Konten dari Pengguna

Ketika Argentina Tetap Libur Nasional Meski Pulang Tanpa Trofi

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhamad Rizky Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Massa berpakaian garis biru-putih khas Argentina terus berdatangan dan memenuhi area sekitar pusat Manhattan. Foto: Aditya Pradana Putra/ANTARA FOTO
zoom-in-whitePerbesar
Massa berpakaian garis biru-putih khas Argentina terus berdatangan dan memenuhi area sekitar pusat Manhattan. Foto: Aditya Pradana Putra/ANTARA FOTO

Peluit panjang wasit di MetLife Stadium, New Jersey, baru saja berbunyi. Angka 0-1 di papan skor sudah cukup untuk menjelaskan segalanya. Argentina kalah. Messi dan rekan-rekannya berdiri di lapangan, bukan sebagai juara dunia, melainkan sebagai runner-up yang tak sempat membuat satu tembakan pun ke gawang selama 90 menit penuh.

Namun, beberapa menit kemudian, dari akun X milik Presiden Javier Milei, sebuah pengumuman muncul: Argentina akan mendapat hari libur nasional. Bukan karena mereka juara. Bukan karena trofi ada di tangan. Tapi karena Milei menganggap pencapaian mereka tetap layak dirayakan oleh seluruh rakyat Argentina.

Dunia pun ikut menggelengkan kepala, bertanya-tanya: apa yang sedang dilakukan presiden itu?

Ketika Sepak Bola Bukan Sekadar Pertandingan.

Untuk memahami keputusan Milei, perlu dipahami lebih dulu hubungan antara Argentina dan sepak bolanya. Ini bukan urusan olahraga biasa. Sepak bola di Argentina adalah bahasa kolektif yang melampaui kelas sosial, afiliasi politik, bahkan generasi. Dari Maradona hingga Messi, dari kemenangan 1978 hingga 2022, trofi Piala Dunia selalu menjadi momen di mana Argentina merasa menjadi satu.

Penelitian akademis tentang sepak bola dan identitas nasional Argentina menunjukkan bahwa olahraga ini berfungsi sebagai arena ekspresi kolektif, terutama di tengah konteks sejarah yang penuh guncangan politik dan ekonomi. Keberhasilan tim nasional bukan sekadar peristiwa olahraga, melainkan tonggak solidaritas yang mempererat masyarakat yang sering kali terpecah.

Dalam konteks itulah keputusan Milei perlu dibaca. Ketika sebuah bangsa baru saja menyaksikan timnya kalah, dan kerusuhan pun sempat pecah di sekitar Obelisk Buenos Aires malam itu, seorang presiden perlu memberi kata-kata. Libur nasional adalah kata-kata itu, yang berbicara lebih keras dari pidato mana pun.

Paradoks Milei yang Menarik.

Ada ironi yang menarik di sini. Milei dikenal sebagai penganut libertarianisme keras yang sejak menjabat presiden kerap memangkas pengeluaran negara, menghapus subsidi, dan memperketat fiskal Argentina demi memperbaiki ekonomi yang bertahun-tahun babak belur. Ia bukan tipe pemimpin yang royal dengan gestur kenegaraan.

Namun di malam kekalahan itu, ia justru menggunakan instrumen negara, yaitu hari libur nasional, untuk merayakan sesuatu yang bukan kemenangan. Bahkan lebih jauh, ia menyerahkan penentuan tanggalnya kepada para pemain dan staf pelatih. Bukan kepada birokrasi. Bukan kepada pemerintah. Kepada para atlet yang baru saja pulang dengan tangan hampa.

Gestur ini membaca dua hal sekaligus: Milei paham betul apa yang dibutuhkan rakyatnya, dan ia cukup cerdas untuk tidak mencoba mendefinisikan sendiri kapan dan bagaimana perayaan itu harus terjadi.

Ketika Proses Menjadi Trofi.

Ada pergeseran nilai yang sedang ditawarkan Milei lewat keputusan ini, disadari atau tidak. Selama ini, definisi sukses dalam sepak bola selalu tunggal: juara atau bukan. Final Piala Dunia 2026 memperlihatkan Argentina yang bermain jauh di bawah ekspektasi, bahkan tercatat sebagai tim pertama dalam sejarah Piala Dunia yang tidak membuat satu tembakan pun ke gawang sepanjang 90 menit di partai final.

Namun Milei memilih untuk tidak berdiri di titik itu. Ia berdiri di titik yang lain: perjalanan Argentina sepanjang turnamen, kemampuan mereka menembus final untuk kedua kali berturut-turut, dan semangat yang tetap diperlihatkan meski akhirnya dikalahkan oleh tim yang pada hari itu tampil lebih baik.

Ini bukan tentang memberikan medali atas kekalahan. Ini tentang pengakuan bahwa kebanggaan kolektif tidak harus menunggu trofi untuk dinyalakan. Di negara yang pernah merasakan betapa rapuhnya kebanggaan nasional di tengah badai ekonomi dan politik, memilih untuk tetap merayakan bukan tanda kelemahan. Justru sebaliknya.

Sepak Bola sebagai Perekat, Bukan Sekadar Pertandingan.

Ada pelajaran yang lebih luas dari kejadian ini. Di era di mana polarisasi sosial-politik menjadi warna utama kehidupan berbangsa di banyak negara, termasuk Argentina, momen Piala Dunia adalah salah satu dari sedikit ruang di mana perbedaan itu bisa diredam sementara waktu.

Milei tahu bahwa hari libur nasional bukan hadiah atas kekalahan. Ia adalah undangan kepada seluruh rakyat Argentina untuk berdiri bersama, minimal satu hari, sebelum kembali ke rutinitas dan perdebatan sehari-hari. Undangan untuk mengingat bahwa ada hal yang menyatukan mereka: biru-putih yang berlari di lapangan hijau atas nama Argentina.

Juara Piala Dunia 2026 adalah Spanyol. Tapi Argentina pulang dengan sesuatu yang tidak kalah berharganya, yaitu pengakuan bahwa perjuangan mereka dilihat, dihargai, dan layak dirayakan. Bukan oleh dunia. Tapi oleh negaranya sendiri. Dan kadang, itu sudah lebih dari cukup.