Konten dari Pengguna

Menerapkan Pendidikan Filsafat Praktis: Logika Semasa Sekolah Menengah Pertama

MUH FHAJAR FEBRYAN

MUH FHAJAR FEBRYAN

Mahasiswa Hubungan Internasional, Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari MUH FHAJAR FEBRYAN tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mengajar anak SMP. Foto: dok. pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Mengajar anak SMP. Foto: dok. pribadi

Filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu “philosophia” yang memiliki dua arti kata yang berbeda. “philo” artinya cinta, dan “sophia” artinya kebijaksanaan, maka arti dari filsafat sendiri secara harfiah adalah cinta akan kebijaksanaan atau cinta akan pengetahuan. Para filsuf memiliki cara yang berbeda dalam mengartikan filsafat, tapi tentu tidak ada argumen yang saling bertolak belakang. Saya akan ambil dua rujukan, dari Immanuel Kant dan Rocky Gerung.

Menurut Immanuel Kant, filsafat adalah kumpulan segala pengetahuan tentang Tuhan, alam, dan segala pengetahuan yang di dalamnya tercakup masalah epistemologi (teori pengetahuan) yang menjawab persoalan apa yang dapat diketahui. Menurut Rocky Gerung, filsafat adalah metode untuk berpikir lebih dari biasa. Filsafat bukan sejenis arogansi. Ia adalah kritik, juga kritik terhadap arogansi akal. Dengan cara itu ia ‘menunda’ kepastian.

Filsafat praktis sendiri, secara sederhana adalah bidang filsafat yang dapat diaplikasikan langsung dalam kehidupan sehari-hari atau bidang-bidang praktis. Salah satunya adalah logika. Logika berasal dari bahasa Yunani yaitu “logike” yang berhubungan dengan kata “logos” yang berarti “pikiran atau “kata”. Artinya, logika adalah ilmu yang mempelajari pikiran, dan pikiran adalah sarana untuk mencapai pengetahuan.

Mengapa mempelajari filsafat praktis, atau logika menjadi penting bagi para siswa-siswi menengah pertama? Hal ini karena, logika mampu menghasilkan dan mengasah kemampuan untuk berpikir kritis dan analitis bagi para siswa-siswi. Berpikir kritis artinya adalah, kemampuan berpikir untuk mendalami dasar dari suatu persoalan atau argumen, agar mampu melakukan penilaian secara objektif guna menghindari logical fallacy (kesalahan berpikir)

Rocky Gerung di channel YouTube, Video Jurnal Perempuan, mengatakan bahwa

“Logika itu membantu kita menjernihkan persoalan, sekaligus logika itu membantu kita membersihkan cara berpikir yang penuh dengan kepentingan, berpikir yang penuh dengan fallacies. Jadi seharusnya logika itu diajarkan di kampus, atau bahkan dari tingkat yang lebih rendah, mulai SMP saya kira. Sehingga, publik atau sebut saja generasi baru nanti, punya kemampuan untuk menganalisis persoalan tanpa ada beban feodalisme ada beban keengganan untuk mengucapkan sesuatu secara jujur. Jadi logika fungsinya meluruskan pikiran, logika fungsinya menertibkan argumen yang palsu, agar supaya komunikasi berlangsung semata-mata demi menghasilkan kejelasan soal.”

Rocky Gerung juga mengatakan bahwa jika tidak ada pengetahuan dasar tentang logika, dengan mudah kita akan mengkonsumsi berita kebohongan atau hoaks. Analisis UNICEF pada 2021 yang merujuk pada sebuah studi di Jerman pada 2020 menunjukkan sekitar 76 persen anak muda berusia 14-24 tahun mudah terpapar hoaks. Indonesia masuk dalam 10 negara yang disurvei. Maka dari itu logika menjadi penting sebagai mata pelajaran semasa SMP karena hoaks bisa dibatalkan dengan logika atau pikiran kritis yang kuat.

Selain itu, belajar logika juga mampu menghantarkan para siswa-siswi pada komunikasi yang lebih efektif. Hal ini dikarenakan, dengan runtutan cara berpikir yang sistematis, maka para siswa-siswi akan sangat terbantu untuk mengkomunikasikan ide-ide mereka, karena susunan argumentasi yang baik.

Belajar logika, juga akan menghasilkan keterbukaan pikiran pada berbagai macam perspektif dalam memandang dunia. logika akan menghantarkan pada pikiran kritis yang sangat berguna untuk tidak cepat sampai pada kesimpulan dalam melihat sesuatu. Contohnya, tidak semerta-merta melakukan penghakiman buta pada seseorang karena satu atau dua hal yang Ia perbuat.

Walaupun begitu, sering kali filsafat dianggap sebagai ilmu yang berkonotasi negatif. Mulai dari anggapan jika belajar filsafat maka akan menjadi ateis, akan sesat, dan tidak sesuai dengan ajaran keagamaan. Prasangka semacam itu sering kita temui di sekitar kita, yang sebenarnya hanya berangkat dari asumsi dan omongan orang lain yang tidak bisa dibuktikan kebenarannya.

Tapi, hal semacam itu dipatahkan oleh Al-Farabi, dengan mengatakan bahwa filsafat adalah ilmu mengenai yang ada, yang tidak bertentangan dengan agama, bahkan sama-sama bertujuan mencari kebenaran.

Dari seluruh argumen sebelum, kita bisa melihat bahwa filsafat praktis adalah ilmu yang sangat baik jika diterapkan semasa SMP atau Sekolah Menengah Pertama. Yang paling penting dalam filsafat praktis adalah, akan membuat nalar kita menjadi kritis dan akan mereduksi terjadinya sesat berpikir dalam kehidupan sehari-hari, karena filsafat akan menghantarkan kita pada berpikir yang lebih dari biasa.