Konten dari Pengguna

Fenomena MOKONDO: Modal Kosong, Dong? Ketika Mampu tapi Nggak Mau

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mustahidah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi: Generated by AI.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi: Generated by AI.

“Mokondo.”

Istilah ini mungkin terdengar seperti candaan yang sering muncul di media sosial. Kata tersebut biasanya digunakan untuk menggambarkan seseorang yang dalam hubungan lebih banyak menerima bantuan dari pasangannya, terutama dalam hal finansial, sementara kontribusinya justru minim.

Tapi, apakah seseorang yang tidak punya uang otomatis bisa disebut mokondo?

Tentu tidak.

Sebab, ada perbedaan besar antara tidak mampu dan tidak mau.

Seseorang bisa saja sedang tidak memiliki penghasilan, kehilangan pekerjaan, masih mencari pekerjaan, atau memang sedang berada dalam kondisi ekonomi yang sulit. Mendapatkan bantuan dari pasangan dalam situasi seperti itu bukan berarti seseorang otomatis menjadi mokondo.

Persoalannya muncul ketika kemampuan sebenarnya ada, kesempatan tersedia, tetapi kemauan untuk berkontribusi justru tidak ada.

Tidak Punya Uang Bukan Berarti Tidak Bertanggung Jawab

Dalam sebuah hubungan, kondisi finansial setiap orang tentu bisa berbeda.

Ada pasangan yang penghasilannya tidak seimbang. Ada yang salah satunya sedang kuliah, mengurus anak, atau berada dalam masa sulit. Ada pula pasangan yang memang memiliki pembagian peran tertentu dalam rumah tangga.

Karena itu, kontribusi dalam hubungan tidak selalu bisa dihitung dari nominal uang.

Seseorang yang tidak menghasilkan uang bukan berarti tidak memberikan kontribusi. Mengurus rumah, menjaga anak, membantu pasangan, memberikan dukungan emosional, atau mengambil tanggung jawab lain juga merupakan bentuk kontribusi.

Yang menjadi persoalan adalah ketika seseorang tidak mengambil bagian dalam tanggung jawab bersama, padahal sebenarnya ia mampu, tetapi tetap merasa berhak mendapatkan fasilitas dari pasangannya.

Di titik inilah istilah mokondo mulai terasa relevan.

Bukan semata-mata karena seseorang sedang tidak punya uang, tetapi karena tidak ada kemauan untuk berusaha atau mengambil bagian dalam tanggung jawab bersama.

Yang Berat Bukan Selalu Soal Uang

Hubungan bukan perusahaan yang setiap kontribusinya harus dihitung menggunakan kalkulator.

Tidak harus selalu 50:50.

Kadang seseorang memberikan lebih banyak uang, sementara pasangannya memberikan lebih banyak waktu dan tenaga. Di kondisi lain, pembagiannya bisa berubah lagi.

Yang penting adalah adanya kemauan untuk berkontribusi sesuai kemampuan masing-masing.

Bayangkan dua orang sedang menghadapi kebutuhan rumah tangga.

Orang pertama mungkin berkata, “Aku belum bisa membantu secara finansial, tetapi aku akan mengambil bagian dalam pekerjaan rumah dan mencari cara lain untuk membantu.”

Sementara orang kedua sebenarnya memiliki kemampuan untuk bekerja atau mencari penghasilan, tetapi memilih tidak melakukan apa-apa karena merasa sudah ada pasangan yang akan membiayai.

Secara finansial, keduanya sama-sama tidak memberikan banyak uang.

Tetapi secara sikap, keduanya berbeda.

Yang satu sedang tidak mampu.

Yang satu lagi bisa saja tidak mau.

Perbedaan inilah yang sering hilang ketika istilah mokondo digunakan terlalu sembarangan.

Ketika Bantuan Berubah Menjadi Ketergantungan

Mendapatkan bantuan dari pasangan sebenarnya bukan sesuatu yang memalukan.

Dalam hubungan, wajar jika seseorang membantu pasangannya ketika sedang kesulitan. Hari ini mungkin satu pihak yang membantu, suatu saat keadaan bisa saja berbalik.

Masalahnya muncul ketika bantuan yang awalnya bersifat sementara berubah menjadi sesuatu yang dianggap sebagai kewajiban permanen.

Pasangan yang membantu akhirnya dianggap memang harus membayar.

Sementara pihak yang menerima bantuan tidak lagi merasa perlu mencari solusi karena kebutuhan hidup sudah ditanggung.

Kalau kondisi tersebut berlangsung terus-menerus, hubungan bisa berubah dari kerja sama menjadi ketergantungan satu arah.

Yang satu terus memberi.

Yang satu terus menerima.

Dan yang paling berbahaya, kondisi tersebut lama-lama dianggap sebagai sesuatu yang normal.

Jangan Menjadikan “Mokondo” sebagai Label untuk Semua Orang

Di sisi lain, istilah mokondo juga perlu digunakan dengan hati-hati.

Jangan sampai seseorang yang sedang menganggur langsung diberi label mokondo. Jangan pula menganggap pasangan yang penghasilannya lebih kecil sebagai beban.

Kondisi setiap orang berbeda.

Ada orang yang sedang mencari pekerjaan. Ada yang sedang membangun usaha dari nol. Ada yang mengurus rumah dan anak. Ada pula yang sedang berada dalam kondisi ekonomi yang memang belum memungkinkan untuk banyak berkontribusi secara finansial.

Karena itu, yang perlu dilihat bukan hanya berapa banyak uang yang diberikan, tetapi juga seberapa besar kemauan seseorang untuk mengambil tanggung jawab.

Sebab, orang yang belum mampu masih bisa memiliki kemauan.

Sebaliknya, orang yang sebenarnya mampu pun bisa memilih untuk tidak melakukan apa-apa.

Hubungan Bukan Tentang Siapa yang Paling Banyak Memberi

Pada akhirnya, hubungan bukan kompetisi tentang siapa yang paling banyak mengeluarkan uang.

Bukan juga tentang siapa yang harus selalu menjadi pencari nafkah.

Yang lebih penting adalah apakah kedua orang di dalam hubungan tersebut sama-sama memiliki rasa tanggung jawab.

Ketika satu pihak sedang jatuh, pihak lain membantu.

Ketika keadaan sudah membaik, ada kemauan untuk kembali mengambil bagian.

Begitu juga ketika kemampuan finansial berbeda. Kontribusi bisa disesuaikan dengan kondisi masing-masing.

Sebab, pasangan seharusnya menjadi rekan untuk menjalani hidup, bukan seseorang yang terus-menerus dijadikan sumber pembiayaan.

Tidak semua orang yang sedang tidak punya uang adalah mokondo.

Ada yang sedang berjuang. Ada yang sedang jatuh. Ada yang memang membutuhkan bantuan.

Yang menjadi persoalan adalah ketika kemampuan sebenarnya ada, kesempatan tersedia, tetapi seseorang memilih untuk tidak berusaha karena sudah terlalu nyaman ketika kebutuhannya ditanggung orang lain.

Jadi, mungkin yang sebenarnya kosong bukan modalnya, tapi kemauannya.