Konten dari Pengguna

Di Balik Kemudahan Keuangan Digital, Ada Risiko yang Perlu Dipahami Mahasiswa

Muhamad Ropiki

Muhamad Ropiki

Seorang mahasiswa Universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Muhamad Ropiki tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Perkembangan teknologi membuat aktivitas keuangan semakin mudah dilakukan. Membayar makanan, berbelanja, mengirim uang, hingga melakukan investasi kini dapat dilakukan hanya melalui ponsel. Namun, kemudahan tersebut juga membawa risiko yang perlu dipahami, terutama oleh generasi muda.

Hal tersebut menjadi salah satu perhatian dalam Kuliah Umum dan Talkshow Literasi Keuangan Indonesia Terdepan (LIKE IT) yang digelar di Auditorium Darsono, Universitas Pamulang (Unpam), pada 23 September 2026. Kegiatan tersebut mengangkat tema “Cerdas dan Bijak Mengelola Keuangan di Era Digital” dan diikuti sekitar 3.500 mahasiswa.

Penulis saat mengikuti Kuliah Umum dan Talkshow LIKE IT
zoom-in-whitePerbesar
Penulis saat mengikuti Kuliah Umum dan Talkshow LIKE IT

Kegiatan ini menghadirkan Herman Saheruddin, Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sektor Keuangan Kementerian Keuangan, sebagai salah satu narasumber. Dalam penyampaiannya, Herman menekankan bahwa perkembangan teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk mempermudah aktivitas keuangan, tetapi keputusan finansial tetap berada di tangan penggunanya.

Pesan tersebut menjadi relevan bagi mahasiswa yang semakin dekat dengan berbagai layanan keuangan digital. Saat ini, seseorang dapat dengan mudah menggunakan e-wallet, mobile banking, paylater, maupun mengakses berbagai produk investasi. Kemudahan dalam mengakses layanan tersebut membuat kemampuan memahami risiko dan mengambil keputusan menjadi semakin penting.

Literasi keuangan juga tidak hanya berkaitan dengan kemampuan mengetahui istilah-istilah ekonomi. Dalam kegiatan tersebut, literasi keuangan ditekankan sebagai kemampuan untuk memahami informasi, mempertimbangkan pilihan, dan mengambil keputusan secara bijak. Dengan begitu, seseorang tidak hanya tahu cara menggunakan produk keuangan, tetapi juga memahami konsekuensi dari penggunaannya.

Bagi mahasiswa, persoalan tersebut dapat ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Kemudahan transaksi digital dapat membantu memenuhi kebutuhan dengan cepat, tetapi juga dapat membuat pengeluaran menjadi kurang terkontrol. Tawaran pinjaman online ilegal, investasi bodong, serta berbagai bentuk kejahatan finansial digital juga menjadi risiko yang perlu diwaspadai. Dalam kegiatan LIKE IT, isu tersebut turut menjadi bagian dari edukasi yang diberikan kepada mahasiswa.

Selain Herman Saheruddin, sesi talkshow menghadirkan perwakilan dari sejumlah lembaga sektor keuangan, yaitu Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Pembahasan mencakup perlindungan finansial, investasi, literasi keuangan, hingga keamanan simpanan masyarakat.

Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa literasi keuangan di era digital bukan hanya tentang memiliki rekening, e-wallet, atau investasi. Lebih dari itu, mahasiswa perlu memahami bagaimana menggunakannya sesuai kebutuhan, mengenali risiko, serta tidak mudah mengambil keputusan hanya karena adanya kemudahan atau tawaran yang muncul di platform digital.

Pada akhirnya, teknologi memang dapat membuat aktivitas keuangan menjadi lebih praktis. Namun, kemudahan tersebut tetap membutuhkan pengetahuan dan pertimbangan dari penggunanya. Semakin mudah sebuah transaksi dilakukan, semakin penting pula bagi mahasiswa untuk memahami sebelum mengambil keputusan keuangan.