Berwisata Tetap Aman di Saat Pandemi

Wirausaha Mahasiswa Magister Pariwisata Universitas Pendidikan Indonesia
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Muhamad Fikriyananda tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada awal 2020 Indonesia dilanda Pandemi COVID-19. COVID-19 merupakan wabah penyakit yang saat ini menyebar di seluruh dunia. Awal ditemukan di Wuhan, China, kini COVID-19 hampir merata menjangkit seluruh negara di dunia dengan kasus positif yang tidak sedikit. World Health Organization (WHO) menyebutkan, COVID-19 merupakan virus yang dapat menyebabkan infeksi pada saluran pernapasan dengan sifat penyebaran yang cukup cepat. Dalam keputusan Presiden No. 12 tahun 2020, Indonesia telah menetapkan COVID-19 sebagai bencana nasional non alam.
Salah satu sektor yang paling mendapatkan imbas dari adanya pandemi Global ini yaitu pada sektor jasa pariwisata. Mengapa demikian, karena pada jasa pariwisata merupakan jasa yang sangat bertentangan dengan penanganan COVID-19 seperti harus menerapkan protokol kesehatan dengan menjaga jarak, tidak berkerumun serta tidak diperkenankannya untuk bepergian. Pandemi COVID-19 ini mampu mengubah kondisi pada tempat tempat wisata yang biasanya selalu ramai dengan para wisatawan untuk menikmati masa liburannya. Pandemi COVID-19 telah menghantam industri pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia.
Tidak main-main, sejak Februari 2020 jumlah wisatawan mancanegara yang masuk ke Indonesia mengalami penurunan yang sangat drastis, dan puncaknya terjadi April 2020 dengan jumlah wisatawan hanya sebanyak 158 ribu. Hal ini pun berdampak pada pendapatan negara di sektor pariwisata. Adanya pembatasan sosial berskala besar dan ditutupnya akses keluar-masuk Indonesia menyebabkan penurunan pendapatan negara di sektor Pariwisata sebesar Rp 20,7 miliar!
Pandemi ini juga sudah berhasil mengubah tatanan kehidupan manusia pada sekarang ini. Berbagai negara di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia yang merupakan negara terdampak Virus COVID-19 ini.
Para pemangku kebijakan pun berpikir dan bekerja keras dalam upaya menyelamatkan pariwisata Indonesia. Mulai dari memberlakukannya penerapan CHSE bagi para pelaku Industri Pariwisata, menerapkan berbagai kebijakan yang diharapkan dapat meminimalisir penyebaran Virus COVID-19 semakin meluas. Sebut saja kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah Indonesia dalam penanganan COVID-19 ialah seperti Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Work From Home, karantina wilayah dan lain sebagainya.
Di satu sisi pandemi ini juga berdampak langsung pada berbagai lapangan pekerjaan di sektor Pariwisata. Menurut data BPS 2020, sekitar 409 ribu tenaga kerja di sektor pariwisata kehilangan pekerjaan akibat pandemi COVID-19.
Bagaimana baiknya berwisata di saat pandemi ?
Sebelum pandemi para wisatawan biasanya bebas berlibur ke destinasi wisata baik di Indonesia maupun di mancanegara. Namun setelah adanya pandemi para wisatawan lebih berhati hati dengan menjaga prokes dan mengurangi bersentuhan agar tetap aman. Salah satu usaha yang dilakukan oleh penyedia jasa maupun industri Pariwisata ialah minimal dilengkapinya sertifikat CHSE sebagai jaminan pengunjung merasa lebih aman saat berlibur
Menerapkan Standar Sanitasi. Penerapan standar kesehatan dengan membuat sanitasi yang memadai. Menurut Ni Wayan Giri Adnyani selaku Sekretaris Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, pihaknya akan menyiapkan destinasi sesuai dengan kondisi ‘new normal’ dengan mengedepankan prinsip sustainable tourism, termasuk di dalamnya soal kesehatan, dan keamanan. Para pelaku pariwisata akan menciptakan standar sanitasi yang harus dimiliki suatu objek wisata seperti kebersihan toilet, sarana cuci tangan, ketersediaan masker, pengukur suhu badan, pengecekan surat keterangan sehat dan vaksinasi.
Solo Travel Tour. Penggunaan individual transportation akan lebih tinggi dibandingkan mass transport karena physical distancing ini akan berlangsung lebih lama dari perkiraan kita sebelumnya sehingga ketakutan wisatawan untuk berada dalam satu moda transportasi dapat dihindari. Alternatif lain yang bisa dilakukan oleh para pelaku wisata adalah memberikan pelayanan terbaik bagi para turis dengan mengatur tempat duduk di dalam mobil, menyediakan hand sanitizer, sabun cuci tangan, tissue di setiap mobil dan juga mengutamakan moda transportasi pribadi untuk kelompok kecil
Virtual Tourism Teknologi yang berkembang dalam bidang pariwisata yaitu meningkatnya platform atau aplikasi yang mampu memberikan pengalaman nyata berwisata ke objek-objek wisata. Walaupun hal ini tidak mampu menandingi pengalaman langsung berwisata seperti merasakan keramahan masyarakat lokal, menyentuh berbagai sarana tapi hal ini mampu memberikan kesan pada wisatawan yang masih takut untuk berwisata secara langsung.
Menggunakan layanan food online (delivery, take away) di masa pandemic covid 19
Mencari tempat wisata alam terbuka. Wisata alam terbuka menjadi alternatif seperti ke daerah pegunungan maupun taman hutan dengan udaranya yang segar, cuaca dan iklimnya juga membuat badan segar ditambah banyaknya penghijauan dan suasana yang membuat tentram.
Saat ini pemerintah tidak pernah melarang masyarakatnya untuk berwisata maupun berpergian tetapi selalu menekankan untuk selalu berjaga jaga, menahan diri dengan melaksanakan protokol kesehatan. Pada dasarnya pariwisata akan berjalan dengan baik disaat pandemi dengan mengikuti instruksi yang sudah di tetapkan.
