Menikmati Hidup Tanpa Rasa Bersalah

Mahasiswa Ekonomi Syariah Universitas Pamulang
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Muhamad Dimas Pratama tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering disibukkan oleh berbagai tuntutan, mulai dari pekerjaan, pendidikan, hingga masalah pribadi. Terkadang, kita terlalu fokus mengejar tujuan sampai lupa memberikan waktu untuk diri sendiri. Padahal, manusia tidak hanya membutuhkan kesuksesan, tetapi juga ketenangan dan kebahagiaan.
Salah satu cara sederhana untuk menyegarkan pikiran adalah dengan berjalan-jalan, mengunjungi tempat baru, menikmati alam, atau menghabiskan waktu bersama orang-orang terdekat. Sayangnya, sebagian orang merasa bersalah ketika menggunakan waktu dan uang hanya untuk menyenangkan diri sendiri.
Pertanyaannya, apakah menikmati hidup merupakan tindakan yang egois? Apakah kita harus selalu produktif agar kehidupan kita dianggap berharga?
Menurut saya, menikmati hidup bukanlah sesuatu yang perlu disesali selama dilakukan secara wajar, tidak mengabaikan tanggung jawab, dan tidak merugikan orang lain.
Kebahagiaan Bukan Sekadar Kesuksesan
Dalam kehidupan modern, kebahagiaan sering kali diukur melalui pencapaian materi, jabatan, popularitas, dan pengakuan orang lain. Akibatnya, seseorang dapat terus mengejar sesuatu tanpa pernah merasa cukup.
Padahal, kebahagiaan tidak selalu berasal dari hal-hal besar. Duduk menikmati pemandangan, berjalan santai di taman, menghirup udara segar, atau berbincang bersama teman juga dapat memberikan pengalaman yang bermakna.
Dalam filsafat, Aristoteles membahas konsep eudaimonia, yaitu kehidupan yang baik dan berkembang melalui tindakan yang bijaksana serta kebajikan. Pemikiran ini mengingatkan kita bahwa kehidupan yang baik tidak hanya berkaitan dengan kesenangan sesaat, tetapi juga dengan bagaimana seseorang menjalani hidup secara bermakna.
Jika dikaitkan dengan kegiatan jalan-jalan, nilai sebuah perjalanan bukan hanya terletak pada mahalnya tempat yang dikunjungi, melainkan juga pada pengalaman, pembelajaran, dan ketenangan yang diperoleh.
Kita tidak harus pergi ke luar negeri atau mengunjungi tempat mewah untuk merasakan kebahagiaan. Terkadang, hal sederhana yang selama ini kita abaikan justru memberikan pengalaman paling berkesan.
Menikmati Kehidupan Bukan Berarti Melupakan Tanggung Jawab
Dalam ajaran Islam, manusia diperbolehkan menikmati kenikmatan dunia yang baik dan halal. Islam tidak mengajarkan bahwa manusia harus menolak seluruh kesenangan dunia demi menjalankan kehidupan beragama.
Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-A'raf ayat 32:
قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ اللَّهِ الَّتِي أَخْرَجَ لِعِبَادِهِ وَالطَّيِّبَاتِ مِنَ الرِّزْقِ
Artinya:
“Katakanlah (Muhammad), ‘Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hamba-Nya dan rezeki yang baik-baik?’”
Sumber: Al-Qur'an, QS. Al-A'raf ayat 32. "Baca ayat lengkap di Qur'an Kementerian Agama RI" (https://quran.kemenag.go.id/quran/per-ayat/surah/7?from=32&to=32).
Ayat ini mengingatkan bahwa kenikmatan yang baik tidak boleh dianggap terlarang tanpa dasar. Dalam konteks kehidupan sehari-hari, berlibur, menikmati alam, dan menghabiskan waktu bersama keluarga bukanlah sesuatu yang otomatis bertentangan dengan ajaran Islam.
Namun, menikmati kehidupan tetap perlu disertai tanggung jawab. Jangan sampai keinginan berlibur membuat kita berutang secara tidak bijaksana, mengabaikan kewajiban, atau menghabiskan uang yang seharusnya digunakan untuk kebutuhan pokok.
Dengan kata lain, kita boleh menikmati hidup tanpa harus kehilangan kendali atas kehidupan itu sendiri.
Berjalan-Jalan dan Belajar Memahami Kehidupan
Jalan-jalan juga dapat menjadi kesempatan untuk melihat dunia dari sudut pandang yang berbeda.
Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-'Ankabut ayat 20:
قُلْ سِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ بَدَأَ الْخَلْقَ
Artinya:
“Katakanlah, ‘Berjalanlah di bumi, maka perhatikanlah bagaimana (Allah) memulai penciptaan.’”
Sumber: Al-Qur'an, QS. Al-'Ankabut ayat 20.
Ayat tersebut mengajak manusia berjalan di bumi dan memperhatikan penciptaan. Dalam konteks perjalanan, kita dapat mengambil pelajaran dengan mengamati keindahan alam, mengenal kebudayaan masyarakat lain, dan menyadari luasnya kehidupan di luar lingkungan kita sendiri.
