Konten dari Pengguna

Real Madrid Menang, Inter Lebih Dominan: Malam yang Membingungkan di Bernabeu

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhamad Rizky Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi oleh AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi oleh AI

Ada momen di babak kedua laga Real Madrid versus Inter Milan tadi malam yang merangkum betapa tipis batas antara kemenangan dan kekalahan di sepak bola tingkat ini. Inter mendominasi penguasaan bola dengan 59 persen, melepaskan 15 tembakan termasuk delapan yang mengarah ke gawang, dan dalam satu periode babak kedua hampir terlihat seperti tim yang akan membalik keadaan. Carlos Augusto akhirnya berhasil memperkecil jarak menjadi 2-1 di menit ke-77, dan pertandingan tiba-tiba terasa jauh lebih panjang dari sisa 13 menit yang tersisa.

Tapi dua gol Madrid di babak pertama ternyata cukup bertahan. Real Madrid menang 2-1 atas Inter, Jose Mourinho meraih kemenangan di Liga Champions atas mantan klubnya sendiri, dan Kylian Mbappe menambah satu nama legenda dalam daftar rekor yang sudah panjang kariernya.

Dua Gol dari Kesalahan Inter Sendiri.

Yang menarik dari kemenangan Madrid malam itu bukan dominasi mereka, karena secara statistik Inter yang lebih dominan. Melainkan betapa efektifnya Madrid memanfaatkan dua kesalahan besar Inter di babak pertama yang keduanya berbuah gol.

Mbappe membuka keunggulan di menit ke-14 setelah mengeksploitasi kelemahan posisi kiper Inter, Yann Sommer, yang keluar terlalu jauh dari garisnya. Sembilan menit kemudian, Federico Valverde menggandakan keunggulan setelah pertahanan Inter terbuka dalam situasi yang sebenarnya bisa diantisipasi. Dua gol, dua kesalahan, dua hadiah yang tidak akan diberikan Inter jika mereka bermain lebih tenang di babak pertama.

Mbappe Sejajarkan Raul, Mourinho Senyum ke Arah Milan.

Gol Mbappe malam itu adalah golnya yang ke-71 di Liga Champions sepanjang karier, menyejajarkannya dengan Raul sebagai pencetak gol terbanyak kelima dalam sejarah kompetisi ini. Ini bukan sekadar angka statistik. Raul adalah salah satu simbol terbesar Real Madrid, dan menyamai rekornya di Santiago Bernabeu pada malam pertama Liga Champions musim baru adalah momen yang tidak akan dilupakan Mbappe maupun pendukung yang menyaksikannya.

Tapi mungkin narasi yang paling menarik malam itu datang dari pinggir lapangan. Jose Mourinho, yang pada 2010 membawa Inter Milan meraih treble bersejarah termasuk gelar Liga Champions, malam itu duduk di bangku pelatih sebagai lawan mantan klubnya. Ia tidak banyak berkomentar soal aspek sentimental itu sebelum laga, memilih fokus pada taktik. Dan ketika peluit panjang berbunyi dengan skor 2-1 untuk Madrid, senyum kecil yang ia tampilkan sudah cukup berbicara.

Inter yang Sebenarnya Layak Mendapat Pujian.

Ada hal yang tidak boleh luput dari cerita malam ini: Inter bermain dengan sangat baik. Seandainya mereka tidak melakukan dua kesalahan fatal di babak pertama, laga ini bisa berakhir sangat berbeda. Lautaro Martinez aktif, Thuram berbahaya, dan secara keseluruhan xG Inter yang tercatat 1,78 dibandingkan Madrid yang 2,91 menunjukkan bahwa dominasi Madrid lebih banyak lahir dari kesalahan Inter daripada dari keunggulan taktis yang nyata.

Pelatih Inter Cristian Chivu mengakui timnya sudah tidak bermain buruk, tapi menegaskan dua kesalahan di babak pertama itulah yang menentukan segalanya. Pandangan yang jujur, dan yang membuat Inter masih layak dianggap sebagai kandidat serius di Liga Champions musim ini meski memulai dengan kekalahan. Bagi Madrid dan Mourinho, tiga poin sempurna adalah modal terbaik memulai perjalanan menuju gelar Liga Champions ke-16. Tapi mereka juga tahu bahwa jika bermain seperti babak kedua tadi malam, perjalanan itu masih akan panjang dan tidak mudah.