• 105

Novel Baswedan: Saya Sudah Sampaikan ke Polisi Nama Jenderal Itu

Novel Baswedan: Saya Sudah Sampaikan ke Polisi Nama Jenderal Itu


Novel Baswedan

Penyidik KPK, Novel Baswedan (Foto: Puspa Perwitasari/Antara Foto)

Nama jenderal polisi yang diduga terlibat dalam penyerangan Novel Baswedan, ternyata sudah disampaikan ke Kepolisian, oleh penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi itu. Tapi Novel, yang kini dirawat di Singapore General Hospital, merasa polisi tak tertarik mengusut keterlibatan jenderal tersebut.
Novel diserang ketika berjalan kaki pulang setelah salat subuh berjamaah di masjid dekat rumahnya, 11 April 2017. "Kerusakan mata mencapai 95 persen. Ini bukan soal sudah bisa melihat sejauh mana, tapi masih bisa melihat lagi atau tidak," katanya.
kumparan (kumparan.com) mewawancarai Novel melalui telepon internet, pada Kamis dini hari, 22 Juni 2017. "Saya susah membaca, saya telepon saja," kata Novel. Berikut wawancaranya.
Selamat ulang tahun, bagaimana kondisi anda saat ini? Terima kasih, saya mencoba berpikir positif saja, ini tidak ada ruginya. Sekarang saya hanya bisa beristirahat, mungkin ini yang saya butuhkan. Peristiwa ini tidak bisa menghalangi kita yang berjuang. Kita enggak akan jera.
Ramai sekali pemberitaan tentang keterlibatan oknum jenderal. Bisa diceritakan? Jadi begini, saya mendengar info ini sudah lama dan saya tidak mempercayainya. Tapi waktu berlalu dan saya melihat fakta-fakta yang semakin membuat saya berpikir, jangan-jangan info itu benar?
Saya tidak punya bukti, saya justru ingin melihat bukti itu dari temuan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia yang membentuk Tim Pencari Fakta.
Bagaimana Anggota Densus 88 bisa membantu anda? Itu terjadi sepekan setelah saya bertemu Kapolri. Kan, Kapolri berjanji akan menemukan pelakunya. Beberapa hari kemudian, mereka (Densus) ke rumah.
Awalnya, keluarga saya di rumah tidak mempercayai mereka, tapi mereka memberikan nomor telepon atasannya, yang orangnya saya tahu, mungkin sekarang ia berpangkat Komisaris Besar karena banyak angkatannya sudah Kombes.
Saya bertanya bagaimana metodologi pencarian pelaku, dan ia menjelaskan hal-hal teknis yang lazim digunakan untuk memburu terduga teroris. Saya menilai metodologi itu sudah benar.
Kemudian, dia mengirim foto pelaku.

Baca Juga :


