Konten dari Pengguna

Pelangi di Mars Mencoba Mencuri Hati Anak Indonesia

Emha Albana

Emha Albana

Author, Film Maker, Script Writer, Sutradara,Penggiat Sosial, Penulis Lagu, dan Konten Kreator Indonesia. Aktif di platform digital seperti Spotify dan YouTube, menghasilkan artikel, musik, film, serta konten kreatif lainnya.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Emha Albana tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Lebaran selalu menjadi panggung paling kejam sekaligus paling menggiurkan bagi film keluarga. Di musim ini, bioskop bukan sekadar tempat menonton, melainkan ruang kumpul: satu judul bisa ditonton ramai-ramai, diulang bersama rombongan berbeda, lalu hidup lewat rekomendasi mulut ke mulut. Karena itu, ketika dua film anak paling dibicarakan bertemu dalam satu lintasan, pertandingannya terasa nyata, seperti head to head yang tidak perlu dibikin-bikin.

Di satu sisi ada Jumbo, film animasi produksi Visinema Studios yang sudah lebih dulu memahat standar baru. Ia tayang perdana pada 31 Maret 2025, disutradarai Ryan Adriandhy, dan kemudian meledak menjadi fenomena penonton. Angka yang banyak dirujuk publik menempatkan Jumbo di kisaran 10.218.708 penonton, sebuah capaian yang biasanya hanya dimiliki film-film yang bukan sekadar populer, tetapi menjadi kebiasaan tontonan keluarga. Tak berhenti di dalam negeri, Jumbo juga merambah penayangan internasional dan mulai tayang di Korea Selatan pada 18 Februari 2026, sinyal bahwa daya tariknya tidak semata “lokal karena lokal”, melainkan punya daya jual lintas pasar.

Di sisi lain, Pelangi di Mars datang dengan ambisi yang tak kalah besar, tetapi jalurnya berbeda. Film keluarga fiksi ilmiah ini dijadwalkan rilis pada 18 Maret 2026 dan disutradarai Upie Guava. Kalau Jumbo menang lewat kehangatan yang membumi, Pelangi di Mars mencoba menggoda penonton lewat sesuatu yang jarang: sci-fi yang ramah keluarga. Mars, robot, dunia masa depan, dan isu krisis sumber daya menjadi bumbu yang membuat film ini sejak awal terasa ingin tampil beda di tengah menu Lebaran yang biasanya didominasi komedi, drama keluarga, atau horor.

Pertanyaannya bukan sekadar “siapa yang lebih bagus”. Pertanyaannya lebih praktis dan lebih kejam: siapa yang paling sanggup mengubah rasa penasaran menjadi tiket, dan mengubah tiket menjadi gelombang rekomendasi?

Jumbo: bagaimana film ini bisa pecah rekor

Kekuatan Jumbo bukan hanya pada label animasi. Yang membuatnya berbahaya di box office adalah rasa akrab yang dirancang sangat presisi. Film keluarga yang benar-benar bekerja biasanya tidak menuntut penonton mengerti banyak hal di awal. Ia membuka pintu lewat humor, ritme yang lincah, dan karakter yang langsung “klik”. Setelah pintu terbuka, barulah emosi ditanam pelan-pelan. Jumbo terasa memahami mekanisme itu.

Ada faktor lain yang sering luput: daya tahan. Banyak film bisa ramai di minggu pertama, tapi tidak semua bisa bertahan sebagai pilihan keluarga selama libur panjang. Jumbo tampak punya stamina itu. Ketika sebuah film mencapai penonton belasan juta atau mendekati itu, biasanya ada dua mesin yang menyala bersamaan: repeat viewing dan rombongan. Anak yang suka minta nonton lagi, orang tua yang mengajak keluarga besar, dan lingkar rekomendasi yang terus berputar.

Secara industri, Jumbo juga memancarkan kesan proyek yang dibangun serius. Informasi publik menyebut proses pengembangannya panjang dan melibatkan tim kreator yang besar. Untuk animasi, ini bukan catatan kosmetik. Animasi yang konsisten butuh waktu untuk menyelaraskan detail visual, menyetel timing komedi, dan memastikan emosi tidak terasa artifisial. Saat semua itu ketemu, penonton tidak lagi menilai “kualitas animasi Indonesia”, mereka menilai filmnya, titik. Dan di situ Jumbo menang.

Head To Head Film Pelangi Di Mars Dan Jumbo ( Sumber : Istimewa )

Pelangi di Mars: nilai jualnya ada di keberanian genre

Pelangi di Mars memilih rute yang lebih menantang: menjual “rasa baru” kepada pasar keluarga. Sci-fi punya daya tarik unik karena ia memicu rasa ingin tahu. Anak-anak suka dunia baru, robot, petualangan, dan visual futuristik. Orang tua cenderung tertarik ketika sci-fi membawa gagasan yang bisa dibaca sebagai pesan, misalnya soal lingkungan atau masa depan manusia. Tetapi sci-fi juga punya risiko klasik: kalau terlalu serius, anak cepat bosan; kalau terlalu ramai teknisnya, orang tua merasa jauh.

