Konten dari Pengguna

Scroll 10 Detik, Lupa 1 Jam: Apakah Kita Masih Mengendalikan Cara Kita Berpikir?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhamad Haetami tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Gemini Ai
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Gemini Ai

Beberapa tahun terakhir, hampir semua orang—terutama anak muda—punya kebiasaan yang sama: buka ponsel “sebentar” lalu tanpa sadar sudah tenggelam di dunia tanpa ujung. Dari TikTok, Instagram Reels, YouTube Shorts, sampai konten-konten AI yang makin sulit dibedakan mana nyata dan mana rekayasa, semuanya berlomba merebut satu hal yang paling berharga saat ini: perhatian kita.

Fenomena ini bukan sekadar soal “kecanduan gadget” yang sering kita dengar sejak dulu. Sekarang, masalahnya jauh lebih dalam. Kita hidup di era di mana cara kita berpikir, memahami informasi, bahkan membentuk opini, sangat dipengaruhi oleh algoritma.

Hidup di Era Konten Cepat, Pikiran Jadi Serba Instan

Coba perhatikan kebiasaan sehari-hari. Saat mencari informasi, banyak orang tidak lagi membaca panjang lebar. Kita lebih suka ringkasan, poin-poin cepat, atau video 30 detik yang langsung “to the point”. Bahkan untuk hal serius seperti isu sosial, politik, atau pendidikan, kita sering kali hanya menangkap dari potongan-potongan konten yang viral.

Masalahnya, informasi yang cepat tidak selalu berarti informasi yang dalam. Akibatnya, kita sering merasa “tahu banyak hal”, padahal sebenarnya hanya tahu permukaannya saja.

Dalam kacamata ilmu sosial, ini bisa dilihat sebagai dampak dari masyarakat informasi yang dikendalikan oleh attention economy—ekonomi yang menjadikan perhatian manusia sebagai komoditas. Semakin lama kita menatap layar, semakin besar keuntungan platform digital.

Algoritma: Teman yang Diam-Diam Mengarahkan Kita

Hal yang sering tidak disadari adalah bahwa apa yang kita lihat di media sosial bukanlah dunia yang netral. Ada sistem algoritma yang menyaring, memilih, dan menyajikan konten berdasarkan apa yang dianggap “paling mungkin membuat kita bertahan lebih lama”.

Di sinilah masalah sosial muncul. Kita tidak hanya mengonsumsi informasi—kita juga “dibentuk” oleh informasi tersebut.

Kalau kita sering menonton konten tertentu, algoritma akan mempersempit dunia kita ke topik itu saja. Lama-lama, kita seperti hidup di “ruang gema” (echo chamber), di mana kita hanya mendengar opini yang mirip dengan kita sendiri.

Dalam perspektif sosiologi, ini berkaitan dengan bagaimana media membentuk realitas sosial. Apa yang kita anggap “normal”, “penting”, atau “benar”, perlahan dibentuk oleh apa yang terus kita lihat setiap hari.

Generasi Scroll dan Krisis Kedalaman Berpikir

Generasi muda saat ini sering disebut sebagai “digital native”—lahir dan tumbuh bersama teknologi. Tapi menjadi akrab dengan teknologi tidak selalu berarti memahami dampaknya.

Salah satu gejala yang mulai terlihat adalah menurunnya kemampuan untuk fokus dalam waktu lama. Membaca artikel panjang terasa berat, diskusi mendalam cepat membosankan, dan keputusan sering diambil berdasarkan informasi instan.

Ini bukan soal menyalahkan generasi muda. Justru ini adalah dampak sistem sosial yang lebih besar: pendidikan, teknologi, dan industri media yang semuanya bergerak ke arah kecepatan.

Kalau kita lihat dari sudut pandang teori habitus (Bourdieu), kebiasaan kita dalam mengonsumsi informasi sebenarnya dibentuk oleh lingkungan sosial. Jadi, cara kita scroll, klik, dan bereaksi bukan sepenuhnya pilihan bebas, tetapi hasil dari pembiasaan sosial yang terus-menerus.

AI, Konten Palsu, dan Kaburnya Batas Realitas

Hal lain yang makin relevan adalah munculnya konten berbasis AI. Sekarang, gambar, suara, bahkan video bisa dibuat sangat realistis tanpa kejadian asli di baliknya.

Di satu sisi, ini membuka peluang kreatif. Tapi di sisi lain, ini juga menimbulkan masalah baru: kita semakin sulit membedakan mana yang fakta dan mana yang rekayasa.

Dalam konteks ilmu sosial, ini bisa mengarah pada krisis kepercayaan sosial. Jika semua hal bisa dimanipulasi, maka yang dipertaruhkan bukan hanya informasi, tetapi juga kepercayaan antar manusia.

Lalu, Kita Harus Apa?

Pertanyaannya bukan lagi “apakah teknologi itu buruk atau baik”, tetapi “bagaimana kita hidup di dalam sistem ini tanpa kehilangan kendali atas diri sendiri”.Beberapa hal sederhana sebenarnya bisa menjadi titik awal:

  • Membiasakan diri membaca informasi secara utuh, bukan hanya judul atau potongan viral.

  • Menyadari bahwa tidak semua yang muncul di layar kita adalah representasi dunia yang sebenarnya.

  • Sesekali “menarik diri” dari arus konten cepat untuk memberi ruang berpikir lebih dalam.

  • Namun yang lebih penting adalah kesadaran kritis: bahwa kita bukan hanya pengguna teknologi, tetapi juga bagian dari masyarakat yang sedang dibentuk ulang oleh teknologi itu sendiri.

Penutup: Kita Masih Punya Kendali, Tapi Tidak Otomatis

Di tengah derasnya scroll, notifikasi, dan algoritma yang semakin pintar, kita sering merasa seperti hanya mengikuti arus. Tapi ilmu sosial mengingatkan kita satu hal penting: masyarakat selalu bisa berubah, karena manusia juga selalu bisa sadar dan memilih ulang arah hidupnya.

Pertanyaannya sekarang sederhana tapi penting:

apakah kita masih mengendalikan apa yang kita pikirkan, atau justru sudah dikendalikan oleh apa yang kita lihat setiap hari.