Konten dari Pengguna

PR yang Tidak Pernah Diperiksa Guru: Ekonomi Perhatian di Ruang Kelas

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhamad Haetami tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Gemini Ai
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Gemini Ai

Ada satu kebiasaan yang saya ingat dari masa sekolah: bunyi pulpen yang berhenti menulis tepat ketika guru bilang, “PR dikumpulkan.”

Dalam hitungan detik, suasana kelas berubah. Ada yang panik, ada yang saling menyalin cepat, ada juga yang pasrah karena memang tidak mengerjakan sama sekali. Tapi yang paling menarik bukan itu—melainkan alasan di baliknya.

“Lupa,” kata sebagian siswa.

Kalimat itu terdengar sederhana, bahkan klise. Tapi semakin lama saya berpikir, semakin saya sadar bahwa “lupa” di sekolah sebenarnya bukan sekadar soal ingatan. Ia adalah soal ekonomi.

Dalam ilmu sosial, ada konsep yang disebut attention economy—ekonomi perhatian. Intinya sederhana: perhatian manusia itu terbatas, sementara tuntutan terhadap perhatian kita tidak pernah berhenti. Di ruang kelas, siswa tidak hanya berhadapan dengan pelajaran, tetapi juga dengan notifikasi, obrolan teman, tekanan tugas lain, dan pikiran tentang hal-hal di luar sekolah.

PR bukan bersaing dengan malas. PR bersaing dengan perhatian.

Di sekolah, kita sering menganggap kegagalan mengerjakan tugas sebagai masalah disiplin. Tapi jarang kita melihatnya sebagai masalah alokasi sumber daya yang sangat terbatas: fokus.

Saya pernah berbicara dengan seorang siswa yang cukup jujur. Katanya, “Aku niat ngerjain PR, tapi pas buka HP bentar aja, tiba-tiba udah satu jam.”

Kalimat itu terdengar ringan, tapi di dalamnya ada konsep opportunity cost. Satu jam yang hilang bukan hanya soal waktu, tapi juga PR yang tidak selesai, pelajaran yang tidak dipahami, dan rasa bersalah yang muncul belakangan.

Dalam ekonomi mikro, ini bukan sekadar kelalaian. Ini adalah pilihan yang terjadi di bawah tekanan berbagai “harga” yang tidak terlihat.

Menariknya, sistem pendidikan kita masih sering mengasumsikan bahwa semua siswa memiliki kapasitas perhatian yang sama, pada waktu yang sama, dengan gangguan yang bisa diabaikan. Padahal realitasnya tidak begitu.

Di satu kelas, ada siswa yang baru saja pulang les. Ada yang harus membantu orang tua sebelum sekolah. Ada yang pikirannya masih tertinggal di masalah rumah. Tapi semua diberi PR yang sama, dengan tenggat yang sama, dan diasumsikan akan diproses dengan cara yang sama.

Di titik ini, pendidikan ilmu sosial seharusnya tidak hanya mengajarkan konsep, tetapi juga membaca ketimpangan dalam cara manusia memproses informasi dan waktu.

PR, dalam bentuk idealnya, adalah alat pembelajaran mandiri. Tapi dalam praktiknya, ia sering berubah menjadi “uji daya tahan perhatian”.

Saya mulai melihat pola lain yang menarik di kelas: siswa tidak selalu tidak mampu mengerjakan PR, mereka hanya menundanya sampai titik di mana biaya psikologis untuk memulai terasa terlalu besar. Dalam ekonomi perilaku, ini mirip dengan present bias—kecenderungan manusia untuk lebih memilih kenyamanan sekarang daripada manfaat di masa depan.

“Besok aja,” menjadi keputusan ekonomi paling mahal yang tidak terasa mahal saat diambil.

Dan seperti banyak pasar kecil dalam ekonomi mikro, ada juga “mekanisme penyesuaian” yang muncul secara informal. Ada grup chat kelas, ada teman yang saling kirim jawaban, ada “ringkasan kilat” sebelum pelajaran dimulai. Sistem ini bukan bagian dari kurikulum, tapi menjadi respons alami terhadap tekanan perhatian yang tidak seimbang.

Guru sering melihat ini sebagai masalah integritas. Tapi dari sudut pandang lain, ini adalah bentuk adaptasi terhadap keterbatasan sistem.

Yang jarang dibahas adalah bahwa pendidikan sebenarnya tidak hanya mengajarkan materi, tetapi juga mengatur bagaimana perhatian dialokasikan. Jam pelajaran, struktur tugas, bahkan cara guru menjelaskan materi—semuanya adalah desain ekonomi perhatian.

Ketika desain itu tidak selaras dengan realitas kehidupan siswa, maka muncul “kebocoran”: tugas yang tidak selesai, materi yang tidak terserap, atau sekadar kehilangan minat.

Saya pernah melihat kelas yang berbeda suasananya hanya karena satu hal kecil: guru memberi PR yang bisa dikerjakan dalam 10 menit, bukan 1 jam. Hasilnya bukan hanya lebih banyak yang mengumpulkan, tapi juga lebih sedikit stres. Secara ekonomi mikro, ini menunjukkan bagaimana penurunan “biaya masuk” bisa mengubah perilaku secara drastis.

Bukan karena siswa tiba-tiba menjadi lebih rajin, tapi karena hambatan untuk memulai menjadi lebih rendah.

Mungkin di sinilah pendidikan ilmu sosial perlu mengambil pelajaran penting: bahwa manusia bukan hanya “penerima ilmu”, tetapi juga pengelola sumber daya terbatas bernama perhatian.

Jika sekolah terus mengabaikan ekonomi perhatian ini, maka PR akan selalu menjadi hal yang “lupa”, bukan karena siswa tidak peduli, tetapi karena sistemnya terlalu banyak meminta pada sesuatu yang tidak pernah cukup.

Dan mungkin, pertanyaan yang lebih penting bukan lagi “kenapa siswa tidak mengerjakan PR?”, tetapi “bagaimana cara kita merancang tugas agar tidak kalah bersaing dengan dunia yang terus-menerus meminta perhatian mereka?”