Ketika Penasihat IRGC Berbicara dan Dunia Mendengarkan dengan Serius

Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Muhamad Rizky Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ada yang berbeda dari pernyataan-pernyataan Iran yang biasanya penuh retorika. Dalam sebuah wawancara langka dengan PBS NewsHour yang ditayangkan Selasa 12 Agustus 2026, Brigadir Jenderal Mohammad Reza Naqdi berbicara bukan dengan nada mengancam yang sudah biasa terdengar dari Teheran, melainkan dengan nada yang jauh lebih dingin dan kalkulatif. Ia menyebut lima bulan perang dengan Amerika Serikat sebagai sebuah kelas yang tidak pernah Iran bayangkan akan mereka ikuti, dan hasilnya, menurut Naqdi, sangat mengejutkan.
Bukan karena Iran menang besar. Melainkan karena AS ternyata tidak sekuat yang selama ini mereka bayangkan. Kalimat itu, yang keluar dari mulut penasihat utama Panglima IRGC dalam wawancara dengan media internasional, bukan sekadar propaganda. Ia adalah sinyal strategis yang perlu dibaca dengan cermat oleh siapapun yang sedang memantau dinamika konflik ini.
Lima Bulan yang Mengajarkan Teheran Lebih Banyak dari Lima Dekade.
Naqdi mengakui satu hal yang jarang diakui oleh pejabat militer manapun: Iran tidak pernah benar-benar tahu bagaimana rasanya bertempur langsung dengan militer AS sebelum Februari 2026. Semua doktrin, semua analisis, semua kalkulasi Iran sebelumnya dibangun dari pengamatan jarak jauh terhadap operasi AS di Irak, Afghanistan, dan kawasan Teluk. Tidak ada pengalaman langsung.
Lima bulan terakhir mengubah itu sepenuhnya. Iran kini tahu pola serangan AS, keterbatasan logistik kapal induk yang beroperasi terlalu lama di satu kawasan, dan titik-titik di mana respons militer Washington membutuhkan waktu lebih lama dari yang diperkirakan. Kapal induk USS Abraham Lincoln sendiri dilaporkan sudah beroperasi selama 250 hari di kawasan konflik, sebuah durasi yang jauh melampaui batas normal dan mulai menunjukkan tanda-tanda tekanan internal, termasuk insiden bentrokan yang menewaskan tujuh personel AL AS di atas kapal tersebut.
Strategi yang Bukan Sekadar Bertahan.
Yang membuat pernyataan Naqdi lebih dari sekadar klaim kemenangan adalah bagian di mana ia menjelaskan logika strategis Iran ke depan. Ia menyebut perang yang lebih panjang justru menguntungkan Teheran karena dua alasan: pertama, setiap hari yang berlalu menambah pengalaman tempur Iran dan menguras sumber daya AS. Kedua, dan ini yang lebih mengejutkan, ia menyebut kemungkinan Iran kehabisan rudal justru akan membuat negara itu semakin berbahaya, bukan semakin lemah.
Logikanya sederhana: jika rudal habis, Iran akan beralih ke target-target ekonomi AS di seluruh dunia. Naqdi menyebutnya secara eksplisit, ribuan kepentingan ekonomi Amerika yang tersebar di berbagai penjuru dunia, semuanya bisa menjadi sasaran tanpa perlu satu pun rudal balistik. Ini bukan ancaman baru dalam konteks konflik asimetris, tapi menyebutnya secara terbuka dalam wawancara dengan media internasional adalah langkah yang disengaja.
Trump di sisi lain menegaskan AS berada dalam kendali penuh atas Selat Hormuz. Teheran membantah klaim itu dan menegaskan blokade masih berlaku. Pakistan yang menjadi mediator mengumumkan perpanjangan gencatan senjata, tapi Iran membantah klaim tersebut juga. Perundingan damai yang seharusnya menghasilkan kesepakatan permanen sebelum pertengahan Agustus kini menghadapi kebuntuan dari berbagai arah.
Ketika Kelemahan Diakui, Bukan Disembunyikan.
Ada hal yang menarik dari cara Naqdi menyampaikan pernyataannya. Ia tidak menghindari pertanyaan soal apakah Iran sudah memenangkan perang, melainkan menjawabnya dengan jujur: belum, tapi mereka sedang dalam jalur yang benar. Ia tidak mengklaim kemampuan yang tidak dimiliki Iran, melainkan menjelaskan strategi jangka panjang dengan logika yang bisa diverifikasi.
Itulah yang membuat pernyataan ini terasa berbeda dari propaganda biasa. Ketika sebuah negara yang sedang berperang memilih berbicara jujur tentang apa yang sudah dipelajari dan apa yang masih belum dicapai, itu biasanya berarti mereka cukup percaya diri dengan posisi mereka untuk tidak perlu berpura-pura. Dan jika Iran benar-benar sudah belajar sebanyak yang diklaim Naqdi dalam lima bulan terakhir, maka babak berikutnya dari konflik ini akan jauh lebih kompleks dari yang sudah kita saksikan sejauh ini.
