Konten dari Pengguna

Bersaing atau Bersekongkol? Ketika Perusahaan Justru Memilih Berdekatan

Muchsin Zuhad Al'asqolaini

Muchsin Zuhad Al'asqolaini

Dosen STIE NU Trate Gresik, Mahasiswa Program Doktoral (S3) Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dengan minat riset di bidang manajemen sumber daya manusia

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muchsin Zuhad Al'asqolaini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi persaingan bisnis, perusahaan berdekatan sebagai bentuk strategi rasional dalam merebut dan mempertahankan pasar. Gambar Ilustrasi Generated by AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi persaingan bisnis, perusahaan berdekatan sebagai bentuk strategi rasional dalam merebut dan mempertahankan pasar. Gambar Ilustrasi Generated by AI

Jika kita perhatikan dengan seksama hampir di berbagai sudut kota di seantero indonesia, kita kerap kali menjumpai fenomena yang tampak paradoksial, perusahaan-perusahaan yang bersaing justru berdiri berdampingan. Minimarket, restoran, dealer mobil, hingga toko pakaian sering kali memilih lokasi yang sama atau sangat berdekatan. Bahkan pemandangan seperti Alfamart dan Indomaret yang berdiri dengan jarak beberapa meter bukan lagi hal yang mengejutkan. Namun, bagi sebagian orang fenomena perusahaan berdekatan ini memunculkan pertanyaan sederhana, apakah mereka benar-benar sedang bersaing, atau justru bersekongkol?

Secara logika sederhana, persaingan seharusnya mendorong pelaku usaha untuk saling menjauh demi menghindari benturan secara langsung. Logika awam mengatakan bahwa dengan menyebar, masing-masing perusahaan bisa menguasai wilayahnya sendiri - sendiri. Namun realitas bisnis justru menunjukkan pola sebaliknya. Perusahaan cenderung berkumpul di titik yang sama mereka berada di pusat keramaian, di jalur strategis, atau di kawasan dengan konsentrasi konsumen tinggi. Fenomena ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari logika strategis yang dapat dijelaskan melalui beberapa teori diantaranya Game Theory, Hotelling's Law, dan Nash Equilibrium.

Secara sederhana, untuk memahami fenomena ini kita dapat membayangkan dua penjual es krim di sebuah pantai yang Panjang dimana konsumen tersebar dari ujung kiri hingga ujung kanan bibir pantai. Pada awalnya, kedua penjual mungkin memilih posisi yang berjauhan masing-masing melayani separuh Pantai, sekilas ini adalah hal yang wajar dan tampak terlihat adil dan efisien. Namun, situasi yang demikian ini tidaklah stabil.

Salah satu penjual es krim akan menyadari bahwa dengan sedikit bergerak ke arah tengah, ia bisa menarik lebih banyak pembeli, termasuk sebagian pelanggan dari pesaingnya. Melihat hal itu, penjual es krim yang lain tidak akan tinggal diam, Ia pun akan melakukan hal yang sama dengan ikut bergerak mendekat ke tengah untuk mempertahankan pelanggannya. Proses ini terus berlanjut hingga akhirnya kedua penjual es krim tersebut berdiri berdampingan di pusat pantai. Inilah ilustrasi klasik dari Hotelling Model yang diperkenalkan oleh Harold Hotelling.

Dalam model tersebut, konsumen diasumsikan akan memilih penjual yang paling dekat. Oleh karena itu, lokasi di tengah menjadi posisi paling strategis ketika ada lebih dari satu pemain, masing-masing terdorong untuk mendekati titik tersebut. Fenomena ini dikenal sebagai principle of minimum differentiation, yaitu kecenderungan pesaing untuk menjadi semakin mirip termasuk dalam hal lokasi demi mempertahankan pasar.

Penjelasan ini, kemudian semakin kuat ketika dilihat melalui perspektif Game Theory yang melihat perusahaan sebagai “pemain” yang keputusannya saling bergantung. Ketika satu perusahaan memilih lokasi strategis, pesaing harus ikut merespons. Jika ia memilih menjauh, maka ia akan kehilangan konsumen yang terkonsentrasi di titik tersebut. Sebaliknya, dengan mendekat, ia tetap memiliki akses terhadap pasar utama, meskipun harus berbagi dengan pesaing.

Pada titik tertentu, interaksi strategis semacam ini akan mencapai kondisi yang disebut Nash Equilibrium, sebuah konsep yang diperkenalkan oleh John Nash. Dalam kondisi ini, setiap perusahaan telah memilih strategi terbaiknya dengan mempertimbangkan strategi pesaing, sehingga tidak ada yang diuntungkan jika berubah secara sepihak. Jika salah satu perusahaan memutuskan untuk menjauh, ia justru akan kehilangan pelanggan karena pelanggan akan lebih condong kepada pesaing yang tetap bertahan berada di lokasi yang strategis tersebut. Maka, bertahan di lokasi yang sama menjadi pilihan yang paling rasional.

Fenomena semacam ini senyatanya tidak hanya terjadi pada minimarket atau ilustrasi penjual es krim di Pantai saja, kita dapat menemukannya di berbagai sektor bisnis maupun industri lainnya. Kawasan kuliner yang dipenuhi restoran dengan menu serupa justru menjadi magnet bagi pengunjung, deretan dealer mobil dari berbagai merek berkumpul di satu jalan, memudahkan konsumen untuk membandingkan pilihan bahkan dalam pusat perbelanjaan, toko-toko dengan segmen pasar yang sama sering ditempatkan dalam satu area. Kedekatan ini menciptakan apa yang dikenal sebagai cluster effect, di mana konsentrasi pelaku usaha justru meningkatkan daya tarik pasar secara keseluruhan.

Menariknya, ketika perusahaan berada di lokasi yang sama, persaingan tidak lagi bertumpu pada lokasi semata, mereka dipaksa untuk bersaing melalui faktor lain semisal harga, kualitas layanan, kenyamanan, inovasi, hingga pengalaman pelanggan. Dalam kondisi seperti ini, konsumen justru diuntungkan karena memiliki lebih banyak pilihan dan standar layanan yang lebih baik. Dari sudut pandang ini, anggapan bahwa perusahaan yang berdekatan sedang bersekongkol menjadi kurang tepat karena apa yang terjadi dan terlihat sebagai kedekatan justru merupakan hasil dari persaingan yang intens dan rasional, mereka tidak menghindari kompetisi, tetapi justru mereka memilih untuk bertarung di arena yang sama.

Pada akhirnya, fenomena ini mengajarkan bahwa dalam dunia bisnis modern, strategi tidak selalu berjalan lurus sesuai logika sederhana tetapi kadang untuk memenangkan persaingan, perusahaan tidak perlu menjauh dari pesaingnya melainkan cukup berdiri di sampingnya, dan membuktikan siapa yang benar-benar mampu merebut hati konsumen.