Konten dari Pengguna

Di Antara Literasi dan Layar: Mencari Arah Pendidikan Hari Ini

Mhd Irfan

Mhd Irfan

Senang bertingkah bodoh

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Mhd Irfan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pembelajaran Coding di SMP Strada Mardi Utama 1, Jakarta Pusat. (Dok. Mhd. Irfan)
zoom-in-whitePerbesar
Pembelajaran Coding di SMP Strada Mardi Utama 1, Jakarta Pusat. (Dok. Mhd. Irfan)

Pendidikan selalu berada di antara dua tarikan besar: menjaga nilai yang diwariskan dan menjawab perubahan yang terus datang. Ia tidak pernah benar-benar diam. Di Indonesia, terutama di wilayah urban seperti Jabodetabek, tarikan itu terasa semakin kuat seiring percepatan teknologi yang memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan.

Literasi dasar—membaca, memahami, dan berpikir kritis—masih menjadi pekerjaan rumah yang belum sepenuhnya tuntas. Di saat yang sama, dunia di luar ruang kelas telah berubah drastis. Teknologi hadir bukan sebagai tambahan, melainkan sebagai bagian dari keseharian yang membentuk cara berpikir generasi muda.

Ketegangan inilah yang membuat pendidikan hari ini tidak bisa lagi berjalan dengan pola lama. Ia dituntut untuk bergerak lebih lentur, lebih peka, dan lebih berani membaca zaman agar tidak tertinggal oleh perubahan yang terus berlari.

Anak-anak dan Bahasa Baru Bernama Teknologi

Bagi anak-anak hari ini, teknologi bukanlah sesuatu yang asing. Gawai hadir sejak dini, layar menjadi medium pertama untuk mengenal dunia, dan ruang digital menjadi tempat berinteraksi sekaligus bereksplorasi. Mereka cepat memahami fitur, gesit berpindah aplikasi, dan terbiasa dengan ritme digital yang serba instan.

Kelincahan ini sering dipandang sebagai keunggulan generasi baru. Namun di balik itu, ada tantangan yang tidak kecil. Ketika anak-anak begitu akrab dengan teknologi, fondasi literasi yang seharusnya menjadi penopang justru belum selalu kuat.

Di titik inilah pendidikan diuji. Teknologi tidak bisa dihindari, tetapi juga tidak bisa dibiarkan berjalan tanpa arah. Pendidikan dituntut untuk hadir sebagai penuntun, bukan sekadar pengikut perubahan.

Ilustrasi Digital Transformation. (Dok. Pertamina)

Tantangan Pendidikan di Tengah Laju Perubahan

Pendidikan hari ini tidak lagi cukup jika hanya berfokus pada penguasaan materi. Dunia yang terus berubah menuntut kemampuan berpikir, beradaptasi, dan memecahkan masalah. Literasi dan teknologi tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.

Sekolah sering kali berada dalam posisi sulit. Di satu sisi, mereka berupaya mengejar ketertinggalan literasi. Di sisi lain, siswa telah hidup dalam dunia digital yang bergerak jauh lebih cepat daripada kurikulum.

Tantangan terbesar pendidikan bukan pada teknologinya, melainkan pada bagaimana menyelaraskan kecepatan perubahan dengan kesiapan sistem belajar yang ada.

Kantor Erlass Coding dan Robotic. (Dok. Promosi Erlass)

Membaca Zaman, Bekerja di Ruang Sekolah

Dalam situasi seperti ini, peran aktor pendidikan nonformal menjadi semakin relevan. Mereka bergerak di ruang antara—tidak sepenuhnya terikat oleh sistem formal, tetapi bersentuhan langsung dengan kebutuhan di lapangan.

Erlass Group hadir dalam konteks tersebut. Melalui PT Erlass Prokreatif Indonesia, Erlass memilih untuk tidak hanya mengamati perubahan, melainkan ikut bekerja di dalamnya. Alih-alih hadir dengan jargon besar, Erlass masuk ke ruang sekolah, membangun kerja sama, dan menjalankan program yang berangkat dari kebutuhan nyata pendidikan.

Ekstrakurikuler sebagai Ruang Kesempatan

Program coding dan robotik Erlass hadir dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Ruang ini sering dipandang sebagai pelengkap, tetapi justru menyimpan potensi besar untuk inovasi pendidikan.

Melalui skema kemitraan dengan sekolah, Erlass membuka akses pembelajaran teknologi yang lebih terjangkau. Sebab pelatihan serupa di luar sekolah masih identik dengan biaya tinggi dan keterbatasan akses.

