Ketika Iran dan AS Bertengkar Soal Siapa yang Berkuasa di Hormuz

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhamad Rizky Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dua pernyataan resmi, satu selat yang sama, dua versi kenyataan yang bertolak belakang. IRGC mengumumkan Selat Hormuz resmi ditutup untuk semua lalu lintas kapal internasional hingga waktu yang belum ditentukan. Beberapa jam kemudian, Komando Pusat militer AS merilis pernyataan sebaliknya: Hormuz tetap terbuka, kapal-kapal dagang masih melintas seperti biasa, dan klaim Iran tidak berdasar.
Itulah yang terjadi di Selat Hormuz hari-hari ini. Bukan hanya pertempuran militer, melainkan juga pertempuran narasi. Dan dalam pertempuran seperti ini, yang paling merasakan dampaknya bukan pihak yang kalah argumen, melainkan jutaan orang di seluruh dunia yang bergantung pada minyak yang seharusnya melintas di sana.
Ketika Sebuah Kapal Menjadi Pemicu.
Penutupan terbaru ini bermula dari sebuah insiden yang terlihat kecil di atas kertas. IRGC mengumumkan Hormuz ditutup setelah sebuah kapal tanpa identitas yang jelas berupaya melintasi selat menggunakan jalur yang tidak diizinkan, dengan sistem identifikasi dimatikan. Kapal itu ditembaki peringatan dan dihentikan.
Tapi konteks di balik insiden itu jauh lebih besar dari sekadar satu kapal yang memilih jalur yang salah. Selama sepekan terakhir, AS telah melancarkan lebih dari 80 serangan ke target-target militer Iran sebagai respons atas serangan Iran terhadap kapal-kapal niaga. Trump secara terbuka menyatakan nota kesepahaman yang ditandatangani bulan lalu dengan Iran sudah berakhir. Dan IRGC membalas dengan menegaskan bahwa Hormuz akan tetap ditutup selama AS masih mencampuri urusan selat tersebut.
Dua Klaim, Satu Selat, dan Pasar yang Tidak Mau Menunggu.
Yang membuat situasi ini lebih rumit adalah bahwa kedua narasi itu tidak sepenuhnya bisa diabaikan. Memang ada kapal-kapal yang tetap melintas, sebagaimana diklaim AS. Tapi ada pula laporan kapal-kapal yang memilih berlabuh dan menunggu di Teluk Oman, tidak berani masuk ke selat. Ada kapal tanker China, Rich Starry, yang berhasil melewati Hormuz meski dalam kondisi yang digambarkan penuh ketegangan. Ada pula kapal LNG Qatar yang sudah terkena serangan drone sebelumnya.
Pasar tidak menunggu kepastian itu. Harga minyak mentah langsung melonjak lebih dari tiga persen begitu eskalasi terbaru ini mencuat. Rupiah hari ini melemah ke level 18.125 per dolar AS, dengan analis pasar menyebut tensi Timur Tengah sebagai pemicu utama. Indeks dolar AS menguat, dan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September naik dari 63 persen menjadi 69 persen karena pasar mulai memperhitungkan inflasi energi yang kembali mengancam.
Hormuz Bukan Sekadar Jalur Air.
Ada yang lebih dalam dari sekadar siapa yang benar dalam perang klaim ini. Selat Hormuz, yang lebarnya di titik tersempitnya hanya sekitar 33 kilometer, adalah tempat di mana sekitar 20 persen distribusi minyak dunia bergantung. Iran menguasai sisi utaranya, Oman dan Uni Emirat Arab di sisi selatan. Secara geografis, kendali Iran atas selat ini bukan klaim kosong.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Qalibaf menyatakannya dengan gamblang: Iran tidak akan pernah melepaskan haknya di Selat Hormuz, dalam kondisi apapun. Kalimat itu bukan retorika semata. Ini adalah posisi tawar yang sudah digunakan Teheran jauh sebelum perang pecah, dan yang kini semakin diperkuat oleh fakta geografis yang tidak bisa diubah oleh pernyataan resmi CENTCOM sekalipun.
Selat Hormuz hari ini bukan hanya tentang minyak yang mengalir atau tidak. Ini tentang siapa yang berhak menentukan apakah minyak itu boleh mengalir, dan ke mana dunia akan berpihak ketika dua kekuatan yang sama-sama mengklaim kebenaran berdiri di pintu yang sama.
