In This Economy: Bertahan Hidup vs Hidup Layak

Mahasiswa S1 Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang (UNPAM)
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Mustahidah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“In this economy?”
Kalau sering melihat media sosial, mungkin kita sudah tidak asing dengan kalimat ini.
Mau nongkrong? In this economy?
Mau beli barang mahal? In this economy?
Mau healing setiap bulan? In this economy?
Awalnya terdengar seperti candaan. Semacam cara Gen Z mengatakan, “Kayaknya nggak dulu deh, dompetku tidak memungkinkan.”
Tapi di balik candaan itu, ada realitas yang cukup serius.
Sebab sekarang, semakin banyak orang bukan hanya bertanya, “Aku mau beli apa?”
Tetapi mulai bertanya,
“Aku mampu nggak?”
Ketika Bertahan Hidup Menjadi Standar
Coba lihat kehidupan sehari-hari.
Gaji masuk. Kemudian uang dibagi untuk makan, transportasi, tempat tinggal, listrik, pulsa, cicilan, kebutuhan keluarga, pendidikan, dan berbagai pengeluaran lainnya.
Kalau masih ada sisa, mungkin bisa ditabung.
Kalau tidak ada?
Tunggu gajian berikutnya.
Sederhana, tetapi melelahkan.
Kita akhirnya menjadi sangat pandai menghitung. Harga makan dihitung. Ongkos dihitung. Tagihan dihitung.
Bahkan ketika ingin membeli sesuatu untuk diri sendiri, muncul pertanyaan:
“Kalau beli ini, nanti cukup sampai akhir bulan nggak?”
Di titik tertentu, hidup bukan lagi tentang memilih apa yang kita inginkan.
Hidup berubah menjadi memilih mana yang harus didahulukan.
Begitulah cara banyak orang menjalani hidup: bukan menghitung berapa banyak yang bisa dinikmati, tetapi berapa lama uang yang tersisa bisa bertahan.
Bisa Bertahan Belum Tentu Hidup Layak
Di sinilah kita perlu membedakan dua hal: bertahan hidup dan hidup layak.
Bertahan hidup berarti kebutuhan dasar masih terpenuhi. Masih bisa makan, masih bisa bekerja, masih bisa membayar tagihan, dan masih bisa melewati bulan.
Tetapi hidup layak seharusnya memberi sedikit ruang lebih.
Ruang untuk menabung.
Ruang untuk beristirahat.
Ruang untuk berobat ketika sakit.
Ruang untuk menghadapi keadaan darurat.
Ruang untuk menikmati hidup tanpa merasa bersalah.
Dan yang tidak kalah penting, ruang untuk memikirkan masa depan.
Masalahnya, ketika hampir seluruh penghasilan habis untuk kebutuhan dasar, ruang itu semakin sempit.
Menabung menjadi sesuatu yang dilakukan kalau ada uang lebih. Liburan dianggap kemewahan. Makan enak harus menunggu momen tertentu.
Bahkan membeli sesuatu untuk diri sendiri terasa seperti keputusan finansial besar.
Bukan karena ingin hidup mewah.
Kadang kita hanya ingin hidup tanpa terus-menerus cemas soal uang.
Lalu, Seberapa Besar Ruang Finansial Kita?
Perasaan tentang sempitnya ruang finansial tentu berbeda pada setiap orang. Namun, data resmi bisa memberi gambaran tentang kondisi penghasilan pekerja.
Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), rata-rata upah buruh pada Mei 2026 sebesar Rp3,39 juta per bulan.
Tentu saja, angka tersebut merupakan rata-rata nasional. Penghasilan setiap pekerja berbeda-beda, tergantung wilayah, pekerjaan, pengalaman, dan berbagai faktor lainnya.
Pada Maret 2026, BPS juga mencatat garis kemiskinan nasional sebesar Rp669.235 per kapita per bulan. Dari jumlah tersebut, Rp499.886 berasal dari komponen makanan dan Rp169.349 dari komponen bukan makanan.
Namun, angka garis kemiskinan tersebut perlu dipahami dengan tepat.
Garis kemiskinan adalah ukuran statistik untuk menentukan status kemiskinan, bukan patokan biaya hidup layak.
Justru di sinilah pertanyaan tentang hidup layak menjadi menarik.
Seseorang bisa berada di atas garis kemiskinan, tetapi belum tentu memiliki ruang finansial yang cukup untuk menabung, menghadapi keadaan darurat, atau menikmati hidup dengan tenang.
“In This Economy” Ternyata Bukan Cuma Candaan
Mungkin itu yang membuat istilah “in this economy” terasa begitu dekat.
Sebab kalimat sederhana tersebut sebenarnya menggambarkan satu kondisi:
Keinginan kita masih banyak, tetapi kemampuan membayarnya punya batas.
Kita ingin punya rumah.
Ingin menabung.
Ingin sekolah lebih tinggi.
Ingin membawa orang tua jalan-jalan.
Ingin punya dana darurat.
Ingin sesekali makan di restoran.
Ingin membeli sesuatu yang kita suka.
Tetapi semuanya harus masuk ke dalam satu pertanyaan:
“Uangnya dari mana?”
Dan pertanyaan itu semakin sering muncul dalam kehidupan sehari-hari.
Tidak Semua Orang Ingin Hidup Mewah
Ketika seseorang mengeluhkan biaya hidup, respons yang muncul kadang sederhana:
“Ya, tinggal hemat.”
Nasihat itu terdengar masuk akal sampai kita sadar bahwa tidak semua orang sedang menghabiskan uang untuk hal-hal yang tidak perlu.
Orang tetap harus makan.
Tetap harus pergi bekerja.
Anak tetap membutuhkan pendidikan.
Tagihan tetap datang.
Kebutuhan kesehatan tetap ada.
Dan kehidupan tidak selalu memberi pemberitahuan sebelum menghadirkan pengeluaran baru.
Karena itu, persoalannya bukan sekadar apakah seseorang pandai mengatur uang.
Kadang persoalannya adalah seberapa besar ruang yang tersisa setelah kebutuhan dasar dibayar.
Jadi, Kita Sedang Hidup atau Hanya Bertahan?
Definisi hidup layak tentu berbeda bagi setiap orang.
Tidak harus punya mobil.
Tidak harus punya rumah besar.
Tidak harus liburan ke luar negeri.
Bagi sebagian orang, hidup layak mungkin sesederhana punya tabungan.
Bagi yang lain, bisa membayar biaya pendidikan anak tanpa berutang.
Ada yang ingin punya dana darurat.
Ada yang hanya ingin ketika sakit, mereka bisa berobat tanpa takut uang bulanannya habis.
Mungkin hidup layak bukan tentang menjadi kaya.
Mungkin hidup layak adalah ketika kita punya ruang untuk bernapas.
Ruang untuk menikmati sesuatu.
Ruang untuk beristirahat.
Ruang untuk menghadapi kejadian tak terduga.
Dan ruang untuk memikirkan masa depan, bukan hanya bagaimana caranya sampai ke akhir bulan.
Jadi ketika Gen Z bercanda,
“In this economy?”
Mungkin sebenarnya ada pertanyaan yang jauh lebih serius di baliknya:
“Kalau sebagian besar energi kita habis untuk memastikan kebutuhan dasar terpenuhi, kapan kita punya kesempatan untuk benar-benar menikmati hidup?”
Sebab bertahan hidup memang penting.
Tapi kita juga ingin hidup.
