Kemiskinan Bisa Membuat Seseorang Kehilangan Pilihan Harga yang Lebih Murah

Mahasiswa S1 Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang (UNPAM)
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Mustahidah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bayangkan seseorang hanya memiliki uang Rp20 ribu untuk membeli beras hari itu. Di toko, tersedia dua pilihan. Beras satu kilogram bisa dibeli dengan harga Rp20 ribu. Sementara itu, ada kemasan lima kilogram yang jika dihitung berdasarkan harga per kilogram sebenarnya lebih murah.
Secara hitungan ekonomi, membeli lima kilogram jelas lebih hemat. Masalahnya, orang tersebut tidak punya cukup uang untuk membelinya.
Akhirnya, ia membeli satu kilogram. Bukan karena tidak tahu bahwa kemasan yang lebih besar lebih murah, bukan juga karena tidak ingin berhemat. Pilihan tersebut memang yang paling mungkin dilakukan dengan uang yang tersedia saat itu.
Situasi seperti ini mungkin terlihat sederhana, tetapi sebenarnya menunjukkan persoalan yang lebih besar dalam ekonomi: pilihan yang paling murah belum tentu menjadi pilihan yang bisa dijangkau oleh semua orang.
Kita sering mendengar nasihat seperti “beli dalam jumlah besar supaya lebih murah”, “cari promo”, atau “belanja di tempat dengan harga paling rendah”. Nasihat tersebut masuk akal bagi orang yang memiliki cukup uang untuk membayar di muka.
Namun, bagi seseorang yang penghasilannya terbatas dan harus memenuhi kebutuhan dari hari ke hari, kemampuan untuk mengambil pilihan tersebut bisa sangat berbeda.
Di sinilah kemiskinan tidak hanya berbicara tentang berapa banyak uang yang dimiliki seseorang. Kemiskinan juga dapat berkaitan dengan seberapa luas pilihan ekonomi yang benar-benar tersedia bagi seseorang.
Ketika pilihan termurah tidak bisa dipilih
Bayangkan seseorang membutuhkan beras, tetapi uang yang tersedia hanya cukup untuk membeli satu kilogram. Sementara itu, membeli lima kilogram sekaligus sebenarnya membuat harga per kilogram menjadi lebih murah.
Secara matematika, membeli lima kilogram memang lebih ekonomis. Tetapi secara kemampuan finansial, pilihan tersebut mungkin tidak tersedia.
Artinya, harga bukan satu-satunya persoalan. Kemampuan untuk membayar di muka juga menjadi bagian dari keputusan ekonomi seseorang.
Hal ini berkaitan dengan istilah poverty premium. Dalam penelitian University of Bristol, “Paying more for less: The poverty premium in 2026”, poverty premium dijelaskan sebagai biaya tambahan yang dapat dihadapi rumah tangga berpendapatan rendah untuk mendapatkan barang dan layanan penting karena adanya berbagai hambatan yang mereka hadapi akibat kondisi pendapatan yang rendah.
Penelitian tersebut melihat kondisi rumah tangga berpendapatan rendah di Inggris pada 2026, dengan fokus pada beberapa kebutuhan dan layanan penting seperti energi, asuransi, kredit, dan makanan. Penelitian ini juga melanjutkan penelitian sebelumnya yang dilakukan pada 2016, 2019, dan 2022.
Namun, penelitian tersebut dilakukan dalam konteks Inggris. Karena itu, temuan tersebut tidak bisa langsung dianggap menggambarkan kondisi seluruh masyarakat Indonesia.
Meski begitu, konsepnya menarik untuk melihat kemiskinan dari sudut yang berbeda. Keterbatasan pendapatan bukan hanya dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk membeli sesuatu, tetapi dalam kondisi tertentu juga dapat membatasi pilihan yang tersedia.
Lebih murah belum tentu lebih terjangkau
Ini bagian yang sering luput ketika kita berbicara tentang penghematan. Sebuah produk bisa lebih murah jika dibeli dalam kemasan besar. Tetapi untuk mendapatkan harga tersebut, seseorang harus memiliki uang yang cukup untuk membayar lebih banyak dalam satu waktu.