Ketika melihat pegunungan, misalnya, kita dapat merenungkan betapa luasnya alam dan betapa banyak hal yang belum kita ketahui. Ketika mengunjungi daerah lain, kita juga dapat memahami bahwa setiap orang memiliki pengalaman dan perjuangan hidup yang berbeda.
Pengalaman semacam ini dapat menumbuhkan rasa syukur sekaligus membuat kita lebih menghargai kehidupan.
Dengan demikian, jalan-jalan bukan hanya kegiatan untuk menghilangkan kejenuhan, melainkan juga kesempatan untuk belajar dan memperluas cara pandang.
Kita Juga Berhak Beristirahat
Tidak sedikit orang yang merasa harus selalu sibuk agar dianggap rajin dan produktif. Ketika memiliki waktu luang, mereka justru merasa bersalah karena tidak sedang mengerjakan sesuatu.
Padahal, manusia memiliki keterbatasan. Tubuh membutuhkan istirahat, pikiran membutuhkan jeda, dan kehidupan membutuhkan keseimbangan.
Rasulullah saw. bersabda:
وَإِنَّ لِجَسَدِكَ عَلَيْكَ حَقًّا
Artinya:
“Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu.”
Sumber: Sahih al-Bukhari, hadis nomor 1975.
Hadis ini disampaikan dalam konteks nasihat Nabi kepada Abdullah bin Amr mengenai keseimbangan dalam beribadah. Pesannya mengingatkan bahwa seseorang tidak seharusnya mengabaikan hak tubuhnya.
Dalam kehidupan sekarang, prinsip tersebut dapat menjadi pengingat agar kita tidak terus-menerus memaksakan diri hingga melupakan kesehatan dan kebutuhan untuk beristirahat.
Tentu saja, beristirahat tidak harus selalu dilakukan dengan bepergian. Tidur yang cukup, melakukan hobi, berolahraga ringan, atau menghabiskan waktu bersama keluarga juga dapat menjadi pilihan.
Yang terpenting adalah memahami kebutuhan diri sendiri dan memilih kegiatan yang memberikan manfaat.
Kebahagiaan Tidak Harus Mahal
Media sosial terkadang membuat kita merasa bahwa kebahagiaan harus terlihat mewah. Foto liburan di tempat terkenal, hotel mahal, dan perjalanan jauh sering menjadi gambaran kehidupan yang dianggap menyenangkan.
Namun, kita tidak perlu membandingkan kehidupan sendiri dengan apa yang ditampilkan orang lain.
Seseorang mungkin menikmati liburan mahal, sedangkan orang lain merasa bahagia hanya dengan berjalan sore di taman kota. Keduanya dapat memiliki pengalaman yang berharga selama dijalani dengan rasa syukur dan tanpa merugikan diri sendiri.
Menikmati hidup juga tidak berarti harus mengeluarkan uang setiap kali merasa lelah. Kita dapat memilih kegiatan sederhana sesuai kemampuan finansial.
Dari sudut pandang filsafat, hal ini berkaitan dengan kemampuan membedakan kebutuhan yang benar-benar memberikan makna dari keinginan yang muncul karena tekanan sosial.
Sementara itu, nilai kesederhanaan dan rasa syukur dalam Islam mengajarkan kita untuk tidak menjadikan kemewahan sebagai satu-satunya ukuran kebahagiaan.
Kesimpulan
Menikmati hidup bukanlah tindakan yang egois. Manusia membutuhkan waktu untuk beristirahat, menyegarkan pikiran, dan merasakan kebahagiaan di tengah berbagai tanggung jawab.
Filsafat mengajak kita memikirkan makna kehidupan yang baik, sedangkan ajaran Islam memberikan pedoman agar kita dapat menikmati kenikmatan dunia secara wajar tanpa melupakan kewajiban dan tanggung jawab.
Jalan-jalan dapat menjadi salah satu cara untuk menyegarkan pikiran, memperluas wawasan, dan mensyukuri keindahan ciptaan Allah. Namun, kebahagiaan tidak harus selalu diperoleh melalui perjalanan mahal atau pengalaman yang terlihat mengesankan di media sosial.
Menurut saya, kita tidak harus menunggu sukses, kaya, atau mencapai semua target untuk mulai menghargai kehidupan. Kita boleh berhenti sejenak, menikmati hal-hal sederhana, lalu kembali menjalani tanggung jawab dengan semangat yang lebih baik.
Sebab, hidup bukan hanya tentang seberapa jauh kita melangkah mengejar tujuan, tetapi juga tentang bagaimana kita menghargai perjalanan yang sedang kita jalani.
Daftar Pustaka
1. Al-Qur'an al-Karim, QS. Al-A'raf ayat 32.
2. Al-Qur'an al-Karim, QS. Al-'Ankabut ayat 20.
3. Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Sahih al-Bukhari, hadis nomor 1975.
4. Aristoteles. Nicomachean Ethics, pembahasan tentang eudaimonia dan kehidupan yang baik.
