Konten dari Pengguna

Tentang Immanuel Kant dan Politik Pilpres

Muchlis R Luddin

Muchlis R Luddin

Penulis adalah Guru Besar Sosiologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dan saat ini menjabat sebagai Irjen Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI.

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muchlis R Luddin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tentang Immanuel Kant dan Politik Pilpres
zoom-in-whitePerbesar

Menjelang pendaftaran calon Presiden dan Wakil Presiden pada 10 Agustus 2018 ini, diskursus publik kita mulai “berwarna-warni”. Setiap tokoh politik menyuarakan warna dan warninya. Terkadang, di balik pernyataan tertangkap niat dan tujuan, bahkan acapkali terbaca apa yang ada dibalik pernyataan itu.

Diskursus pernyataan politik dibungkus dengan simbolisme, diberi tanda-tanda, dan diberi konten yang bisa menimbulkan beragam interpretasi dan bermacam-macam persepsi.

Dalam jagad, di mana publik disajikan dengan beragam informasi, baik informasi yang benar, maupun informasi yang keliru, atau bahkan informasi yang dikelirukan, banyak tanggapan yang bermunculan.

Acapkali, tanggapan dikemukakan dengan relevan sesuai substansi yang didiskursuskan, tetapi kerapkali tanggapan dikemukakan dengan nada tak ada sambung menyambungnya dengan apa yang dibicarakan.

Dalam dunia politik, konten yang dibicarakan dan momen kapan memberi konten untuk dibicarakan, menjadi sesuatu yang penting. Konten isu dan kapan isu itu dilansir menjadi salah satu kunci untuk memahami apa yang akan berlaku di dalam praktik politik seseorang. Itulah yang sekarang ini terjadi.

Setiap pengusung calon presiden menebarkan konten isu dan menggunakan momen waktu untuk mempelajari respon masyarakat, baik respons dari kubu lawan, maupun respons dari keberterimaan masyarakat terhadap apa yang hendak dikapitalisasikan.

Dunia politik, memang merupakan representasi praktik seni dalam meyakinkan masyarakat untuk memberi dukungan. Dunia politik, tak sepenuhnya melansir kebenaran, karena kebenaran dibungkus oleh kapitalisasi persepsi masyarakat.

Jokowi dan Prabowo (Foto: Bay Ismoyo/AFP)
zoom-in-whitePerbesar
Jokowi dan Prabowo (Foto: Bay Ismoyo/AFP)

Itu sebabnya, setiap tokoh politik kerap tampak berkutat dengan perdebatan alternatif: siapa calon presiden yang sesungguhnya akan mendapatkan sambutan gegap gempita dari masyarakat? Siapa yang akan memperoleh dukungan dari rakyat sebagai calon pemiih?

Obyek calon presiden dan wakil presiden diusahakan disembunyikan sampai pada konten dan momennya tiba. Objek yang akan diperkenalkan sengaja disembunyikan untuk mendapatkan efek dukungan dan kepenasaran masyarakat. Sehingga ketika momennya tiba, efek itu akan bisa mendorong kapitalisasi legitimasi. Itulah kemudian, masing-masing kubu menyembunyikan untuk sementara, setiap calon wakil presiden.

Mereka menunggu konfirmasi -meminjam terminologi yang digunakan oleh filosof Immanuel Kant- “an object than sense data”. Apa yang kita persepsikan sekarang tentang calon presiden dan wakil presiden merupakan pandangan, sensor, tanggapan pesepsi kita, tetapi persepsi itu masih berada di dalam kepala kita. Berada di dalam pikiran kita.

Persoalannya, apakah sesuatu yang ada di dalam pikiran dan kepala kita adalah itulah yang benar, belumlah tentu. Kita akan tahu kalau apa yang dipikirkan oleh kita diharapkan itulah yang menjadi kenyataan, sehingga jelaslah objeknya.

Tetapi, apakah yang benar itu, yang akan menjadi kenyataan itu adalah yang sedang kita pikirkan? Atau mungkin sebaliknya, bahwa yang benar itu yang menjadi objeknya.

Sebagian orang menyatakan bahwa yang akan menjadi kenyataan dan benar itu adalah yang ada di dalam pikirannya (yang sedang digodok, yang ada disakunya).

Sebagian orang mengatakan bahwa apa yang ada dipikiran itu belum tentu yang akan menjadi kebenaran, sebab tak mungkin yang dipikirkan tak bergayut dengan kenyataannya. Kalau “yang benar” itu yang ada di dalam pikiran, maka objek menjadi bahan pengamatan saja, sehingga objek tak sepenuhnya akan “menjadi benar”, atau akan menjadi kenyataan.

