Konten dari Pengguna

Sinetron Kejar Tayang: Rating Anjlok karena Elemen Kunci Diabaikan

Muhamad Rizky Saputra

Muhamad Rizky Saputra

Undergraduate Communication Student at Pamulang University

·waktu baca 7 menit

clock
google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhamad Rizky Saputra tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi oleh AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi oleh AI

SCTV merayakan ulang tahunnya yang ke-36 pada Agustus 2026 dengan menghadirkan dua sinetron baru sekaligus: Seindah Masa Remaja yang tayang pukul 18.50 WIB dan Biarkan Hati Bicara yang tayang pukul 21.35 WIB, keduanya mulai 29 Juli 2026. Keduanya dirancang untuk menggantikan Lautan Cinta dan Sebening Cinta yang dihentikan lebih awal karena tidak mampu bertahan di papan atas rating.

Di hari pertama, Seindah Masa Remaja mencatatkan gebrakan menjanjikan dengan masuk tiga besar dan sempat menggeser Terikat Janji RCTI yang selama ini mendominasi. Tapi di hari kedua, sinetron itu turun ke posisi kelima. Hari ketiga, turun lagi ke posisi keenam. Biarkan Hati Bicara bahkan tidak masuk 10 besar pada episode perdananya, tertahan di posisi ke-11.

Penonton yang mengamati perjalanan rating kedua sinetron ini langsung khawatir nasibnya akan berakhir seperti Lautan Cinta dan Sebening Cinta, dua sinetron sebelumnya yang juga harus dipensiunkan lebih cepat dari jadwal. Ini bukan kali pertama SCTV menghadapi pola yang sama. Dan selama akar masalahnya tidak dibenahi, pola itu akan terus berulang.

Masalah Pertama: Konflik yang Tidak Cukup Kuat Menahan Penonton.

Zettl (2014) menyatakan bahwa konflik adalah jantung dari drama, karena konflik menciptakan ketegangan dinamis yang membuat penonton tidak bisa berpaling. Ini adalah elemen kunci pertama dalam programming: conflict.

Biarkan Hati Bicara mengangkat konflik antara dua saudara tiri, di mana Fico memendam kebencian mendalam terhadap Reno karena merasa ibu kandung Reno telah mengambil alih segalanya setelah ibunya meninggal. Konflik kemudian semakin rumit ketika Fico bertemu dengan Arina yang sangat mirip dengan wanita yang diyakininya sebagai pembunuh sang ibu. Di atas kertas, premis ini cukup kuat. Tapi kekuatan premis tidak otomatis menjadi kekuatan eksekusi.

Masalahnya terletak pada cara konflik dibangun. Sinetron kejar tayang Indonesia terkenal dengan kecenderungan memperpanjang konflik secara artifisial, mengulur-ulur penyelesaian, dan menambahkan karakter atau masalah baru yang tidak organik hanya untuk menjaga episode terus berjalan. Akibatnya, konflik yang awalnya terasa segar berubah menjadi marathon yang melelahkan bagi penonton. Ketegangan dinamis yang seharusnya menahan penonton justru digantikan oleh rasa bosan yang perlahan mengikis rating.

Masalah Kedua: Inkonsistensi yang Membunuh Kepercayaan Penonton.

Elemen kunci kedua yang paling terlihat bermasalah di SCTV adalah consistency. Elemen kunci programming menegaskan bahwa program tidak bisa menyenangkan semua orang, tetapi menjaga konsistensi dalam tema, karakter, dan tujuan program sama dengan menjaga ekspektasi penonton agar tetap tertarik dan tidak bingung. Inkonsistensi berdampak langsung pada penurunan rating dan hilangnya kepercayaan penonton.

Kasus Asmara Gen Z New Era menjadi contoh yang paling nyata di SCTV: setelah rating merosot, produksi memutuskan merombak beberapa pemain dan mengubah latar syuting secara menyeluruh, namun langkah tersebut justru membuat rating semakin anjlok. Perombakan mendadak seperti ini adalah pelanggaran langsung terhadap prinsip konsistensi. Penonton yang sudah membangun keterikatan dengan karakter dan dunia cerita tertentu merasa dikhianati ketika elemen-elemen itu berubah tanpa penjelasan yang memuaskan secara naratif.

Pola yang sama berulang dengan Lautan Cinta dan Sebening Cinta yang dihentikan sebelum waktunya, lalu digantikan oleh Seindah Masa Remaja dan Biarkan Hati Bicara. Kebijakan tegas SCTV untuk menghentikan program dengan performa rendah memang rasional dari sisi bisnis, tetapi jika diterapkan terlalu cepat tanpa memberi waktu yang cukup bagi sebuah program untuk membangun basis penonton, kebijakan itu sendiri menjadi faktor yang merusak konsistensi jadwal siaran secara keseluruhan.

Masalah Ketiga: Durabilitas yang Dikorbankan demi Kecepatan.

Durability atau daya tahan adalah elemen kunci ketiga yang menjelaskan mengapa sebuah program bisa bertahan lama dan bahkan berkembang menjadi franchise.

SCTV menghadapi masalah sebaliknya. Sistem kejar tayang yang memproduksi sinetron setiap hari tanpa jeda riset dan pengembangan cerita yang memadai menghasilkan program yang tidak punya fondasi narasi yang cukup kuat untuk bertahan. Ketika rating turun di minggu pertama, pilihan yang tersedia hanya dua: perombakan drastis yang merusak konsistensi, atau penghentian program yang mengakhiri durabilitas sebelum sempat diuji.

