Al-Gazel Memandang Hakikat Bulan Muharram

Mahasiswa Ilmu Hadis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Mufti Hikamuddin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bulan Muharram sebagai pembuka tahun Hijirah, memang selalu diperbincangkan oleh umat Islam. Kini yang sudah memasuki tahun 1447 Hijirah, hampir di seluruh penjuru dunia umat muslim menyambutnya dengan berbagai cara dan tradisi. Karena itulah, Bulan Muharram disebut bulan haram, artinya salah satu bulan yang paling diutamakan dalam Islam, sehingga banyak amalan, doa, dan ibadah-ibadah dianjurkan untuk dilakukan, khusunya dalam ibadah puasa (sunah).
Dasar dari bulan haram dilandasi dengan ayat Al Quran surat At-Taubah ayat 36, Allah SWT, berfirman:
اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضَ مِنْهَآ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُ ەۙ فَلَا تَظْلِمُوْا فِيْهِنَّ اَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِيْنَ كَاۤفَّةً كَمَا يُقَاتِلُوْنَكُمْ كَاۤفَّةً ۗوَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ مَعَ الْمُتَّقِيْنَ
Artinya: “Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa.”
Lalu bagaimana Imam al-Ghazali memandang Hakikat Bulan Muharram?
Menurutnya, Muharram termasuk Bulan Haram yang dimuliakan, ia menjelaskan bahwa bulan Muharram adalah salah satu dari empat bulan haram (الأشهر الحرم), yaitu bulan yang Allah agungkan dan larang di dalamnya peperangan serta dianjurkan memperbanyak amal-amal saleh.
Imam Ghazali Memandang Hakikat Bulan Muharram.
Dalam kitabnya, Ihya’ Ulumu ad-Din, imam Gazhali mengatakan:
قال الغزالي: "والأشهر الحرم هي ذو القعدة وذو الحجة والمحرم ورجب، وهي أشهر عظيمة عند الله، يجب فيها زيادة الورع عن المعاصي، والتقرب إلى الله بالطاعات." (إحياء علوم الدين، ج 1، كتاب الصيام)
Artinya: "Bulan-bulan haram adalah Dzulqa‘dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Bulan-bulan ini sangat agung di sisi Allah. Maka wajib meningkatkan kewaspadaan dari maksiat dan mendekatkan diri kepada Allah dengan ketaatan." Dilanjutkan beliau juga mengatakan:
"اعلم أن الزمان كما يتفاضل، فكذلك الأيام، وأفضلها ما يكون في الأشهر الحرم، وأفضلها شهر الله المحرم." (إحياء علوم الدين، ج 1، كتاب الصيام)
Artinya: "Ketahuilah bahwa waktu itu sebagaimana saling berbeda tingkat keutamaannya, demikian pula hari-hari. Yang paling utama adalah yang berada dalam bulan-bulan haram, dan yang paling utama dari semuanya adalah bulan Allah, Muharram."
Tak hanya itu, beliau juga menukil hadis dari Nabi Saw, bahwa puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa di bulan Muharram.
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "أفضل الصيام بعد رمضان شهر الله المحرم." (رواه مسلم)
Artinya: “Puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa di bulan Allah, yaitu Muharram.” (HR. Muslim)
“من صام ثلاثة أيام من شهر الحرام الخميس والجمعة والسبت كتب بكل يوم عبادة تسعمائة عام”
Artinya: “Barang siapa yang berpuasa selama tiga hari di bulan haram yang lima, hari jumat, dan hari sabtu, maka Allah akan menuliskan baginya setiap hari sebanyak sembilan ratus tahun ibadah.” (Ihya’ ‘ulumudin (juz 2)).
Berkenaan dengan itu, yang paling dianjurkan dan ditekankan oleh beliau adalah hari 'Asyura (10 Muharram), hari yang sangat istimewa, dimana pada hari itu Nabi Musa diselamatkan dari Fir‘aun, dan Nabi Muhammad memerintahkan untuk berpuasa sebagai bentuk syukur.
عن ابن عباس رضي الله عنهما قال: "قدم النبي صلى الله عليه وسلم المدينة، فرأى اليهود تصوم يوم عاشوراء، فقال: ما هذا؟ قالوا: هذا يوم صالح، هذا يوم نجّى الله بني إسرائيل من عدوهم، فصامه موسى، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: فأنا أحق بموسى منكم، فصامه وأمر بصيامه." (رواه البخاري ومسلم)
Artinya: “Ketika Nabi tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura. Beliau bertanya, ‘Hari apa ini?’ Mereka menjawab, ‘Ini hari baik, hari ketika Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa pun berpuasa.’ Maka Nabi bersabda, ‘Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian,’ lalu beliau pun berpuasa dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Hal itu juga beliau katakan dalam kitabnya, agar umat islam berpuasa (sunah) pada tanggal 1o Asyura:
قال الغزالي في الإحياء: "ويستحب صوم يوم عاشوراء، وهو اليوم العاشر من المحرم، وله فضل عظيم، فقد جاء في الحديث أن صومه يكفر ذنوب سنة ماضية." (إحياء علوم الدين، ج 1، كتاب الصيام)
Artinya: "Disunnahkan berpuasa pada hari 'Asyura, yaitu tanggal 10 dari bulan Muharram. Hari ini memiliki keutamaan yang agung. Dalam hadis disebutkan bahwa puasanya menghapus dosa satu tahun yang lalu." Diperkuat juga dengan hadis Nabi
حديث آخر: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "صيام يوم عاشوراء أحتسب على الله أن يكفر السنة التي قبله." (رواه مسلم)
Artinya: “Puasa hari 'Asyura, aku berharap kepada Allah agar menghapuskan dosa setahun sebelumnya.” (HR. Muslim).
Dengan berbagai pandangan itulah Imam al-Ghazali dalam kitabnya Ihya’ Ulumu ad-Din, mengatakan bahwa bulan Muharram sebagai salah satu waktu yang paling mulia dalam Islam. Keistimewaan terbesar bulan ini terletak pada hari Asyura’ (10 Muharram), ia bukan sekadar bulan puasa (sunah) saja, namun lebih dari itu, bulan ini adalah bulan spiritualitas, pengampunan dosa, dan momentum awal tahun untuk memperbarui tekad taqwa dan ketaatan kepada Allah SWT. Wallu A’lamu bi as-Sawab.