Bagi orang yang memiliki penghasilan cukup, membeli dalam jumlah besar mungkin menjadi strategi untuk menghemat. Namun bagi seseorang yang uangnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hari itu, strategi tersebut belum tentu bisa dilakukan. Dengan kata lain, lebih murah tidak selalu berarti lebih mudah dijangkau.
Ada biaya yang tidak terlihat
Harga barang juga bukan satu-satunya biaya dalam sebuah keputusan ekonomi. Misalnya, seseorang tinggal jauh dari supermarket yang menawarkan harga lebih murah. Ia memang bisa mendapatkan barang dengan harga lebih rendah jika berbelanja di sana.
Tetapi perjalanan membutuhkan ongkos transportasi dan waktu. Sementara itu, toko kecil yang berada di dekat rumah mungkin menjual barang dengan harga sedikit lebih mahal, tetapi bisa dijangkau dengan berjalan kaki.
Bagi seseorang yang memiliki kendaraan, waktu luang, dan uang transportasi, pergi ke supermarket mungkin bukan masalah.
Namun bagi seseorang yang harus menghitung pengeluaran sampai ke rupiah terakhir, toko yang lebih dekat bisa menjadi pilihan yang lebih realistis. Jadi, biaya ekonomi seseorang tidak selalu terlihat dari label harga barang.
Bukan berarti orang miskin selalu membayar lebih mahal
Di sini kita juga perlu berhati-hati. Tidak tepat jika langsung mengatakan bahwa orang miskin selalu membayar lebih mahal. Kondisi setiap orang, barang, dan pasar bisa berbeda.
Yang bisa kita lihat adalah bahwa keterbatasan pendapatan dapat membuat seseorang menghadapi hambatan tertentu ketika ingin mendapatkan barang atau layanan dengan biaya yang lebih rendah.
Karena itu, persoalan kemiskinan tidak hanya berkaitan dengan daya beli. Dalam kondisi tertentu, kemiskinan juga dapat memengaruhi akses dan pilihan ekonomi seseorang.
Bagaimana dengan Indonesia?
Konsep poverty premium dari penelitian University of Bristol perlu dibaca sesuai konteksnya karena penelitian tersebut membahas rumah tangga berpendapatan rendah di Inggris.
Indonesia tentu memiliki kondisi ekonomi, karakteristik pasar, dan persoalan akses yang berbeda.
Karena itu, kita tidak bisa langsung mengatakan bahwa masyarakat berpendapatan rendah di Indonesia mengalami poverty premium dengan kondisi yang sama seperti dalam penelitian tersebut.
Namun, konsep ini tetap bisa menjadi sudut pandang yang menarik untuk melihat persoalan kemiskinan di Indonesia.
Kita tidak cukup hanya bertanya:
“Berapa harga barangnya?”
Kita juga perlu bertanya:
“Siapa yang punya akses untuk mendapatkan harga tersebut?”
Dua orang bisa melihat harga barang yang sama, tetapi belum tentu memiliki kemampuan yang sama untuk mendapatkannya.
Kemiskinan bukan hanya soal nominal
Selama ini, pembicaraan mengenai pengelolaan keuangan sering berpusat pada kemampuan seseorang mengatur pengeluaran.
Memang, kemampuan mengatur uang penting.Tetapi ada batas ketika seseorang sudah harus memilih antara kebutuhan-kebutuhan yang sama-sama penting.
Menyuruh seseorang membeli dalam jumlah besar agar lebih hemat tidak banyak membantu jika uang yang tersedia memang hanya cukup untuk membeli sedikit.
Menyuruh seseorang berbelanja di tempat yang lebih murah juga tidak selalu menyelesaikan masalah jika tempat tersebut jauh dan membutuhkan ongkos perjalanan.
Di sinilah kita perlu melihat kemiskinan dari sudut yang sedikit berbeda. Kemiskinan bukan hanya tentang kehilangan daya beli. Dalam kondisi tertentu, keterbatasan ekonomi juga dapat membuat seseorang kehilangan pilihan untuk mendapatkan harga yang lebih murah.
Dan mungkin, ketika membicarakan kemiskinan, pertanyaan yang perlu kita ajukan bukan hanya:
“Mengapa mereka tidak membeli yang lebih murah?”
Tetapi:
“Apakah pilihan yang lebih murah itu memang tersedia dan terjangkau bagi mereka?”
