Gara-gara Kantong Plastik Seharga Rp 6.000

Aku - Kamu - Berita
Tulisan dari Muhammad Iqbal tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Kebodohan kita adalah rutinitas memindahkan kantong plastik dari pedagang ke tong sampah."
Akhir tahun 2014 di Beijing, China. Satu malam di waktu senggang setelah agenda liputan, saya iseng berjalan-jalan sendiri di pusat kota Beijing tak jauh dari hotel saya menginap. Lalu saya mampir ke sebuah minimarket mencari cemilan dan minum.
Selesai belanja, si kasir tak memberikan saya plastik. Lho, gimana bawanya. Lalu dia menyebut plastik di minimarket itu ada harganya yaitu Y3 sekitar Rp 6.000. Alasan si kasir karena pembatasan sampah plastik. Lha kok mahal, satu keresek seharga ciki yang saya ambil! Akhirnya saya menolak dan memilih menenteng sendiri beberapa jajanan itu ke hotel.
Peristiwa itu biasa saja, dan saya punya cukup Yuan untuk membeli kantong plastik. Tapi harga Rp 6.000 itu menohok dendrit saya untuk berpikir ratusan kali, hanya untuk ditukar kantong plastik seukuran standar plastik alpa.
Sekembalinya saya ke Jakarta, ternyata pikiran tentang kantong plastik di Beijing itu berbuntut panjang. Sejak peristiwa malam itu, ada semacam kesadaran baru: Betapa kantong plastik dianggap sangat berbahaya, sehingga China merasa punya tanggung jawab untuk membatasi dengan menerapkan harga Y3.
Dampaknya serius, kantong plastik. Pasti kita pernah lihat postingan soal ini di Instagram atau baca artikelnya. Tersentuh? Ya enggak, cuma dianggap informasi aja.
Kalau begitu, berapa banyak kantong plastik yang kita 'sumbang' setiap hari ke tong sampah? Mulai dari jajan gorengan pagi, makan siang, makan malam, jajan di alpa, plastik belanja barang-barang, dan masih banyak lagi. Gila! Banyak juga kalau dipikir-pikir.
Dari tong sampah, masuk ke tanah dia tak bisa diurai. Masuk got dan aliran sungai, dia menghambat. Masuk Tempat Pembuangan Akhir, dia jadi tumpukan. Dibakar, dia jadi polusi. Dimakan?
Peristiwa di Beijing itu berdampak besar pada cara pikir dan gaya hidup saya. Tiba-tiba beberapa hari setelah itu, saya ke alpa membawa plastik sendiri yang saya dapat dari alpa yang sama sebelumnya.
Lalu, karena hampir setiap pagi saya beli pisang goreng/molen untuk teman ngopi, sejak saat itu, saya selalu menolak gorengan dibungkus plastik. Jadi karena sudah di dalam kertas, saya langsung masukan ke boks motor di bawah setang atau ke tas.
Dan itu berlangsung sampai saat ini! Kecuali si pedagang hanya punya plastik untuk menjajakannya dan saya tak bawa alternatif, saya maklumi setelah dipikirkan.
Terjadi bukan hanya pada gorengan, semua yang tak butuh plastik saya tolak. Belanjaan, makanan berat, camilan, sampai kerupuk saya sudah mengurangi tak berplastik.
Pernah saya beli telur di warung yang sudah dibungkus plastik. Lalu si ibu warung memasukkan lagi ke plastik agar bisa dijinjing, tapi saya menolak. Dan terjadilah perdebatan. "Udah, pakai saja nanti telurnya jatoh. Itu plastiknya tipis". "Enggak perlu, Bu. Ini bisa saya masukin boks motor." "Aduh.. bawa aja sih." (Dalam hati, mungkin si ibu perlu ke Beijing).
Saya ulang quote di atas:
"Kebodohan kita adalah rutinitas memindahkan kantong plastik dari pedagang ke tong sampah."
Kita itu enggak butuh plastik. Tapi tetap saja dipakai, bahkan hampir dipastikan berlapis-lapis. Cara berpikirnya 'enggak peduli'. Coba pikir baik-baik: Beli ciki/camilan satu dibungkus plastik. Sampai rumah plastik langsung buang ke tempat sampah.
Berapa menit dari warung atau alpa ke rumah? Hei...! Itu plastik cuma dipindahin dari alpa ke tong sampah. Padahal kita cuma butuh ciki-nya saja.
Belum lagi plastik pembungkus ciki. Aduh... Sedih. Harga ciki Rp 1.000 dibungkus makhluk berbahaya seperti ini:
Dikutip dari https://www.p-wec.org/id, jumlah sampah yang dihasilkan setiap hari di Indonesia hingga mencapai 11.330 ton per hari. Jika diambil rata-rata, maka setiap orang menghasilkan sampah sebesar 0.050 kilogram per hari.
Jika jumlah sampah itu dihasilkan dalam hitungan hari, tinggal dikalikan dengan tahun, maka sampah yang dihasilkan hingga mencapai 4.078.800 ton. Berapa lama sampah non organik itu bisa dihancurkan oleh alam? Plastik memerlukan waktu 50 - 100 tahun untuk terurai!
Gila enggak, tuh! Ciki Rp 1.000, dimakan 3 menit, plastik pembungkusnya perlu 50-100 tahun agar bisa diurai.
Apakah saya masih pakai plastik? Ya masih. Ini soal mengurangi aja, kalau bisa tak pakai plastik ya tidak usah iseng diplastikin. Ini juga soal kesadaran aja. Gara-gara kebiasaan ini, istri saya ikut terbiasa menolak plastik.
Bayangkan gara-gara plastik harganya Rp 6.000, sudah sekitar 5 tahun saya mengurangi sampah plastik. Coba kalau diterapkan di Indonesia. Aduh.... bye!
Jadi, ini mulai dari kita. Terus kasih edukasi pedagang/penjual, teman, dan lingkungan lebih luas. Percayalah kita enggak butuh-butuh amat dengan plastik. Tapi bahayanya luar biasa. Dump.
