Puisi Panglima TNI 'Tapi Bukan Kami Punya' yang Viral, Apa Maksudnya?

kumparanNEWSverified-green

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo (Foto: M Agung Rajasa/Antara)
zoom-in-whitePerbesar
Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo (Foto: M Agung Rajasa/Antara)

Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo membacakan puisi dalam Rapimnas Partai Golkar, Senin (22/5) kemarin di Balikpapan. Puisi berjudul 'Tapi Bukan Kami Punya' itu pun viral. Apa maksud dari puisi itu?

Puisi itu dibuat oleh konsultan politik Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny JA. Berikut isi puisi yang dibacakan oleh Panglima TNI:

Sungguh Jaka tak mengerti, mengapa ia dipanggil ke sini.

Dilihatnya Garuda Pancasila, tertempel di dinding dengan gagah.

Dari mata burung Garuda, ia melihat dirinya

Dari dada burung Garuda, ia melihat desa

Dari kaki burung Garuda, ia melihat kota

Dari kepala burung Garuda, ia melihat Indonesia

Lihatlah hidup di desa, sangat subur tanahnya

Sangat luas sawahnya, tapi bukan kami punya

Lihat padi menguning, menghiasi bumi sekeliling

Desa yang kaya raya, tapi bukan kami punya

Lihatlah hidup di kota, pasar swalayan tertata

Ramai pasarnya, tapi bukan kami punya

Lihatlah aneka barang, dijual belikan orang

Oh makmurnya, tapi bukan kami punya

Jika terus Jaka terpana, entah mengapa meneteskan air mata,

air mata itu ia yang punya.

video youtube embed

Ditengok dari Twitter @DennyJA_World, Selasa (23/2), puisi itu dalam versi awal dibuat untuk mengenang wafatnya pemusik legendaris Leo Kristi. Judulnya 'Tapi Bukan Kami Punya', yang juga terinspirasi dari lirik lagu Leo Kristi: Salam dari Desa.

X post embed

Puisi untuk mengenang Leo Kristi ini dibuat lebih panjang dengan mengangkat isu keadilan sosial, demonstrasi dan agama. Berikut penggalannya:

Masuklah petinggi polisi, siapkan lakukan interogasi

Kok Jaka menangis? Padahal ia tidak bengis?

Jaka pemimpin demonstran, aksinya picu kerusuhan

Harus didalami lagi dan lagi, Apakah ia bagian konspirasi?

Apakah ini awal dari makar? Jangan sampai aksi membesar?

Mengapa pula isu agama, Dijadikan isu bersama?

Mengapa pula ulama? Menjadi inspirasi mereka?

Lalu puisi itu dibacakan Panglima TNI dengan tokoh yang sama, Jaka, tapi dalam versi lebih pendek dan meniadakan isu demonstrasi dan agama. Tapi hanya fokus isu keadilan sosial.

X post embed

Dalam pidatonya, Gatot menyebut puisi itu sebagai gambaran tangisan dari penduduk penduduk Melayu di Singapura yang pernah menjadi kelompok mayoritas, tapi kini terpinggirkan. Gatot mengingatkan agar peristiwa itu tidak terjadi di Indonesia.

Karena puisinya dibacakan Panglima TNI, Denny JA yang juga pengagas Indonesia Tanpa Diskriminasi, lalu membuat tulisan lanjutan dengan judul 'Mempertemukan Kembali Puisi dan Masyarakat' melalui situs microblogging inspirasi.co.

X post embed

Denny JA mengutip ucapan John F Kennedy yang terkenal: 'Jika saja para politisi lebih banyak membaca puisi, dan para penyair lebih peduli politik, kita akan hidup dalam dunia yang lebih baik'.

"Itu sebabnya mengapa Jenderal TNI yang membaca puisi di Rapimnas Golkar Mei 2017 menjadi viral di media. Ini peristiwa yang tak bisa. Pembekalan untuk rapat pimpinan tertinggi sebuah partai besar diisi oleh puisi. Yang membaca puisi seorang jenderal TNI pula. Kebetulan puisi yang dibaca karya saya sendiri: Tapi Bukan Kami Punya," papar Denny JA.