Sagu dan Padi, Komoditas Tanaman Pangan Potensial di Kawasan Transmigrasi Salor

Sedang mengetik...
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Muhamad Husni Tamami tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tim Ekspedisi Patriot IPB University menemukan bahwa padi dan sagu menjadi dua komoditas tanaman pangan yang berpotensi besar dikembangkan di Kawasan Transmigrasi Salor, Kabupaten Merauke, Papua Selatan. Temuan ini didapatkan setelah tim melakukan serangkaian kunjungan dan diskusi dengan berbagai instansi pemerintah, lembaga pendidikan, serta masyarakat setempat pada pekan kedua September 2025.
Koordinator lapangan, Muhamad Husni Tamami, menjelaskan bahwa hasil pengamatan lapangan menunjukkan adanya perbedaan karakter antara dua komoditas tersebut. “Padi menjadi tanaman pangan dominan di wilayah transmigrasi, sedangkan sagu banyak ditemukan di kampung-kampung lokal. Namun saat ini, sebagian masyarakat lokal juga mulai mengonsumsi nasi,” tuturnya, Senin (15/9/2025).
Dalam kunjungan ke Dinas Ketahanan Pangan, Peternakan, dan Kesehatan Hewan Kabupaten Merauke, tim memperoleh data bahwa lahan pertanian di kawasan transmigrasi didominasi oleh padi sawah, sementara sagu banyak tumbuh alami di kawasan kampung-kampung lokal yang belum terkelola secara intensif.
Sementara itu, hasil koordinasi dengan Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian, dan Perdagangan menunjukkan adanya kelompok UMKM masyarakat asli Papua yang mulai mengolah sagu menjadi aneka produk pangan siap saji. “Ada kelompok UMKM yang bahkan sudah mengirim produk olahan sagu ke Yogyakarta, meski bukan yang berasal dari wilayah transmigrasi Salor. Ini menjadi bukti bahwa potensi hilirisasi sagu mulai terbuka,” jelas Husni.
Tim juga mencatat bahwa meskipun sagu memiliki prospek ekonomi yang besar, minat investasi terhadap komoditas ini masih rendah. “Sagu baru bisa dipanen setelah 5–10 tahun, sehingga investor lebih tertarik pada tanaman pangan yang siklus panennya cepat seperti padi. Ini menjadi tantangan yang menurut kami optimistis bisa dicarikan solusinya,” tambahnya.
Selain berkoordinasi dengan berbagai dinas, tim juga melakukan kunjungan ke Universitas Musamus Merauke untuk mempelajari hasil-hasil penelitian terdahulu di kawasan transmigrasi Salor. Hasil diskusi menunjukkan pentingnya kolaborasi riset antarperguruan tinggi dalam mendukung pengembangan pangan lokal di Papua Selatan.
Husni menegaskan bahwa IPB University melalui kegiatan Ekspedisi Patriot berkomitmen mendukung pengembangan komoditas pangan berbasis potensi wilayah. “Kami berupaya merancang model pengembangan yang tidak hanya produktif secara ekonomi, tapi juga adaptif terhadap karakter sosial-budaya masyarakat setempat,” katanya.
Ke depan, tim berencana melanjutkan observasi ke kampung-kampung lokal untuk menggali lebih dalam potensi sagu sebagai komoditas unggulan spesifik kawasan Salor, sekaligus melakukan analisis hierarki prioritas (Analytic Hierarchy Process/AHP) untuk menentukan arah pengembangan yang paling sesuai. (*)
