Dari Hampir Degradasi ke League One, Hull City Kini di Papan Atas

Undergraduate Communication Student at Pamulang University
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhamad Rizky Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Enam belas bulan lalu, Hull City hampir terdegradasi ke League One hanya karena selisih gol. Bukan kekalahan besar di menit terakhir, bukan drama yang panjang, hanya selisih gol yang memisahkan mereka dari kasta ketiga sepak bola Inggris. Dan kini, di September 2026, tim yang sama duduk di posisi ketiga klasemen Premier League dengan tujuh poin dari tiga pertandingan.
Sepak bola memang tidak pernah benar-benar bisa diprediksi. Tapi perjalanan Hull City dalam 16 bulan terakhir bahkan melampaui batas "tidak terduga" biasa. Ini adalah cerita yang membutuhkan beberapa kali dibaca ulang untuk benar-benar dipercaya.
Cara Hull Menghancurkan Naskah yang Sudah Ditulis untuk Mereka.
Saat Hull City memastikan promosi ke Premier League lewat gol dramatis Oliver McBurnie di menit ke-90 lebih 5 dalam final playoff Championship melawan Middlesbrough pada Mei 2026, sebagian besar prediksi langsung menempatkan mereka sebagai kandidat terkuat untuk terdegradasi kembali. Wajar saja. Hull bukan tim dengan nama besar, bukan tim dengan keuangan raksasa, dan bukan tim yang punya rekam jejak bertahan lama di Premier League.
Pekan pertama, Hull menjamu Manchester United. MU datang dengan 21 tembakan sepanjang 90 menit, menguasai bola, mendominasi hampir semua statistik. Tapi Semi Ajayi membuka keunggulan di menit ke-17 dari situasi bola mati setelah bola muntah dari tembakan McBurnie, dan Nobel Mendy menggandakannya di menit ke-38 lewat sundulan. Hull menang 2-0. Bukan sekadar menang, ini kemenangan pertama Hull atas MU di Premier League, dan menjadikan mereka tim promosi pertama yang mengalahkan juara bertahan kasta tertinggi Inggris dalam lebih dari tiga dekade.
Tujuh Poin, Satu Pesan yang Sangat Jelas.
Setelah MU, Hull bertandang ke markas Coventry City di pekan kedua. Bukan laga mudah, tapi Liam Millar memastikan kemenangan 1-0 lewat gol di menit ke-82 dari situasi serangan balik. Enam poin dari dua laga, Hull sudah di papan atas bersama Manchester City dan Chelsea.
Pekan ketiga, Hull menghadapi Aston Villa. Ini lawan yang berbeda levelnya dari MU dan Coventry. Villa adalah juara Europa League musim lalu, dan membawa skuad penuh kualitas Premier League berpengalaman. Hull tidak menang, tapi juga tidak kalah. Imbang 0-0, dan satu poin yang membuat total mereka menjadi tujuh dari tiga laga. Kiper Konstantinos Tzolakis tampil cemerlang malam itu, memastikan Villa tidak bisa menembus pertahanan Hull yang bermain sangat terorganisir dan disiplin sepanjang 90 menit.
Tujuh poin. Posisi ketiga. Hanya tertinggal dua poin dari Arsenal dan Manchester City yang berada di puncak dengan sembilan poin sempurna.
Transformasi yang Dimulai Jauh Sebelum Musim Ini.
Yang membuat pencapaian ini bukan sekadar keberuntungan awal musim adalah konteksnya. Semua perubahan ini bisa ditelusuri kembali ke satu keputusan yang diambil Hull sekitar 16 bulan lalu, ketika mereka mendatangkan Sergej Jakirovic sebagai pelatih kepala. Dalam waktu kurang dari dua musim, Jakirovic membangun tim yang bermain dengan identitas yang jelas: disiplin bertahan, efektif dalam memanfaatkan bola mati, dan tidak takut kepada siapapun.
Ini bukan tim yang berharap selamat sambil bermain negatif. Ini tim yang datang ke setiap pertandingan dengan keyakinan bahwa mereka bisa mendapatkan sesuatu. Dan sampai sejauh ini, keyakinan itu tidak terbukti salah. Terlalu dini untuk berbicara soal akhir musim, dan perjalanan Hull masih panjang dengan banyak rintangan yang menanti. Tapi selama beberapa pekan pertama ini, Hull City sudah membuktikan satu hal yang tidak membutuhkan tanda kutip atau catatan kaki: mereka tidak datang ke Premier League hanya untuk menjadi pelajaran bagi tim lain.