SBY memberi keterangan pers usai pertemuan dengan Prabowo Subianto di Mega Kuningan, Jakarta, Selasa (24/7). (Foto: Nugroho Sejati/kumparan)
zoom-in-whitePerbesar
SBY memberi keterangan pers usai pertemuan dengan Prabowo Subianto di Mega Kuningan, Jakarta, Selasa (24/7). (Foto: Nugroho Sejati/kumparan)

Pertarungan untuk saling menyimpan calon dalam ruang diskursus, -sudah dikantongi, sudah dibahas, sedang dalam proses pengerucutan- merupakan tarik menarik intensif antara objek dan pikiran.

Apakah yang akan menjadi nyata, yang menjadi kebenaran, yang jadi calon presiden atau wakil presiden itu, yang sesuai dengan objek, atau bahkan yang sesuai itu adalah yang ada di dalam pikiran.

Tarik menarik ini terus berlangsung, disertai bumbu argumentasi dan strategi. Tarik menarik yang kemudian akan tiba kepada momen, saat di mana objek dan pikiran disatukan: bertemunya antara “apa yang ada di dalam pikiran” dengan “objek” nyata yang kongkrit.

Pertanyaan kemudian datang, manakah yang lebih menjanjikan atau yang lebih benar? Apakah objek itulah yang benar, atau yang ada di dalam pikiran itu yang benar? Pertanyaan ini baru kita bisa jawab ketika terjadinya respons di tengah masyarakat. Apakah masyarakat memberi respons yang positif dan gegap-gempita, atau masyarakat memberi respon yang biasa-biasa saja, atau bahkan memberi respon negatif.

Di situ kita akan dapat memberi penilaian, mana sesungguhnya yang paling benar. Masyarakat yang akan menentukan bahwa mana calon presiden dan wakil presiden yang kompatibel dengan “akal pikiran umum” di dalam masyarakat, dan mana calon presiden dan wakil presiden yang cocok dengan bayangan sosok objek di tengah kesadaran kolektif masyarakat.

Pemilu presiden dan wakil presiden, dalam derajat tertentu, adalah usaha kita untuk memastikan “what the world is really like”. Sebab dalam banyak praktik politik kita, banyak sekali apa yang didemonstrasikan kepada masyarakat hanyalah praktik politik sekitar pencitraan, make up.

Sebuah spanduk atau sebuah billboard, yang acap tak merepresentasikan (kualitas) yang sesungguhnya. Masyarakat diberondong oleh pasokan pencitraan yang banyak mengandung manipulasi substansi. Bahkan masyarakat dipaksa untuk -seolah-olah- menyetujui dengan proses pencitraan dan manipulasi tersebut.

Oleh karena, billboard dan spanduk tak bisa mencerminkan yang sesungguhnya. Billboard dan spanduk hanyalah alat untuk mendekatkan proses manipulatif di dan ke tengah kehidupan masyarakat, agar substansi kebenaran dapat diselubungi, sehingga objek terkikis dari disinformasi.

Dalam bahasa ilmu dikatakan bahwa “our knowledge of the external world comes to us through our sense. It is always, in a certain sense, uncertain”. Itu sebab, kita harus senantiasa berada dalam kesadaran bahwa apa yang datang kepada kita -apakah itu informasi dalam bentuk spanduk, billboard, meme, pamflet, selebaran, kaos, bendera, gambar, atau simbol-simbol politik lainnya- merupakan sajian-sajian yang harus kita cerna dengan seksama.

Karena kita tahu sajian itu belum tentu menunjukkan kebenaran yang sesungguhnya. Dalam kesempatan ini, saya ingin mengulangi lagi pertanyaan Immanuel Kant seperti di bawah ini, sekadar untuk menjaga sekaligus mengingatkan masyarakat, agar tak terjebak dengan “kebenaran manipulatif”, yang ada di dalam diskursus publik kita: tak terjebak dengan apa yang ada di dalam spanduk dan billboard-billboard di sekeliling kita.

Pertanyaan itu adalah “what is strawberry ‘in itself’ that make it appear red and sweet—or otherwise—when run through our sensory equipment?” Jawaban dan perenungan terhadap dan dari pertanyaan itu, mudah-mudahan dapat menyadarkan masing-masing kita untuk tetap berhati-hati, tenang, dan rasional dalam bersikap.

Dengan begitu, kehidupan kita akan terus guyub, aman dan damai. Selamat mengikuti dan menikmati teka-teki calon presiden dan wakil presiden menjelang pemilu ini dengan tersenyum dan penuh rileks. Semoga kehidupan kita lebih adil, sejahtera, dan dalam kemakmuran.

*Penulis adalah Guru Besar UNJ/Wakil Rektor I UNJ