Konten dari Pengguna

Ketika Ankara Menjadi Panggung Ujian Terakhir bagi NATO

Muhamad Rizky Saputra

Muhamad Rizky Saputra

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhamad Rizky Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Image by Clker-Free-Vector-Images from Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Image by Clker-Free-Vector-Images from Pixabay

Ada yang berbeda dari KTT NATO tahun ini. Tiga puluh dua pemimpin negara anggota memang hadir seperti biasa di Ankara pada 7-8 Juli 2026. Agenda resminya terlihat seperti biasa pula: peningkatan belanja pertahanan, penguatan industri militer, dan dukungan jangka panjang untuk Ukraina. Tapi di bawah permukaan semua agenda itu, ada ketegangan yang sudah lama menumpuk dan kali ini sulit lagi disembunyikan.

KTT ini, menurut banyak pengamat, tidak berbeda jauh dari sebuah sidang darurat. Semua pihak datang dengan kekhawatiran yang sama: apakah NATO masih bisa bertahan dalam bentuknya yang sekarang?

Ketika Tuan Rumah Sendiri Bukan Tamu yang Mudah

Turki terpilih sebagai tuan rumah KTT kali ini bukan tanpa alasan. Dengan militer terbesar kedua di NATO dan posisi strategis di sayap tenggara aliansi, Ankara memiliki modal untuk memainkan peran mediator antara Trump dan sekutu-sekutu Eropa yang mulai gerah. Erdogan memang dikenal bisa berbicara dalam bahasa yang dipahami Trump.

Tapi justru Turki sendiri menjadi salah satu sorotan sebelum KTT dimulai. Menjelang pertemuan, lebih dari 225 orang ditangkap di Ankara dalam beberapa hari, mayoritas aktivis hak asasi manusia, pegiat lingkungan, dan jurnalis. Larangan unjuk rasa diberlakukan selama dua pekan penuh. Organisasi Human Rights Watch mengkritik keras langkah ini sebagai tindakan yang bertentangan dengan nilai-nilai dasar aliansi yang sedang dirayakan.

Trump, Eropa, dan Rekening yang Belum Dibayar

Sumber ketegangan terbesar dalam KTT ini datang dari arah yang sudah lama bisa ditebak: Donald Trump. AS di bawah Trump sudah lebih dulu menarik 5.000 tentara dari Jerman dan mengancam akan melakukan hal yang sama di Italia dan Spanyol. Penarikan ini bukan gertak sambal, melainkan respons nyata atas keengganan negara-negara Eropa membantu Amerika Serikat selama konflik Iran.

Trump sudah menyampaikan kekecewaannya sejak Mei lalu: AS membantu Eropa menghadapi Rusia di Ukraina, tapi ketika AS membutuhkan dukungan di Selat Hormuz, Eropa memilih untuk tidak terlibat. Bagi Trump, ini bukan soal geopolitik, ini soal tagihan yang belum dibayar.

Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth bahkan menjuluki NATO sebagai "harimau kertas", sebuah istilah yang bukan sekadar retorika. Di balik julukan itu ada tuntutan konkret: negara-negara anggota harus mengalokasikan minimal 5 persen dari PDB masing-masing untuk belanja pertahanan. Komitmen tahun lalu di Den Haag sudah menghasilkan peningkatan belanja pertahanan sebesar 139 miliar dolar AS dari negara-negara Eropa dan Kanada, tapi bagi Trump angka itu masih belum cukup.

Eropa Mulai Belajar Berjalan Sendiri

Di tengah semua tekanan itu, ada pergeseran yang pelan tapi signifikan terjadi di sisi Eropa. Sejumlah negara mulai mengambil langkah membangun kapasitas pertahanan yang tidak sepenuhnya bergantung pada AS. Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte menyebutnya secara terbuka sebagai transformasi menuju "NATO 3.0", sebuah aliansi di mana Eropa harus lebih otonom dan mampu mengambil keputusan sendiri dalam masalah keamanan kawasannya.

Ini bukan hal yang pernah terbayangkan dua dekade lalu. Eropa selama bertahun-tahun memilih bergantung pada payung keamanan AS karena lebih murah dan lebih mudah. Tapi ketika payung itu mulai terasa tidak pasti, negara-negara Eropa tidak punya pilihan selain mulai mempersiapkan diri untuk berdiri lebih tegak.

KTT Ankara hari ini mungkin akan menghasilkan deklarasi bersama yang terasa seperti biasa, penuh komitmen dan kata-kata soal persatuan. Tapi yang benar-benar berubah tidak akan tertulis di deklarasi mana pun. Pergeseran itu sedang terjadi di balik setiap pembicaraan bilateral di koridor Ankara, dan hasilnya baru akan terlihat dalam beberapa tahun ke depan.