Fakta bahwa Lautan Cinta dan Sebening Cinta harus digantikan hanya karena tidak mampu bersaing di papan atas rating dalam waktu singkat mencerminkan betapa tipisnya margin toleransi SCTV terhadap program yang sedang dalam proses membangun basis penonton. Padahal, durabilitas yang sesungguhnya justru dibangun di fase itulah, bukan di pekan pertama tayangan.

Masalah Keempat: Timing dan Kesadaran Tren yang Terlambat.

Elemen timing dalam programming mengacu pada kemampuan memilih waktu yang tepat, baik dari sisi jadwal tayang maupun dari sisi konteks tren yang sedang berkembang di masyarakat. Trend awareness melengkapinya dengan kemampuan membaca pergeseran selera penonton dan meresponsnya sebelum terlambat.

Seindah Masa Remaja diposisikan sebagai sinetron drama remaja yang mengangkat kehidupan SMA dengan tema persahabatan, cinta pertama, dan dinamika remaja. Tema ini memiliki rekam jejak yang panjang dan terbukti disukai penonton. Masalahnya, persaingan di segmen yang sama sangat ketat karena hampir semua stasiun televisi menayangkan formula yang serupa. Tanpa diferensiasi yang cukup kuat, Seindah Masa Remaja tidak memiliki alasan spesifik untuk dipilih penonton di atas sinetron remaja lain yang sudah memiliki basis penonton lebih mapan.

Di sisi lain, kesadaran tren di industri sinetron Indonesia masih bergerak lamban. Sementara platform streaming seperti Netflix dan Vidio mulai menghadirkan konten orisinal Indonesia dengan kualitas produksi yang jauh lebih tinggi dan narasi yang lebih berani, sinetron kejar tayang masih bertahan dengan formula yang nyaris tidak berubah sejak satu dekade lalu. Penonton, terutama segmen muda, kini punya pilihan yang jauh lebih banyak dari sebelumnya.

Masalah Kelima: Likeability dan Crossover yang Tidak Direncanakan.

Likeability adalah elemen kunci yang menjelaskan mengapa wajah-wajah familiar cenderung lebih berhasil menarik penonton, meski karakter yang tidak ramah sekalipun bisa disukai jika dibangun dengan tepat. Getting crossover viewers melengkapinya dengan prinsip bahwa program yang sukses tidak hanya menarik target penonton utamanya, tetapi juga mampu menarik kelompok di luar target tersebut.

SCTV memasang Biarkan Hati Bicara dengan harapan kehadiran Rangga Azof dan Febby Rastanty bisa menghadirkan performa rating yang lebih menjanjikan dibanding sinetron sebelumnya. Pendekatan ini mengandalkan likeability pemain sebagai kekuatan utama. Ini sah, tapi tidak cukup jika tidak didukung oleh cerita yang memberi ruang kepada karakter-karakter tersebut untuk benar-benar bersinar.

Lebih jauh lagi, tidak ada strategi yang terlihat jelas untuk menarik penonton lintas segmen. Seindah Masa Remaja menarget remaja, Biarkan Hati Bicara menarget penonton dewasa yang menyukai drama keluarga. Keduanya bermain di zona nyaman masing-masing tanpa upaya menjangkau segmen yang lebih luas. Padahal, seperti yang ditunjukkan oleh contoh Sex and the City dalam modul, sebuah program bisa menarik 40 persen penonton dari luar target utamanya jika ceritanya cukup kuat dan universal.

Solusi: Membangun dari Elemen, Bukan dari Tergesa-gesa.

Permasalahan SCTV bukan tentang kekurangan pemain berbakat atau kurangnya anggaran produksi. Masalahnya adalah sistemik dan berkaitan langsung dengan abainya industri terhadap elemen-elemen kunci yang seharusnya menjadi fondasi setiap program.

Pertama, sistem kejar tayang perlu dievaluasi secara serius. Produksi harian tanpa ruang pengembangan cerita yang memadai adalah musuh terbesar durabilitas. Program yang diberi waktu untuk merancang konflik secara organik, membangun konsistensi karakter, dan menentukan timing tayang yang tepat memiliki peluang jauh lebih besar untuk bertahan dibanding program yang langsung diproduksi massal sejak episode pertama.

Kedua, kebijakan penghentian program yang terlalu cepat perlu ditinjau ulang. Memberi program setidaknya empat hingga enam pekan waktu untuk membangun basis penonton sebelum keputusan penghentian diambil adalah praktik yang lebih sehat secara industri. Inkonsistensi jadwal akibat pergantian program yang terlalu sering justru merugikan kepercayaan penonton terhadap stasiun secara keseluruhan.

Ketiga, kesadaran tren harus menjadi proses yang berlangsung sebelum produksi dimulai, bukan setelah rating turun. Riset penonton, pemahaman terhadap pergeseran selera, dan keberanian untuk mencoba formula baru adalah investasi yang nilainya jauh melampaui biaya perombakan pemain mendadak di tengah jalan.

SCTV memiliki warisan panjang sebagai salah satu stasiun televisi paling berpengaruh di Indonesia. Tapi warisan itu tidak bisa hidup hanya dari inersia. Dua sinetron baru yang langsung menghadapi ketidakstabilan rating di pekan pertama bukan sekadar masalah konten, melainkan cermin dari industri yang sudah terlalu lama mengabaikan elemen-elemen kunci yang justru menjadi penentu keberhasilan sebuah program. Konflik yang kuat, konsistensi yang dijaga, durabilitas yang direncanakan, timing yang tepat, dan strategi lintas segmen yang disengaja bukan pilihan opsional dalam programming modern. Mereka adalah prasyarat, dan tanpanya, pola rating anjlok di hari kedua akan terus berulang, tidak peduli seberapa terkenal pemain yang dipasang di episode pertama.