"Constructing Subjective Well-being" pada Santri: Peran Dukungan Sosial

Mahasiswa UIN Jakarta Fakultas Ushuluddin Prodi Aqidah dan Filsafat Islam
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhammad Badruddin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bagi banyak santri baru, malam pertama di pondok terasa sangat panjang. Jauh dari rumah, tidur bersama puluhan teman di satu kamar, bangun sebelum subuh, lalu langsung disambut jadwal mengaji yang padat. Di balik sarung dan peci yang rapi, ada pertanyaan yang jarang terucap: apakah aku baik-baik saja?
Dalam psikologi, kondisi ini berkaitan dengan konsep subjective well-being, yaitu penilaian seseorang terhadap hidupnya sendiri, mencakup kepuasan hidup, perasaan positif yang sering muncul, dan perasaan negatif yang relatif rendah. Artinya, kesejahteraan santri tidak cukup diukur dari capaian hafalan atau penguasaan kitab, tetapi juga dari bagaimana mereka merasakan hari-harinya.
Tantangan di Balik Disiplin Pesantren
Pesantren membentuk kedisiplinan, kemandirian, dan kedekatan dengan ilmu agama. Namun tuntutannya nyata: beradaptasi dengan lingkungan baru, menahan rindu pada keluarga, mengejar target hafalan, mematuhi aturan yang ketat, hingga menghadapi gesekan dengan teman sekamar. Komunikasi dengan orang tua pun sering terbatas.
Jika tekanan ini tidak dikelola, semangat belajar dan rasa betah bisa menurun. Kesejahteraan subjektif tidak muncul begitu saja. Ia dibangun (constructed) melalui pengalaman dan hubungan sehari-hari.
Dukungan Sosial sebagai Fondasi
Salah satu faktor terpenting adalah dukungan sosial, yaitu perasaan diperhatikan, dihargai, dan dibantu oleh orang-orang di sekitar. Secara umum, bentuknya ada empat:
Dukungan emosional. Telinga yang mau mendengar dan kata menenangkan saat santri rindu rumah.
Dukungan penghargaan. Apresiasi atas usaha, bukan hanya hasil akhir.
Dukungan instrumental. Bantuan nyata, seperti menemani muraja'ah atau merawat teman yang sakit.
Dukungan informasi. Nasihat dan arahan dari ustaz atau senior dalam belajar dan menghadapi masalah.
Sumbernya berlapis: keluarga, teman sebaya, ustaz dan kiai, serta pengurus asrama. Kebersamaan sehari-hari, mulai dari makan sepiring bersama sampai belajar kelompok, menjadi penyangga alami yang membuat santri merasa tidak sendirian. Kiai dan ustaz sering menjadi figur yang memberi rasa aman sekaligus makna, sehingga jarak dari rumah terasa lebih ringan.
Perspektif Islam: Ta'awun dan Ukhuwah
Islam sangat menekankan sikap saling menolong. Al-Qur'an memerintahkan tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa (QS. Al-Ma'idah: 2), dan Rasulullah SAW menggambarkan sesama mukmin seperti bangunan yang saling menguatkan (HR. Bukhari dan Muslim). Dengan demikian, dukungan sosial bukan sekadar kebutuhan psikologis, tetapi juga bagian dari akhlak dan ibadah.
Membangun Ekosistem yang Suportif
Kesejahteraan santri adalah tanggung jawab bersama. Beberapa langkah yang bisa dilakukan:
Keluarga tetap hadir. Komunikasi rutin dan kunjungan yang terjadwal membuat santri merasa tidak dilupakan.
Pesantren menyediakan pendampingan. Pembina yang mudah diajak bicara, dan bila memungkinkan layanan konseling, membantu santri menangani masalah sebelum membesar.
Budayakan peer support. Sistem kakak asuh bagi santri baru mempercepat adaptasi dan mengurangi rasa kesepian.
Santri berani bercerita. Menyampaikan kesulitan bukan tanda lemah iman, melainkan bagian dari ikhtiar mencari solusi.
Penutup: Sejahtera Lahir dan Batin
Santri yang sejahtera secara subjektif cenderung lebih termotivasi, lebih betah, dan lebih mampu menyerap ilmu. Sebaliknya, santri yang merasa sendirian akan lebih mudah lelah secara emosional, sekuat apa pun disiplin yang ia jalani.
Karena itu, pesantren yang unggul bukan hanya yang melahirkan hafiz dan ulama, tetapi juga yang memastikan setiap santrinya merasa diterima, didengar, dan didukung. Ilmu yang kokoh tumbuh dari hati yang tenang.
Pada akhirnya, dukungan sosial adalah cara paling sederhana untuk mengatakan kepada santri: kamu tidak berjuang sendirian.
