya, era orang menjadi konsumen yang bersifat pasif harus digantikan dengan era baru. Sebuah era yang disebut sebagai “active participation". Inilah era di mana setiap orang merdeka dan bebas untuk menyatakan segala seuatu tanpa dihalangi oleh kerangkeng-kerangkeng sentimen.

Oleh karena itu, setiap orang bisa memperoleh akses luas pada kehidupan publik. Mereka melakukan interaksi secara bebas tanpa memerlukan biaya mahal. Mereka bisa mewujudkan dirinya sebagai “the new stars”.

Oleh karena itu, setiap orang bisa memperoleh akses luas pada kehidupan publik. Mereka melakukan interaksi secara bebas tanpa memerlukan biaya mahal. Mereka bisa mewujudkan dirinya sebagai “the new stars”.

Dalam pandangan Neil Gibb (2018), situasi ini dilukiskan seperti perubahan struktural yang terjadi di dalam kehidupan sosial dan ekonomi, yakni terjadinya “a shift from passive consumption to active participation”.

Jika kita perhatikan secara lebih rinci ciri-ciri seperti di atas, kita akan sampai pada penemuan fakta-fakta baru berupa perubahan fundamental dalam pengorganisasian masyarakat. Model pengorganisasian masyarakat yang lama akan digantikan oleh model pengorganisasian baru yang mendisrupsi model lama.

Mari kita perhatikan fakta-fakta ini: demokrasi adalah model organisasi yang bersifat hierarki. Autokrasi adalah model hierarki. Korporasi adalah hierarki. Partai politik tradisional adalah hierarki. Piramida-piramida hierarki seperti itu akan selalu bekerja dengan paradigma top down.

Model semacam itu, sekarang ini telah dihancurkan secara masif, digantikan dengan model partisipatoris yang tak mengenal hierarki. Mereka menghancurkan hierarki dengan apa yang kita kenal sebagai digital network.

Itulah masa depan. Masa depan yang dirancang oleh sebuah kekuatan jaringan horizontal, yang merangsang setiap orang untuk bersifat inklusif, saling terhubung, saling berkolaborasi, dan melakukan kompetisi dengan fair. Inilah era baru meritokrasi.

Itulah masa depan. Masa depan yang dirancang oleh sebuah kekuatan jaringan horizontal, yang merangsang setiap orang untuk bersifat inklusif, saling terhubung, saling berkolaborasi, dan melakukan kompetisi dengan fair. Inilah era baru meritokrasi.