    Tapi Kepolisian justru balik meminta anda membuktikan keterlibatan oknum jenderal? Kalau dia bukan penegak hukum, boleh dia berkata begitu. Tapi dia penegak hukum. Pernyataan itu menunjukkan dia tidak paham tugasnya.
    Mengapa anda tidak menceritakan saja soal identitas jenderal ini, ke polisi? Sudah dan mereka tidak tertarik.
    Kapan? Saya kan sering memberikan keterangan. Misalnya, saya sudah memberikan keterangan ke Kapolres, ke penyidik, cuma memang belum dituangkan ke dalam berita acara pemeriksaan. Tapi tak selalu harus dituangkan ke BAP.
    Perkara saya ini saksinya banyak. Kalau polisi mau, pasti akan cepat terungkap (Novel memberikan informasi, tapi sifatnya off the record).
    Mengapa anda bilang polisi tak tertarik menemukan pelakunya? Ada saksi yang melihat pelaku memegang gelas itu tanpa memakai sarung tangan. Tapi polisi bilang tak menemukan sidik jari di gelas tersebut.
    Padahal gerakan menyiram air di dalam geras membutuhkan genggaman. Jangankan itu. Gerakan mencuci gelas pun, gelasnya digenggam.
    Siapa saksi yang anda maksud? Tetangga saya (Novel lalu menyebutkan nama).
    Anda sudah dua bulan dirawat, apakah tahu perkembangan penyidikan kasus di KPK? Para penyidik sering meminta saran penanganan perkara, mereka meminta pendapat saya. Jadi, ya, saya tahu sudah sejauh apa penyidikannya.
    Selepas anda dirawat, KPK sudah menetapkan Miryam S. Haryani dan Markus Nari sebagai tersangka. Anda tahu? Tahu, dan itu sudah direncanakan. Kebetulan satu hari sebelum peristiwa penyerangan, saya memaparkan rencana penyidikan kepada tim. Mereka paham apa yang harus dikerjakan.
    Tapi saya meminta agar laporan tidak disampaikan lewat telepon, karena perkembangan selaput mata ini dipengaruhi oleh kondisi psikologis saya. Selain itu, karena saya merasa telepon ini disadap. Anda juga harus berhati-hati.
    Saya ingat, ketika suatu subuh ke masjid di dekat rumah anda. Betapa para tetangga anda merasa aware terhadap kehadiran saya, sehingga anda beberapa kali mengatakan "Ini kawan saya". Padahal waktu itu saya memakai kartu pers. Apa yang anda lakukan sehingga membuat para tetangga itu aware dengan kondisi sekitarnya? Tetangga saya itu komunikatif. Walaupun ada di Jakarta, tapi hubungan antar-tetangga tidak sendiri-sendiri. Mereka mengawasi, bahkan kalau ada yang mencurigakan, mereka mengamati, mereka inisiatif memotret.
    Dari mereka lah petunjuk ke pelaku terbuka. Para tetangga ini yang memotret pelaku. Sehingga mereka yakin 100 persen orangnya itu.

    Baca Juga :


      Baik, anda berulang tahun yang ke-40. Apa yang mau disampaikan ke publik? Bagi saya, usia bukan berapa yang sudah tercapai, tapi berapa sisanya. Ini berbicara produktivitas. Akankah kita sia-sia jika kita tidak berbuat baik. Umur saya siapa yang tahu, mungkin lebih pendek dari anda. Tapi saya fakus, mengoptimalkan diri berbuat baik, karena kalau tak begitu, rugi.
      Rezeki, Allah yang mengatur. Itu given.
      Tapi berbuat baik itu pilihan: Mau di zona nyaman, mau diam, atau bergerak.
      Dengan berbuat baik, anda bisa dimusuhi. Tapi siapapun yang ingin melakukan apapun kepada kita, jika Allah tidak menghendaki, tidak akan terjadi. Semuanya atas izin Allah.
      Bagaimana perkembangan mata anda? Mata kiri, sekarang persoalannya bukan sudah bisa melihat sejauh mana. Tapi apakah sudah tertutup selaput kornea atau belum. Ini soal waktu, ini persoalan risiko tidak bisa melihat sama sekali.
      Mata kiri ini, terbukanya terlalu luas. Kerusakannya 95 persen. Infeksi. Sehingga dokter harus menutupnya dengan membran dari plasenta.
      Pengobatannya jangka panjang.
      Jika anda duduk bersila, apakah mata kiri bisa melihat ujung lutut anda? Lutut? Tidak bisa.
      Lalu bagaimana kondisi mata kanan anda? Yang kanan, cukup bisa melihat. Tapi sekarang diberi lensa sehingga semakin membatasi penglihatan. Yang bisa saya lakukan hanya menunggu, karena pengobatan ini, seperti saya bilang tadi, berjangka panjang. Bahkan dokter tidak tahu kapan pengobatan ini selesai.
      Kepada siapapun yang mendukung pemberantasan korupsi, terima kasih atas doa dan dukungannya. Salam untuk kawan-kawan.

      Kondisi Novel Baswedan (NOT COVER)

      Kondisi Novel Baswedan pasca operasi (Foto: Dok. KPK)



      HukumKPKNovel BaswedanAir Keras Novel

      500

      Baca Lainnya