Bagi siswa, ekskul menjadi ruang aman untuk bereksperimen. Bagi sekolah, kemitraan ini membantu menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan perkembangan zaman.

Sosialisasi Coding Scratch di SMP Budi Mulia, Sawah Besar, Jakarta Pusat. (Dok. Mhd. Irfan)

Bergerak Sebelum Menjadi Wacana

Langkah Erlass menarik karena tidak lahir dari euforia kebijakan. Jauh sebelum coding dan kecerdasan buatan ramai dibicarakan secara nasional, Erlass telah lebih dulu mengambil inisiatif.

Pendidikan, dalam pendekatan ini, tidak menunggu regulasi untuk bergerak. Ia membaca kebutuhan, lalu bertindak. Sikap ini menunjukkan keberanian untuk melangkah lebih dulu.

Di tengah dunia pendidikan yang sering reaktif, inisiatif semacam ini menjadi penting agar perubahan tidak selalu datang terlambat.

Dari Coding Dasar hingga Kecerdasan Buatan

Perjalanan Erlass bermula dari sesuatu yang sangat sederhana, bahkan nyaris sunyi. Materi pembelajaran diproduksi dalam bentuk video, lalu disimpan di dalam flashdisk—sebuah pilihan yang lahir dari pembacaan jujur atas kondisi sekolah pada masanya. Ketika akses internet belum merata dan perangkat masih terbatas, cara ini menjadi jembatan agar proses belajar tetap berlangsung.

Dari titik awal itu, program perlahan berkembang menjadi kegiatan ekstrakurikuler coding dan robotik. Sekolah-sekolah di Jabodetabek merespons dengan antusias, bukan semata karena tren, melainkan karena adanya kebutuhan nyata akan literasi teknologi yang terjangkau dan relevan. Di ruang-ruang kelas itulah terlihat bahwa teknologi bukan sekadar pelengkap, tetapi mulai dibutuhkan sebagai bagian dari proses belajar.

Seiring berjalannya waktu—dan usia perjalanan yang kini memasuki tahun ke-16—cakupan pembelajaran pun meluas dan akan terus berkembang. Program kecerdasan buatan sudah lebih dulu diperkenalkan sebelum Erlass genap 16 tahun, juga kolaborasi coding berbasis AI, pelatihan desain Canva, Bahasa Inggris, hingga eksplorasi perangkat seperti Microbit, Arduino, dan Pictoblox. Ragam pendekatan ini menandai satu hal penting: pendidikan teknologi tidak pernah berhenti pada satu bentuk, melainkan terus menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

Lebih dari Sekadar Menguasai Kode

Meski berangkat dari teknologi, fokus Erlass tidak berhenti pada penguasaan teknis. Kurikulum dirancang untuk melatih cara berpikir, bukan sekadar keterampilan menggunakan aplikasi. Pendekatan computational thinking menjadi poros utama. Anak-anak dilatih mengenali pola, menyusun logika, dan memecahkan masalah secara bertahap. Teknologi diperlakukan sebagai alat bantu. Tujuan akhirnya adalah membentuk cara berpikir yang adaptif, kritis, dan berani mencoba.

Tidak ada perjalanan pendidikan yang sepenuhnya mulus. Teknologi selalu berkembang lebih cepat dari rencana manusia. Kesadaran ini membuat Erlass terus menyesuaikan diri. Pada fase pematangan organisasi, tantangan justru semakin kompleks. Bukan lagi soal bertahan, melainkan soal menjaga kualitas, relevansi, dan kepercayaan dalam jangka panjang.

Sosialisasi coding, AI, dan robotik di SDS Santo Ignatius, Jakarta Pusat. (Dok. Mhd. Irfan)

Mimpi tentang Pemerataan Literasi

Upaya Erlass tidak berhenti di pusat kota. Ada keinginan untuk memperluas jangkauan hingga ke wilayah yang lebih luas. Misi besarnya sederhana: memastikan literasi, baik pengetahuan dasar maupun literasi digital, tidak menjadi privilese segelintir. Pemerataan menjadi kata kunci agar pendidikan benar-benar hadir bagi seluruh generasi bangsa.

Pada akhirnya, pendidikan bukan soal siapa yang paling cepat mengadopsi teknologi. Ia adalah kerja panjang yang menuntut kesabaran dan konsistensi. Di tengah perubahan yang bergerak cepat, pendidikan harus memastikan tidak ada anak yang tertinggal hanya karena perbedaan ruang dan waktu. Menjaga pendidikan tetap bernapas, relevan, dan manusiawi mungkin tidak pernah selesai—dan justru di situlah makna perjuangannya.