Konten dari Pengguna

Komodifikasi Dakwah Digital: Pembentukan Identitas Religius pada Gen Z

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhammad Badruddin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Foto: Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Foto: Gemini AI

Coba scroll TikTok atau Instagram sebentar. Hampir pasti feed kita penuh potongan ceramah 30 detik, kutipan ayat dengan latar estetik, sampai endorsement produk "syar'i" oleh ustaz selebgram. Dakwah kini berbagi ruang yang sama dengan hiburan dan iklan.

Dalam sosiologi agama, fenomena ini disebut komodifikasi agama, yaitu proses ketika nilai religius dikemas menjadi produk yang bisa dijual dan dikonsumsi. Bagi Gen Z yang lahir bersama gawai, "mimbar" utamanya bukan lagi masjid, melainkan algoritma.

Ketika Dakwah Jadi Konten

Platform digital bekerja dengan logika atensi. Konten yang singkat, emosional, dan mudah dibagikan akan naik, sementara yang panjang dan berlapis tenggelam. Akibatnya, pembahasan fikih yang butuh konteks diringkas menjadi kalimat tegas yang gampang viral.

Ukuran "keberhasilan" dakwah pun bergeser ke jumlah views dan followers. Otoritas agama perlahan pindah dari yang paling berilmu ke yang paling piawai membaca tren. Belum lagi lini bisnis di sekitarnya, seperti kelas berbayar, merchandise, dan paket wisata religi. Mencari rezeki dari dakwah tentu tidak salah. Masalahnya muncul ketika pesan agama mulai menyesuaikan diri dengan selera pasar, bukan sebaliknya.

Identitas Religius sebagai Tampilan

Bagi Gen Z, agama bukan hanya keyakinan pribadi, tetapi juga identitas yang dipresentasikan. Proses constructing religious identity ini terjadi lewat simbol yang dikonsumsi dan dipamerkan: gaya berpakaian, caption reflektif, playlist murotal, sampai komunitas hijrah yang diikuti.

Sisi positifnya jelas. Dakwah jadi lebih dekat dan ramah anak muda, dan banyak yang menemukan kembali semangat belajar agama lewat media sosial. Namun ada sisi rentannya:

  • Religiusitas performatif. Ibadah dan hijrah berisiko bergeser dari urusan personal dengan Tuhan menjadi konten untuk validasi publik.

  • Pemahaman yang dangkal. Belajar agama berhenti di potongan video, tanpa guru, tanpa proses, tanpa konteks.

  • FOMO spiritual. Muncul kecenderungan membandingkan "kualitas iman" dengan unggahan orang lain.

Perspektif Syariat: Modern, tapi Tetap Amanah

Islam tidak menolak media baru. Dakwah memang harus mengikuti zaman selama menjaga integritas ilmu. Al-Qur'an sendiri mengingatkan agar ayat-ayat Allah tidak ditukar dengan keuntungan duniawi yang murah (QS. Al-Baqarah: 41). Prinsip ini relevan untuk menilai dakwah digital: apakah pesan lahir dari keilmuan yang bisa dipertanggungjawabkan, atau dari kebutuhan mengejar engagement?

Selain itu, konsep ikhlas dan tafaqquh fid-din (mendalami agama secara sungguh-sungguh) menjadi pengingat bahwa beragama bukan sekadar tampil saleh, tetapi proses belajar dan memperbaiki diri.

Langkah Bijak bagi Gen Z

Tidak perlu menjauhi dakwah digital. Yang perlu dibangun adalah sikap kritis dan sadar diri:

  1. Cek otoritas. Telusuri latar belakang keilmuan dan guru dari penceramah yang kita ikuti, bukan hanya seberapa viral dia.

  2. Jangan berhenti di potongan. Tonton kajian utuh, baca sumbernya, dan bila memungkinkan belajar langsung dengan guru.

  3. Luruskan niat. Sebelum mengunggah amalan atau kutipan agama, tanyakan pada diri sendiri: untuk siapa ini dibagikan?

  4. Kurasi konsumsi. Ikuti akun yang menambah pemahaman, bukan sekadar memancing emosi atau rasa insecure.

Menjaga Makna di Tengah Pasar Digital

Komodifikasi dakwah digital tidak sepenuhnya buruk maupun sepenuhnya baik. Ia adalah kenyataan zaman yang membuka akses sekaligus menyimpan jebakan. Tantangan Gen Z adalah memastikan identitas religius yang dibangun bukan sekadar citra yang laku di linimasa, melainkan keyakinan yang berakar pada ilmu dan ketulusan.

Pada akhirnya, agama tidak diukur dari jumlah likes. Ia diukur dari seberapa jauh ia mengubah cara kita berpikir, bersikap, dan memperlakukan sesama, di dunia maya maupun nyata.