Konten dari Pengguna

Perpustakaan, Tempat Kita Belajar Menjadi Manusia

Muhaimin Yasin

Muhaimin Yasin

Pegiat Kajian Keislaman dan Pendidikan

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhaimin Yasin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Perpustakaan Penuh Buku (sumber: pixabay.com)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Perpustakaan Penuh Buku (sumber: pixabay.com)

Ada masa-masa ketika hidup terasa terlalu ramai. Pikiran penuh dengan kebisingan, dunia bergerak cepat, dan arah menjadi tak terkendali. Dalam keadaan seperti itu, saya sering merasa perlu berhenti sejenak. Bukan untuk menyerah, tapi untuk bernapas.

Saat itulah saya mencari tempat yang tenang. Tempat yang tidak pernah menuntut, tidak menghakimi, dan tidak mengharuskan saya menjadi siapa-siapa. Tempat itu adalah perpustakaan.

Perpustakaan bukan selalu berarti bangunan besar dengan rak-rak tinggi. Terkadang ia hadir dalam bentuk yang sederhana. Rak buku kecil di sudut rumah, meja kayu dengan beberapa tumpukan bacaan, atau bahkan layar ponsel yang menampilkan buku digital.

Saya sering membaca buku elektronik saat perjalanan atau sebelum tidur. Tidak ada suara lembaran yang dibalik, tidak ada aroma kertas, tapi tetap ada perasaan yang sama. Perasaan tenang, seolah saya sedang berbincang pelan dengan kata-kata.

Perpustakaan, dalam bentuk apa pun, memberi ruang bagi saya untuk mendengar isi kepala sendiri. Di sanalah saya merasa bebas. Bebas untuk bertanya, untuk bingung, untuk tertarik, atau bahkan untuk berhenti membaca di tengah halaman, kemudian mencerna materi yang telah terbaca.

Banyak hal yang saya pelajari dari buku. Tapi lebih dari sekadar isi bacaan, saya belajar dari proses membacanya. Belajar untuk diam, untuk sabar, untuk mendengarkan pandangan yang berbeda, dan untuk menerima bahwa tidak semua hal perlu dipahami seketika.

Saya percaya bahwa perpustakaan adalah tempat kita belajar menjadi manusia. Tempat kita berlatih memahami, merasakan, dan melihat dunia dari sudut yang tak biasa. Dalam satu sore membaca, saya bisa bertemu dengan tokoh yang sedang patah hati, penemu yang hampir menyerah, atau penyair yang merindukan masa kecilnya.

Semua kisah itu membuat saya merasa lebih dekat dengan sesama. Membaca membuat saya mengerti bahwa setiap orang membawa beban yang tak terlihat. Dan bahwa setiap kepala punya ceritanya sendiri.

Hal yang paling saya sukai dari perpustakaan adalah sikapnya yang tidak memaksa. Kita boleh datang dan pergi kapan saja. Boleh membaca satu halaman atau menghabiskan satu buku penuh. Tidak ada yang menilai cepat atau lambatnya kita memahami.

Rasa bebas itulah yang justru memperkuat hubungan saya dengan membaca. Tidak ada tekanan. Hanya keingintahuan yang perlahan tumbuh menjadi pengertian.

Kadang saya tidak membaca buku-buku berat. Saya hanya ingin membaca puisi pendek atau kutipan dari tokoh yang saya kagumi. Kadang saya membaca ulang halaman yang sama beberapa kali. Dan itu pun tidak masalah.

Perpustakaan mengajarkan bahwa pertumbuhan tidak selalu berarti bergerak cepat. Kadang yang kita butuhkan hanyalah duduk tenang, membuka halaman baru, dan membiarkan diri tersentuh oleh kalimat yang tepat.

Saya ingat suatu malam, saya membaca buku elektronik tentang perjalanan hidup seorang penulis. Ia kehilangan orang tuanya saat masih muda, dan menulis untuk menjaga kenangan tetap hidup. Ceritanya sederhana, tapi entah mengapa, saya merasa dipeluk oleh kata-katanya.

Sejak saat itu, saya semakin sadar bahwa buku tidak hanya menyimpan pengetahuan. Ia menyimpan jiwa manusia. Dan perpustakaan adalah rumah bagi semua jiwa itu, berdampingan dalam sunyi yang menenangkan.

Perpustakaan juga tidak mengharuskan kita selalu bahagia atau kuat. Kita boleh datang saat sedang rapuh. Kita boleh membaca untuk mengalihkan perhatian atau untuk menyembuhkan luka. Dan perlahan, halaman demi halaman, kita akan menemukan bagian dari diri kita sendiri yang selama ini tersembunyi.

Tak jarang saya membuka buku hanya untuk satu paragraf, lalu menutupnya dan termenung lama. Bukan karena bosan, tapi karena kalimat itu cukup kuat untuk menggerakkan hati.

Itulah keajaiban membaca. Kita tidak selalu mencari jawaban, tapi kita menemukan kekuatan untuk bertanya dengan jujur. Tentang siapa kita, apa yang kita cari, dan mengapa kita merasa seperti ini hari ini.

Mungkin tidak semua orang merasa dekat dengan perpustakaan, dan itu tidak masalah. Setiap orang punya caranya sendiri untuk merasa damai. Tapi bagi saya, membaca adalah cara untuk kembali ke dalam diri, dan perpustakaan adalah pintu yang selalu terbuka.

Saya terus kembali ke sana. Ke buku yang berbeda, ke cerita yang baru, ke ruang yang sama. Karena saya tahu, di tempat itu, saya tidak harus menjadi sempurna. Saya hanya perlu menjadi seseorang yang ingin tahu dan ingin merasa lebih utuh. Dan itu sudah cukup untuk membuat saya merasa hidup.