Saya Seorang Ibu, Saya Bekerja, dan Saya Kembali Menjadi Mahasiswa

Mahasiswa S1 Program Studi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Pamulang (UNPAM)
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Mustahidah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pagi saya berangkat bekerja. Setelah pekerjaan selesai, hidup saya belum benar-benar berhenti. Ada seorang anak yang menunggu di rumah dan ada tugas kuliah yang harus dikerjakan.
Saya adalah seorang ibu. Saya juga seorang pekerja. Dan sekarang, saya kembali menjadi mahasiswa.
Keputusan untuk kuliah lagi mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang. Tinggal mendaftar, mengikuti kelas, mengerjakan tugas, lalu mendapatkan gelar. Namun bagi saya, keputusan tersebut berarti menambahkan satu lagi tanggung jawab di antara banyak tanggung jawab yang sudah ada.
Ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Ada anak yang membutuhkan perhatian. Ada urusan rumah yang tidak selalu bisa ditunda. Di sisi lain, ada kelas yang harus diikuti, materi yang harus dipelajari, tugas yang harus dikumpulkan, dan ujian yang harus dipersiapkan.
Kadang semuanya berjalan baik. Tetapi ada juga hari ketika rasa lelah datang bersamaan.
Pulang kerja dalam keadaan capek, tetapi masih harus membuka laptop untuk mengerjakan tugas kuliah bukan sesuatu yang mudah. Ada kalanya saya lebih ingin tidur daripada membaca materi. Ada saat ketika deadline tugas terasa semakin dekat sementara waktu yang saya punya terasa semakin sedikit.
Di situlah saya mulai belajar bahwa menjalani kuliah sebagai seorang ibu berbeda dengan ketika seseorang bisa sepenuhnya fokus menjadi mahasiswa.
Saya tidak hanya membawa buku dan laptop ke dalam perjalanan kuliah. Saya juga membawa tanggung jawab sebagai seorang ibu dan pekerja.
Namun, justru dari situ saya belajar tentang arti waktu.
Dulu mungkin dua atau tiga jam terasa seperti waktu yang panjang. Sekarang saya bisa merasakan betapa berharganya satu jam yang benar-benar bisa digunakan untuk belajar tanpa gangguan.
Saya juga belajar bahwa tidak semua hal harus dilakukan dengan sempurna. Ada kalanya rumah belum sepenuhnya rapi ketika saya harus mengerjakan tugas. Ada kalanya belajar dilakukan setelah anak tidur. Ada pula tugas yang baru bisa dikerjakan setelah pekerjaan selesai.
Bukan karena saya tidak punya kesibukan lain, tetapi karena saya memang memilih untuk tetap belajar di tengah kesibukan tersebut.
Mengapa Saya Memilih Kuliah Lagi?
Pertanyaan ini beberapa kali muncul dalam pikiran saya sendiri.
Mengapa harus kuliah lagi?
Bukankah saya sudah menjadi ibu? Bukankah saya sudah bekerja? Bukankah hidup sudah cukup sibuk?
Jawabannya bukan karena saya merasa kehidupan saya sekarang kurang.
Saya hanya ingin memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk berkembang.
Bagi saya, pendidikan bukan hanya tentang mendapatkan ijazah atau mengejar gelar. Pendidikan juga memberikan kesempatan untuk memahami sesuatu yang sebelumnya belum saya pahami, bertemu dengan orang-orang baru, dan melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda.
Saya ingin membuktikan kepada diri sendiri bahwa menjadi seorang ibu tidak berarti harus berhenti memiliki cita-cita.
Menjadi ibu memang mengubah banyak hal dalam hidup saya. Prioritas saya berubah. Cara saya menggunakan waktu berubah. Bahkan cara saya melihat masa depan juga berubah.
Tetapi satu hal yang tidak berubah: keinginan untuk terus belajar.
Tidak Selalu Mudah, tetapi Bukan Berarti Tidak Bisa
Ada anggapan bahwa seseorang harus menunggu keadaan yang benar-benar ideal sebelum melanjutkan pendidikan.
Menurut saya, keadaan ideal mungkin tidak pernah datang.
Pekerjaan akan tetap memiliki tanggung jawab. Anak akan terus membutuhkan perhatian. Kehidupan akan selalu memiliki masalah dan kesibukan baru.
Kalau saya menunggu sampai semuanya benar-benar kosong dan tenang, mungkin saya tidak akan pernah mulai.
Karena itu, saya memilih memulai dengan kondisi yang saya punya sekarang.
Bukan berarti saya selalu kuat.
Ada hari ketika saya merasa lelah. Ada hari ketika saya mempertanyakan keputusan sendiri. Ada hari ketika saya melihat tugas kuliah dan berpikir, “Besok saja deh.”
Tetapi kemudian saya ingat alasan saya memulai.
Saya tidak ingin suatu hari nanti melihat ke belakang dan berpikir bahwa saya sebenarnya ingin mencoba, tetapi tidak pernah memberikan kesempatan kepada diri sendiri.
Menjadi Mahasiswa dengan Peran yang Berbeda
Menjadi mahasiswa ketika sudah menjadi ibu membuat saya melihat pendidikan dari perspektif yang berbeda.
Saya tidak lagi belajar hanya untuk mendapatkan nilai.
Saya belajar karena saya ingin memiliki pengetahuan yang bisa saya gunakan untuk masa depan. Saya belajar karena saya ingin berkembang sebagai individu. Dan mungkin suatu hari nanti, anak saya juga bisa melihat bahwa belajar tidak berhenti hanya karena seseorang sudah dewasa atau sudah memiliki keluarga.
Saya ingin anak saya melihat bahwa ibunya juga berusaha.
Bukan untuk menunjukkan bahwa seorang ibu harus mampu melakukan semuanya sekaligus. Justru sebaliknya.
Saya ingin menunjukkan bahwa setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda. Ada yang bisa kuliah langsung setelah lulus sekolah. Ada yang harus bekerja terlebih dahulu. Ada yang menikah lebih dulu. Ada yang memiliki anak sebelum menyelesaikan pendidikan.
Tidak ada satu waktu yang berlaku sama untuk semua orang.
Saya Mungkin Berjalan Lebih Lambat
Saya sadar, perjalanan saya mungkin tidak selalu cepat.
Saya harus membagi waktu antara pekerjaan, keluarga, dan kuliah. Saya mungkin tidak bisa belajar selama berjam-jam setiap hari. Saya mungkin harus mengerjakan tugas ketika orang lain sudah beristirahat.
Tetapi berjalan lebih lambat bukan berarti berhenti.
Saya hanya sedang menempuh jalan yang berbeda.
Dan untuk sekarang, saya ingin menikmati prosesnya.
Menjadi ibu mengajarkan saya tentang tanggung jawab. Bekerja mengajarkan saya tentang kemandirian. Sedangkan kuliah kembali mengajarkan saya bahwa saya masih memiliki banyak hal untuk dipelajari.
Mungkin suatu hari nanti saya akan mengenang masa ini sebagai salah satu periode paling melelahkan dalam hidup saya.
Tetapi saya berharap, ketika hari itu datang, saya juga bisa mengatakan kepada diri sendiri:
“Ternyata saya mampu melewatinya.”
Karena pada akhirnya, saya bukan hanya seorang ibu.
Saya juga seorang perempuan yang masih memiliki mimpi, seorang pekerja yang sedang berjuang, dan seorang mahasiswa yang memilih untuk terus belajar.
Dan perjalanan itu baru saja dimulai.
