Konten dari Pengguna

Arsenal Bangkit dari Tertinggal dan Chelsea Pulang Tanpa Jawaban

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhamad Rizky Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi oleh AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi oleh AI

Hanya butuh dua menit bagi Chelsea untuk memberikan Emirates Stadium keheningan yang tidak diinginkan oleh siapapun yang mengenakan kostum merah malam itu. Morgan Rogers menerima bola di tepi kotak penalti, melepaskan tendangan voli akurat yang bersarang di sudut kiri gawang David Raya, dan Chelsea unggul lebih dulu di kandang Arsenal dalam derby London pekan ketiga Premier League 2026-2027.

Tapi kemudian Arsenal mulai bermain seperti tim yang tahu persis apa yang ingin mereka lakukan, dan Chelsea mulai terlihat seperti tim yang datang hanya dengan satu rencana. Sembilan puluh menit kemudian, The Gunners menang 2-1 dan menjaga rekor sempurna mereka di awal musim dengan sembilan poin dari tiga laga.

Gol yang Dianulir dan Mental yang Tidak Ikut Goyah

Arsenal merespons ketertinggalan dengan meningkatkan tekanan. Di menit ke-12, Riccardo Calafiori memanfaatkan bola rebound untuk menyamakan kedudukan, dan Emirates sempat meledak. Tapi wasit memutuskan untuk merujuk ke VAR, dan setelah pemeriksaan, gol itu dianulir karena ada pemain Arsenal yang berada dalam posisi offside dalam proses terciptanya gol tersebut.

Bagi banyak tim, gol dianulir VAR tepat setelah tertinggal gol cepat adalah momen yang bisa meruntuhkan momentum. Arsenal memilih untuk tidak membiarkan itu terjadi. Mereka tetap dalam struktur yang sama, terus menekan, dan terus mencari celah di pertahanan Chelsea yang bermain cukup rapat di babak pertama.

Havertz Menyamakan, Odegaard Memutuskan

Kai Havertz akhirnya menjawab ketertinggalan Arsenal dengan gol penyeimbang yang membuat Emirates kembali hidup. Kapten Martin Odegaard kemudian menjadi penentu dengan gol yang membalik keadaan menjadi 2-1 di babak kedua, sebuah gol yang disambut dengan ledakan suara dari seluruh penjuru stadion.

Xabi Alonso setelah laga mengakui timnya masih perlu banyak belajar, tapi tetap memuji semangat skuadnya yang tidak menyerah meski akhirnya kalah. Arteta di sisi lain menekankan bahwa detail kecil menjadi pembeda malam itu, dan menegaskan Arsenal masih bisa terus berkembang dari sini. Kedua pelatih muda ini sedang membangun sesuatu di masing-masing klub, dan derby London malam itu adalah cara terbaik untuk mengukur sejauh mana masing-masing sudah melangkah.

Hasilnya menempatkan Arsenal di posisi kedua klasemen sementara dengan sembilan poin, sama dengan Manchester City di puncak. Chelsea turun ke posisi keempat dengan enam poin dari tiga laga, dengan pertahanan yang masih menjadi catatan penting untuk diperbaiki Alonso sebelum jadwal semakin padat.

Derby yang Sudah Bicara Lebih Keras dari Biasanya

Dalam sejarah panjang rivalitas Arsenal dan Chelsea yang sudah mencapai 216 pertemuan, Arsenal kini memimpin dengan 88 kemenangan berbanding 66 milik Chelsea. Kemenangan malam ini menambah satu lagi ke koleksi itu, tapi yang lebih penting dari statistik masa lalu adalah apa yang ditunjukkan Arsenal tentang karakter mereka musim ini.

Diusik gol cepat di menit kedua, kehilangan gol sah karena VAR, tapi tetap menang. Itu bukan sekadar tiga poin, itu adalah sinyal kepada semua tim di Premier League bahwa Arsenal yang sedang dibangun Arteta punya sesuatu yang tidak mudah digoyahkan bahkan ketika segalanya berjalan buruk di awal. Musim ini masih panjang, tapi derby London pekan ketiga sudah memberikan cukup banyak jawaban tentang tim mana yang lebih siap untuk bersaing di puncak.