Dari sisi produksi, Pelangi di Mars dipromosikan dengan penggarapan visual yang ingin terlihat modern. Pendekatan virtual production, pemanfaatan teknologi visual mutakhir, hingga teknik untuk menghidupkan karakter robot menjadi bagian dari narasi yang sengaja ditonjolkan. Secara editorial, ini cara yang cerdas untuk membangun ekspektasi: film ini ingin dianggap sebagai tontonan keluarga yang punya skala, bukan sekadar “film anak lucu”.

Namun strategi promosi Pelangi di Mars yang paling menarik justru bukan di dunia maya, melainkan di jalanan. Kampanye balon raksasa di kawasan SCBD pada koridor Sudirman adalah langkah yang paham psikologi publik kota: jangan menunggu orang mencari film, bikin film yang menghampiri orang. Balon raksasa itu menampilkan karakter Pelangi dan Batik. Pesannya jelas: ini film yang punya ikon. Dan ikon adalah mata uang penting untuk film keluarga, karena karakter yang mudah diingat lebih cepat menempel di kepala anak-anak, lalu anak-anak mendorong keputusan menonton di rumah.

Ini juga memperlihatkan perbedaan gaya kampanye. Jumbo bertumbuh besar karena kombinasi timing Lebaran, kualitas yang memuaskan penonton, dan efek rekomendasi yang mengalir. Pelangi di Mars tampaknya ingin memastikan awareness terbentuk lebih awal dengan kampanye visual yang “tidak bisa diabaikan”.

Head to head yang sebenarnya: bukan film vs film, tapi kebiasaan menonton

Meski dibingkai sebagai duel, Jumbo dan Pelangi di Mars sebetulnya bertarung di arena yang sama: kebiasaan menonton keluarga saat Lebaran. Di arena ini, ada tiga hukum tidak tertulis.

Pertama, film keluarga harus enak ditonton lintas umur. Anak harus betah, orang tua harus ikut menikmati, dan tidak ada momen yang membuat satu pihak merasa “ini bukan buat gue”.

Kedua, ritme harus stabil. Lebaran itu musim penonton kasual. Mereka tidak datang untuk membaca simbol atau menebak-nebak. Mereka datang untuk ikut terbawa cerita.

Ketiga, karakter harus punya daya lekat. Film keluarga yang jadi fenomena hampir selalu punya karakter yang membuat anak-anak ingin membawa pulang perasaannya: entah lewat ucapan, gestur, atau sekadar “rasa” yang menempel setelah keluar bioskop.

Di titik ini, Jumbo sudah terbukti memenuhi syarat itu, setidaknya lewat angka penonton dan daya tahannya. Pelangi di Mars membawa modal besar berupa diferensiasi genre, daya tarik visual futuristik, dan strategi promosi yang agresif tapi cukup elegan. Tinggal satu pertanyaan yang menentukan: apakah ceritanya cukup hangat dan dekat untuk membuat Mars terasa seperti rumah kedua bagi penonton keluarga?

Siapa yang benar-benar menang?

Kalau ukuran kemenangan adalah rekor penonton di atas 10 juta, Jumbo memulai dari posisi unggul karena sudah punya bukti, bukan janji. Tetapi bioskop tidak selalu memberi piala kepada yang paling dulu. Pasar Lebaran sering memberi ruang pada film yang menawarkan pengalaman paling segar, selama pengalaman itu tetap ramah untuk keluarga.

Karena itu, Pelangi di Mars tidak harus “mengalahkan” Jumbo untuk dianggap menang. Dalam lanskap film anak Indonesia, kemenangan terbesar justru ketika penonton punya lebih dari satu pilihan berkualitas, dan film keluarga tidak lagi bergantung pada formula yang itu-itu saja. Jika Pelangi di Mars mampu mengeksekusi sci-fi tanpa kehilangan kehangatan, ia bisa membuka jalur baru. Dan membuka jalur baru, dalam industri yang sering bermain aman, kadang lebih berharga daripada sekadar menyalip angka.

Yang jelas, duel ini menyenangkan bagi penonton. Untuk sekali ini, pembicaraan tentang film anak bukan cuma soal “ada tayangan buat liburan”, tetapi soal siapa yang berani mengangkat standar. Jumbo sudah menyalakan api. Pelangi di Mars sedang membawa oksigen. Lebaran 2026 akan menjadi ruang uji yang paling jujur: apakah penonton hanya ingin mengulang yang sudah terbukti, atau siap memeluk petualangan baru di langit yang lebih jauh.